Karena orang yang mencintai Rasulullah tidak akan pernah ribut dengan orang yang sama-sama juga mencintai Rasulullah.
seen from India
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from South Korea
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Singapore

seen from United States

seen from Türkiye
seen from South Korea

seen from United States
seen from United States
seen from Australia
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from India
Karena orang yang mencintai Rasulullah tidak akan pernah ribut dengan orang yang sama-sama juga mencintai Rasulullah.
Meraih Puncak Kesabaran
(merespon pemberitaan ustadz radikalis)
Bicara Tentang sabar, selama ini yang masyhur dan kita ketahui sebagai sosok yang paling sabar itu adalah Nabi Ayub as. kendati ditimpa penyakit serta musibah yang amat besar, beliau enggan mengeluh dan malu untuk meminta sembuh karena menganggap karunia tuhanNya sebelum ujian tersebut menimpanya jauh lebih besar.
Tapi tahukan teman2. Ternyata beliau bukanlah orang paling sabar di dunia ini. Ada teladan lain yang lebih sabar dari Nabi Ayub, yaitu para nabi yang Allah teguhkan kedudukannya sebagai ulul azmi (Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad) atau penghulu para Nabi.
Mengapa sabar mereka lebih utama dari sabarnya Nabi Ayub?
Sebab mereka sabar dalam berdakwah. Dan Kata Rasul puncak dari kesabaran adalah sabar terhadap ujian dakwah. Bayangkan apa yang akan terjadi bila setelah dilukai, dihujat, difitnah di caci maki, diboikot para Rasul tersebut berhenti berdakwah. Mungkin nikmat Iman dan Islam itu tidak akan sampai ke tangan kita hari ini.
Mungkin kesyirikan, dan kebiasaan jahiliyah makin merajalela saat ini. Maka Bayangkan bila hari ini kita dan org2 di bumi semua berhenti mengajak amar maruf atau membiarkan kemungkaran? Itulah kenapa orang yang mampu bersabar dalam dakwah sangat utama.
Seperti yang sedang terjadi pada guru2 kita sekarang , pada ulama yang di cap radikal. Mereka sedang ditimpa ujian dakwah.
Tapi demikianlah sunatullah sejak zaman para rasul, Dakwah kebenaran akan dituduh dan difitnah sebagai pemecah belah kebenaran karena dulu islam datang dlm keadaan asing dan mungkin kini akan kembali asing
Saya tidak mengerti, bahkan berulangkali sy baca, dan tonton berita dari berbagai chanel yang berbeda. Tetap saja alasan mereka yang melabeli para ulama radikal memang ga masuk akal.
Dilihat dari sudut padang manapun, saya tidak menemukan radikalnya...
Selain karena mereka selalu menyampaikan dakwahnya dengan dalil, mengajarkan islam sesuai sunnah tapi juga tak mengkultuskan sesat apa yang berbeda dengan mereka , terus yang namanya dalil itu kan dari Allah dari Rasul. Berarti yang mereka tentang sebenarnya adalah ajaran Allah dan Rasulnya.
Selama sy ikuti kajian ustad2 tersebut, ga pernah sama sekali ilmu yg mereka berikan membuat sy jd intoleran, jd membenci perbedaan, sebaliknya berkat kajian2 yg mereka sampaikan itu memperbaiki hidup saya secara pribadi maupun secara sosial.
Sy yakin pemberitaan yang beredar sekarang tentang ustadz2 radikal tidak merubah apa2 bagi yang hatinya sudah berpegang teguh pada sunnah. Tapi sy mengkhawatirkan saudara2 saya seiman yg masih mungkin goyah. Bisa jadi karena belum sampainya ilmu, sehingga keyakinan menjadi lemah, ataupun sederet alasan lain seerti kesulitan ekonomi dan permasalahan sosial yg membuat masyarakat kita mudah sekali dicuci otaknya.
Jadi disini sy cuma mengingatkan rekan2 sesama muslim agar jangan mudah terprovokasi , tabayyun jangan ingin dipecah belah oleh pemberitaan yang tanpa bukti dan tidak berdasar. Ingatlah musuh umat sebenarnya bukan orang2 kafir, tetapi orang2 munafik (mereka mengaku islam tapi juga menghancurkan islam)... Rasulullah tak pernah memerangi suatu kaum karena ia kafir (berbeda keyakinan), tetapi karena mereka munafik dan dzhalim dalam artian menentang dan menghalang2i jalan Allah (kebenaran)
Dan orang2 munafik agamanya berada di pinggiran . Mereka memilih2 syariat sebagaimana orang yahudi, menerima ketika syariat itu menguntungkannya. Dan berbalik arah meninggalkan agamnya, menghujat dan kembali pada kekufuran apabila agama tersebut dinilai merugikannya. Terutama apabila agama dihadapkan pada benturan budaya, tradisi, kebiasaan dan kepentingan dunia.
