Sholawat Tarhim
Di masjid sini (belakang mess) menjelang adzan maghrib dan subuh selalu diputar sholawat tarhim melalui recorder.
Pada titik ini, pada setiap kesempatan saya selalu teringat Mbah Nun. Dalam sebuah uraiannya pada forum maiyah, Beliau dengan sangat apik menceritakan sejarahnya bagaimana sholawat ini bisa populer di Indonesia. Kemudian Mbah Nun melantunkannya dengan sangat baik dan tentu saja menggetarkan. Ada semacam rasa haru tatkala mendengarnya. Sama persis seperti rasa haru yang tercipta tatkala sholawat tarhim menggema di langgar-langgar ataupun masjid-masjid di pelosok desa menjelang subuh tiba. Duh Gusti Allah, duh Kanjeng Nabi. 🙇 Kalau boleh saya intisarikan pemaparan Mbah Nun kurang lebih seperti ini :
Pada sholawat tarhim, ada sebuah bait yang mengilustrasikan dimana semua makhluk langit bersiap makmum di belakang Kanjeng Nabi. Tangis mana yang tidak pecah, keharuan macam apa yang tidak membuncah? Duh Kanjeng Nabi, betapa bahagianya kami jika suatu saat nanti diperkenankan menjadi makmummu. Berada di shof paling belakang pun kami rela. Sak estu, kami rela. Sebanyak apapun harta dan materi yang engkau punya itu tidak akan ada artinya jika dibandingkan dengan kebahagiaan menjadi makmum Rasulullah. Jangan gampang silau dengan materi, jangan bangga dengan segala pencapaian dunia, itu semua tidak ada artinya sama sekali jika dibandingkan dengan engkau semua diberi kesempatan bisa berada dalam shof yang diimami langsung oleh Kekasih Allah, junjungan seluruh alam. Kurang lebih begitu yang disampaikan Mbah Nun.
Duh Kanjeng Nabi, terlalu banyak hutang kasih kami pada Panjenengan. Jika Gusti Allah dan seluruh makhluk bersholawat padamu, lantas apa yang bisa kami lakukan selain ikut memujamu? Terlalu jauh jarak kami denganmu, kami hanya mengenal Panjenengan lewat apa yang diceritakan oleh para pendahulu kami. Namun, ijinkan kami selalu menumpahkan cinta dan kasih lewat lantunan Sholawat atasmu. Cinta kami sederhana, rindu kami biasa saja. Namun dengan cinta dan rindu yang teramat picisan ini, semoga bisa membuatmu tersenyum di hari persaksian nanti, bahwa beribu ribu tahun sejak kepergianmu masih banyak umatmu yang melantunkan sholawat cinta atasmu.
Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad.. 🙇🙇🙇














