Menistakan Agama
Akhir-akhir ini muak betul rasanya semua media diisi oleh serangkaian kasus Ahok beserta reaksi demo dari kalangan mayoritas negeri ini yang merasa tersakiti. Tak hanya di media visual, di media sosial (facebook, twitter) pun ramai sekali. Terlalu bising rasanya harus dijejali dengan konten-konten berbau agama, politik dan kekuasaan. Bahkan gejala itu juga merambah ke masyarakat akar rumput. Akun-akun teman saya misalnya, yang biasanya membahas permasalahan hidup yang sederhana mendadak berubah membombardir time line dengan berbagai macam sudut pandang baik yang pro maupun yang kontra. Brengsek betul hidup ini rasanya, suasana yang aman dan tenang mendadak disulap menjadi kekisruhan antar manusia, saling serang argumen dan dalil. Menyedihkan! Lantas, pandangan saya terhadap masalah ini sebenarnya biasa-biasa saja. Sebagai pemimpin Ahok tidak pantas rasanya membahas masalah agama lain. Kalau bahasa jawanya ora pantes, ora sopan, ora tepak. Namun sikap saya hanya sebatas itu selebihnya saya memilih untuk memaafkan, saya tidak tersakiti sebagaimana teman-teman muslim lainnya. Mau bilang saya tidak membela islam? Tidak membela Al-quran? Ya.. monggo kerso. Karena saya sudah terlanjur meyakini Tuhan-Kanjeng Nabi-Alquran-Islam takkan berkurang atau terhina sedikit pun oleh perkataaan-perkataan manusia. Lagipula, pernyataan itu diucapkan oleh orang yang tidak punya kapasitas keilmuan tentang agama islam. Pertanyaannya, mengapa saya harus marah? Kebodohan dan ketidaktahuan tak layak untuk dihujat dan dimarahi. Namun apa boleh buat, ternyata banyak dari saudara-saudara kita yang memilih jalan lain. Memilih untuk mengutuk, menghujat ataupun lewat aksi aksi yang heorik. Saudara kita memilih bersatu dilandasi kebencian pada seseorang daripada berkumpul dalam nuansa, luapan, lantunan serta letupan cinta pada Allah dan Kanjeng Nabi. Ini pukulan telak pertama yang saya dapat ketika melihat potret nyata kaum mayoritas negeri ini. Kejadian berikutnya semakin merenggut kesedihan saya. Sebuah aksi bom di Samarinda yang merenggut nyawa anak kecil dan saudara kita lainnya. Begitu biadab rasanya, berjihad di negara yang majemuk dan damai seperti ini. Inilah yang benar-benar mengganggu saya. Kita masih bisa beribadah dengan tenang karena kita bagian dari mayoritas, namun nasib saudara kita yang minoritas? Untuk beribadah saja nyawa taruhannya. Ini lah yang sebenar-benarnya penistaan agama. Agama ini tak akan ternista oleh ummat lain, melainkan dinistai oleh penganutnya sendiri yang terlalu radikal. Menghilangkan nyawa atas dasar kebencian bukanlah ajaran agama. Islam gagal menjadi agama rahmatan lil alamin jika ummatnya masih ada yang menghalalkan pertumpahan darah tanpa disertai alasan yang masuk akal (membela diri karena dijajah atau diserang dalam peperangan). Kita layak menangisi kematian korban pemboman dan menangisi kematian nurani. Bukankah jika memang mereka bukan saudara seakidah tapi masih saudara kita sebagai antar manusia? Mari kita renungkan lagi siapakah sebenarnya yang benar-benar menistakan agama ini? Orang yang mengeluarkan pernyataan yang tidak pantas karena ketidaktahuannya akan ajaran islam? Ataukah mereka-mereka yang tidak memahami ayat secara komprehensif sehingga dengan mudah menghilangkan nyawa manusia? Harusnya segenap lapisan masyarakat tergerak hatinya. Tidak lagi menyebut ini sebagai pengalihan isu. Seharusnya MUI mengeluarkan fatwa menghilangkan nyawa dengan cara bom bunuh diri itu haram. Seharusnya barisan demo bersorban dan bergamis putih kita ulang lagi untuk menentang terorisme. Seharusnya kita bergandengan tangan untuk membangun peradaban negara yang lebih baik. Dan yang terakhir, seharusnya saya tak perlu menulis ini jika masih tertanam cinta di hati mu.