"Apakah kamu beriman kepada sebagian syariat (Al-Kitab) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian di antaramu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (al-Baqarah: 85)
Orang2 munafik rugi dunia akhirat
Sebab dia tak mendapat apapun di dunia, sedangkn di akhirat dia mendapat kehinaan puncak dan itulah sebenar2nya kerugian yg nyata., ''Sesungguhnya orang-orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.'' (QS An-Nisa [4]: 145).
Simak juga ayat-ayat berikut.
'Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi (tidak dengan penuh keyakinan), jika ia memperoleh kebajikan tetaplah ia dalam keadaan itu (keimanan) dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana berbaliklah ia kebelakang (menjadi kafir lagi). Rugilah ia di dunia dan di akhirat, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.'' (QS Al-Hajj [22]:11).
"(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata, Mereka itu (orang mukmin) ditipu agamanya. (Allah berfirman), Barang siapa bertawakal kepada Allah, ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana." (QS. Al-Anfal 8: Ayat 49)
"Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; namun mereka bukanlah dari golonganmu, tetapi mereka orang-orang yang sangat takut (kepadamu)." (QS. At-Taubah 9: Ayat 56)
Sesungguhnya dalam hati mereka, kamu (Muslimin) lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu karena mereka orang-orang yang tidak mengerti."
(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 13)
"Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang yang beriman), untuk kekafiran, dan untuk memecah belah di antara orang-orang yang beriman, serta untuk menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka dengan pasti bersumpah, Kami hanya menghendaki kebaikan. Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu pendusta (dalam sumpahnya)." (QS. At-Taubah 9: Ayat 107)
Saudaraku cukup pengingat mengenai orang munafik tidak perlu kita menghakimi mereka, serahkan fitnah dan kedhaliman yang mereka lakukan kepada Allah dan Allahlah se adil-adilnya hakim, cukup menjadi pelajaran semoga kita bukan termasuk golongan mereka. Sebaliknya Orang beriman ketika diuji maka semakin bertambah kuat imannya. Dan disaat para ulama kita sedang berjuang menghadapi ujian tersebut , mari kita sertai perjuangan mereka dgn doa, jangan tinggalkan kajian, tetap rapatkan barisan dalam dakwah ahlusunnah. Mari saudaraku berjuanglah untuk kebaikan dan kebenaran sesulit dan sepahit apapun.Bersatulah dalam jamaah,sebenci dan sekecewa apapun. Karena berjamaah lebih baik daripada sendirian. Sampaikan dakwah setiap saat agar saudara kita merasa memiliki dn dimiliki. Jangan tinggalkan yang dibelakangmu, tunggulah dgn kesabaran dan keikhlasan. Saudaraku memang tak mudah bertahan di jalan dakwah, maka berbahagialah Allah masih berikan kesempatan untuk kita menapaki jalan ini. Karena hakikatnya bukan dakwah yang memerlukan kita. Tapi kitalah yang memerlukan dakwah.Semoga Allah memberikan keistiqomahan pada kita di jalan ini sampai kelak Dia benar2 mengizinkan kita menapaki surgaNya. Aamiin
Radikalisme.
Revolusi industri 4.0 di depan mata. Setiap bangsa, negara berlomba menjadi yang terdepan dalam hal kemajuan teknologi. Terjadi persaingan ketat dan keras, bahkan cenderung kasar. Media jadi senjata utama, bukan untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa, justru sebaliknya menjadi media pembodohan bagi masyarakat. Terjadi banyak degradasi makna dari sebuah kata, karena di zaman sekarang manusia meng-halalkan segala cara untuk kepentingan masing-masing.
Ustadz A radikal katanya, karena berkhutbah tentang jihad fi sabilillah. Aktivis itu radikal katanya, karena menyuarakan aspirasi dengan kritik keras. Padahal, kita tidak memahami apa itu arti radikalisme yang sebenarnya. Radikal berasal dari kata radix dalam bahasa yunani yang berarti akar dalam bahasa indonesia. Radikalisme berarti mengakar, yang artinya, sebenarnya radikal adalah kata positif, bukan kata negatif seperti yang di fahami oleh kebanyakan orang saat ini. Terjadi degradasi makna yang sangat jauh dari makna yang sebenarnya.
Saya akan setuju, jika ustadz A dikatakan radikal karena telah mempelajari islam hingga ke akar-akarnya. Saya juga akan setuju, jika aktifis itu di bilang radikal karena untuk menyampaikan kritik keras di perlukan pengkajian isu hingga ke akar-akarnya. Yang berarti dia telah mempelajari dan mengkaji isu tersebut hingga ke akarnya.
Menjadi radikal bagi se-orang pelajar adalah kewajiban menurut saya, karena jika tidak sampai ke akar kita belajar, kita tidak akan faham dengan sebenar-benarnya faham atas apa yang telah kita pelajari.
13.42
Apel Tiga Pilar: Tangkal Radikalisme, Terorisme, dan Hoax
Apel Tiga Pilar: Tangkal Radikalisme, Terorisme, dan Hoax
ApApel Tiga Pilar, meliputi para Lurah/Kepala Desa (Pemda), Babinsa (TNI), dan Bhabinkamtibmas (Polri) se-Bandung Raya menegaskan komitmen menangkal radikalisme, terorisme, dan hoax alias berita bohong. Meski Jawa Barat dinilai aman dan kondusif, ketiga pilar diharap lebih gigih memeliharanya, terutama dalam menghadapi Pilkada Serentak 2018 dan Pemilu Serentak 2019.
Hal itu mengemuka pada acara…
View On WordPress
Jalaluddin Rumi pernah mengatakan, ‘’Sangat tidak gampang untuk menjelaskan hakikat kehidupan kepada khalayak awam, karena tingkat pengetahuan mereka belum memadai.’’
-----------------------------------------
AHMAD DHANI MEMANG YAHUDI, TETAPI BUKAN ZIONIS. BENARANKAH?!
Ave Neohistorian!
Dhani Ahmad Prasetyo alias Ahmad Dhani, memiliki darah Yahudi dari garis keturunan ibunya. Kakeknya adalah Jan Pieter Friederich Kohler, seorang Yahudi-Jerman, yang merupakan ayah ibunda Dhani, Joyce Theresia Pamela Kohler.
“Mata Ilahi” (Eye of Providence), atau piramida terpancung dengan mata satu diatasnya, merupakan simbol Kristen yang kerap diidentikkan dengan organisasi Freemasonry dan Iluminati. Simbol tersebut terlihat sekilas dalam karya-karya Dewa-19. Begitu juga Piramida terpenggal ditampilkan pada cover album “Dewa-19” (1992), dan Mata Satu terlihat pada cover album “Cintailah Cinta” (2002).
Dalam video klip “Satu” (2004), pada durasi 1:43, terlihat seseorang dengan “Piramida mata satu” diatas telapak tangannya. Dalam beberapa kali konser, Dhani kadang kedapatan menggunakan kalung “bintang daud” yang merupakan simbol Yahudi.
Meski tersirat unsur-unsur Yahudi didalam karya-karyanya, Dhani ternyata gerah dengan tuduhan “Antek Yahudi” dari para haters. Ia menegaskan dirinya bukanlah Zionis dan tak pernah mengkampanyekan Yahudi, apalagi berurusan dengan perpolitikan Israel. Baginya, simbol-simbol tersebut hanyalah ekspresi seni belaka. Meski masih keturunan Yahudi, Ahmad Dhani adalah seorang muslim, dan unsur tasawuf kerap tersirat didalam karya-karyanya bahkan nama anak-anaknya.
Pada Maret 2011, Ahmad Dhani turut menjadi target terror bom buku karena dianggap sebagai figur Yahudi. Bom disertakan dalam buku berjudul “Yahudi Militan”, yang mana Dhani dijadikan model sampulnya. Beruntung, Dhani selamat dari rencana pembunuhan tersebut. Dhani kemudian melaporkan dua orang penulis buku, yang menurutnya telah menggiring opini berbahaya seolah-olah dirinya antek Yahudi.
Setelah menanggalkan unsur-unsur Yahudi dalam karya-karyanya, pada Tahun 2014, Media “Times of Israel” mengecam kostum Dhani dalam video klip untuk kampanye capres Prabowo Subianto yang mana dianggap mirip seragam pejabat elite partai Sosialis Nasional Jerman.
Penulis: Jonathan Tsai
Editor: Hanafi Wibowo
Referensi:
Tonnedy, E. (2016). Pemaknaan Islam Dan Yahudi Dalam Video Klip "Satu" Dewa 19. Skripsi Fak. Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta, 2016
*) https://t.co/5YbxVLgcd2
JILBAB BUKAN KEWAJIBAN TETAPI PILIHAN
Jika ada orang atau seorang ulama yang mengkritisi jilbab dengan keilmuan tinggi, bukan anti jilbab tetapi memberi pencerahan dan mengkritisi lalu berkata bahwa jilbab bukan kewajiban tetapi pilihan, maka orang atau ulama ini akan dihujat habis-habisan, akan dicaci maki, akan disumpah seranah, lalu dibilang: liberal, sesat, murtad, penista agama dan kafir.
Kenapa perbedaan pendapat tidak bisa disikapi dengan kedewasaan berfikir ?
Kenapa perbedaan pendapat tidak bisa disikapi dengan saling menghargai dan saling menghormati ?
Dan teryata tidak bisa, tidak pernah bisa.
Kenapa tidak pernah berhenti akan pemaksaan pendapat dan pemaksaan kehendak ?
Kenapa tidak kita serahkan pilihan itu kepada perempuan sendiri dan kita hormati: "Yang mau pakai jilbab silahkan dan yang tidak mau pakai jilbab juga silahkan, dan tidak perlu diancam-ancam dengan dosa dan neraka".
Yang beragumen jilbab wajib dan jilbab tidak wajib sama-sama dengan dalil Al Qur'an dan hadist, beda penafsiran, beda paham. Dan faktanya sepanjang sejarah:
- Kaum tekstual vs. kaum kontekstual.
- Kaum konservatif vs. kaum rasional.
- Kaum yang tidak boleh menggunakan akal dalam memahami agama vs. kaum akal sehat.
- Tidak peduli, buta dan menolak sejarah.
- Beda paham tidak bisa saling menghargai, tidak bisa saling menghormati.
Maju mundurnya sebuah bangsa sangat ditentukan oleh pendidikan yang baik dan benar, pendidikan yang sangat bermutu oleh guru-guru yang bermutu, tetapi ada (tidak digeneralisasi) sekolah negeri yang mungkin tidak mementingkan mutu pendidikan tetapi yang dipentingkannya adalah para siswi harus wajib pakai jilbab dan siswi yang menolak akan dibully dan diintimidasi (tidak digeneralisasi), dan ini bisa sangat berbahaya karena jika jiwanya tidak bisa menerima karena dipaksa untuk sekolah wajib berjilbab maka anak ini bisa depresi (traumatis). Jika ditanya sekolah ini akan ngeles dan berkata: "Kami tidak mewajiban tetapi hanya memberi saran secara lisan untuk pakai jilbab". Apa bedanyanya perkataan tersebut, sama saja, murid-murid menjadi takut lalu terpaksa dan terjadilah pemaksaan. Kenapa tidak diberi saja kebebasan, diberi saja pilihan, yang mau pakai jilbab silahkan dan yang tidak mau pakai jilbab juga silahkan, tanpa ada bullying dan intimidasi.
Mutu pendidikan dinegara kita Indonesia ini jauh tertinggal:
- Di Asia Tenggara saja peringkat pendidikan Indonesia nomor 4, kalah sama Singapore, Malaysia dan Thailand.
- Survei negara tercerdas di dunia 2022, penelitian terhadap 203 negara di dunia untuk mengukur tingkat kecerdasan penduduk di masing-masing negara dan Indonesia menduduki peringkat 132.
- 20 negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia dan Indonesia tidak termasuk.
- Survei 61 negara yang masyarakatnya paling malas membaca dan Indonesia di peringkat 60.
- Uji kompetensi guru di Indonesia masih berada ditingkat yang sangat rendah, jika dilihat dari Uji Kompetensi Guru (UKG) nilai yang diperoleh rata-rata masih di bawah 5.
Pertanyaannya: Kenapa guru tidak memperbaiki kualitas dan mutu mendidik?
Kenapa justru yang diprioritaskan adalah jilbab dan akhirnya terjadilah pemaksaan?
Jika ada murid/siswa/siswi yang kritis lalu bertanya kepada gurunya :
- Adakah ayat Al Qur'an yang menyatakan bahwa rambut perempuan itu aurat? Jika tidak ada, kenapa perkataan itu ada?
- Adakah perkataan wajib? Apakah semua perintah Allah dalam Al Qur'an itu semuanya wajib?
- Bukankah Asbabun Nuzul ayat itu tentang perbedaan kasta antara budak dan wanita merdeka?
- Bukankah Allah itu Maha Adil dan Maha Bijaksana? Maha Pengasih dan Penyayang? Lalu benarkah jika rambut kepala tidak ditutupi akan masuk neraka?
Apakah yang akan dijawab gurunya? Secara jujur atau akan marah?
Jangan pernah terjadi pemaksaan paham dan pemaksaan kehendak, karena akan menimbulkan kebencian dan bisa menimbulkan benci kepada agamanya sendiri.
Yang terbaik itu beri kebebasan kepada perempuan/siswi menentukan pilihannya sendiri:
- Yang berpaham: Jilbab bukan kewajiban tetapi pilihan, kita hargai dan hormati.
- Yang berpaham: Jilbab itu bukan pilihan tetapi kewajiban, kita hargai dan hormati.
Tetapi jangan sampai terjadi pemaksaan paham dan pemaksaan kehendak dari gurunya, ustadznya atau siapapun.
Bisakah? Faktanya dari dulu sampai sekarang tidak pernah bisa.
Bisa jadi semua itu sudah berlebih-lebihan dan Allah tidak suka hal-hal yang berlebihan.
(KH. Quraish Shihab)
JILBAB BUKAN KEWAJIBAN TETAPI PILIHAN Jika ada orang atau seorang ulama yang mengkritisi jilbab dengan keilmuan tinggi, bukan anti jilbab t
Ketika Agama Kehilangan Tuhan
Oleh: Gus Mus
Dulu agama menghancurkan berhala. Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya.
Dulu orang berhenti membunuh sebab agama. Sekarang orang saling membunuh karena agama.
Dulu orang saling mengasihi karena beragama. Kini orang saling membenci karena beragama.
Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu,Tuhannya pun tak pernah berubah dari dulu. Lalu yang berubah apanya? Manusianya?
Dulu orang belajar agama sebagai modal, untuk mempelajari ilmu lainnya. Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja.
Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kepintarannya, yang paling cerdas di antara orang-orang lainnya. Sekarang orang yang paling dungu yang tidak bisa bersaing dengan orang-orang lainnya, dikirim untuk belajar jadi pemimpin agama.
Dulu para siswa diajarkan untuk harus belajar giat dan berdoa untuk bisa menempuh ujian. Sekarang siswa malas belajar, tapi sesaat sebelum ujian berdoa paling kencang, karena diajarkan pemimpin agamanya untuk berdoa supaya lulus.
Dulu agama mempererat hubungan manusia dengan Tuhan. Sekarang manusia jauh dari Tuhan karena terlalu sibuk dengan urusan-urusan agama.
Dulu agama ditempuh untuk mencari Wajah Tuhan. Sekarang agama ditempuh untuk cari muka di hadapan Tuhan.
Esensi beragama telah dilupakan. Agama kini hanya komoditi yang menguntungkan pelaku bisnis berbasis agama, karena semua yang berbau agama telah didewa-dewakan, takkan pernah dianggap salah, tak pernah ditolak, dan jadi keperluan pokok melebihi sandang, pangan, papan.
Agama jadi hobi, tren, dan bahkan pelarian karena tak tahu lagi mesti mengerjakan apa.
Agama kini diper-Tuhankan, sedang Tuhan itu sendiri dikesampingkan. Agama dulu memuja Tuhan. Agama kini menghujat Tuhan. Nama Tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan murahan, oleh orang-orang yang merusak, membunuh, sambil meneriakkan nama Tuhan.
Tuhan mana yang mengajarkan tuk membunuh?
Tuhan mana yang mengajarkan tuk membenci?
Tapi manusia membunuh, membenci, mengintimidasi, merusak, sambil dengan bangga meneriakkan nama Tuhan, berpikir bahwa Tuhan sedang disenangkan ketika ia menumpahkan darah manusia lainnya.
Agama dijadikan senjata untuk menghabisi manusia lainnya. Dan tanpa disadari manusia sdg merusak reputasi Tuhan, dan sdg mengubur Tuhan dalam-dalam di balik gundukan ayat-ayat dan aturan agama. Ahmad Mustofa Bisri
*) Reposting HariMerdekaDrecpecs
Mengenal lebih dekat jagat kebudayaan kadrun, FLAT EARTH.
Tentu saja hal bodoh tentang kepercayaan mereka mengenai bentuk Bumi yang datar. Mereka memperteguh keyakinan mereka bahwa keilmuan yang mempelajari Bumi berbentuk bulat hanyalah sebuah bualan untuk menipu manusia.