Anathema : Kau dan Kekasihmu
Ah, ini gue temuin pas buka-buka file lama. Meski gak jelas dan dongo, tulisan katro ini pernah diulas dong =)) Gue yang baca ulasannya ngakak gak ketulungan karena tahu banget masih BUANYAK banget yang perlu dibenahi di sini. Heran aja kok yang begini yang diulas.
Dan meski udah diedit, gue sadar banget ini cerita gak jelas. =)) Well anyway, apapun itu, gue cukup seneng baca-baca lagi. Semoga yang baca juga ngerasa begitu. Enjoy aja deh. =)
Tersebutlah wajah lain dari terangnya siang, kau mungkin menyebutnya dengan sebutan malam. Dia membawa segenggam rasa tenang dibalik galaunya kegelapan yang seolah tanpa henti mengendap-endap dari balik sesemakan untuk mencekikmu tanpa kau sadari.
Dia juga membawa dingin menyengat, menyelimuti hamparan padang rumput, batang-batang pepohonan besar dan sungai jernih memantulkan bayangan rembulan, tempatmu biasa termenung menunggu bintang yang paling terang untuk muncul. Tapi kau tidak peduli padanya, pada malam itu.
Dan dunia harusnya bertekuk lutut padamu. Kau bahkan mengalahkan pria paling berani di negri kecilmu sendiri. Kau berjalan menembus hutan gelap, tempat di mana alam menggurat keindahan tanpa manusia di dalamnya. Tempat di mana setiap setan dan binatang buas dikisahkan mengendap-endap dari balik sesemakan menunggu mangsa. Kau bahkan meninggalkan jejak sepanjang tepi aliran sungai, tanpa alas kaki, tanpa sekalipun mengidahkan betapa dingin dan lembabnya lantai hutan yang kau jejaki.
Napasmu berderak-derak, dan dingin yang menyusupi jemarimu membuat dadamu sesak. Tapi sekali lagi, kau tidak peduli. Kau tetap berjalan, mendekap tubuhmu lebih erat lagi dengan tepi jubah berbau apak, satu-satunya yang bisa kau temukan di pondok reyot tempatmu dan ayahmu Si Tukang Kayu tinggal.
Kau kemudian menghentikan langkah, mengidu udara dengan mawas. Udara di sekotarmu semakin berat, bergerak, menggerakkan ranting dedaunan pohon. Hutan tidak pernah sesepi ini, maka kau pun merasa gelisah. Kau menarik kerudungmu lebih rapat dan melanjutkan perjalanan, langkahmu makin cepat. Lebih cepat, menuju tempatmu biasa menghitung waktu bintang yang paling terang muncul.
Lolongan serigala terdengar dari salah satu sudut hutan membuatmu tertegun sejenak, kau menengadah memandang langit, kemudian melanjutkan perjalanan kembali sembari menyikap gaunmu, berlari. Perasaanmu bercampur aduk. Ada kalut, ada rasa panik. Tapi melebihi semuanya ada gembira yang meluap-luap membuncah dalam dadamu. Rasa rindu, hangat, lalu berubah menjadi debaran yang terlarang.
Tak lama, kau sudah tiba disana, di tempatmu biasa menunggu bintang paling terang bersinar. Napasmu terengah mengeluarkan asap putih dan tanganmu basah karena keringat dingin. Matamu yang semula terbuka lebar kemudian meredup, menampilkan sorot rindu yang begitu dalam. Perlahan kau menurunkan tudungmu, menampilkan kemilau rambut pirang panjang kebanggaanmu. Dan kau, dengan segenap hati, melangkahkan kaki menghampiri makhluk bersayap yang sekarang ini berdiri di tempat biasa kau menunggunya.
Makhluk itu bukanlah kaummu, manusia. Dia memang sama tingginya dengan lelaki tegap di desa asalmu, memakai baju hitam pekat yang menonjolkan otot-ototnya. Mungkin ketampanannya jauh melebihi pangeran di negrimu, sekalipun kau tidak pernah sekalipun mendapati sorot mata merahnya lumer hangat. Atau mungkin rambutnya sama seperti hitamnya rambut ayahmu ketika muda dulu, agak panjang dan selembut sutra. Tapi kedua sayapnya yang hitam seperti gagak membuatmu gemetar. Selalu gemetar. Kau menyebutnya malaikat bersayap hitam, iblis kekasihmu.
“Terlambat,” gemuruh kekasihmu dalam dan membuatmu nyaris berjengit. Suaranya menekan, tanpa sedikitpun terdengar nada senang karena bertemu denganmu.
Kau menggigit bibir bawahmu, gemetar. Rasa takut menjalari nadimu, membuat debaran terlarang itu semakin keras. “A-aku tidak... Maaf...” katamu mencicit ngeri.
Kekasihmu memandang sosokmu dengan mata merahnya yang menyala, jahat dan membuat dadamu semakin sesak akibat debaran terlarang itu. Dia mendekatimu, tersenyum seolah mengolok-olokmu dan merengkuh tubuh mungilmu dalam pelukannya.
“Sudahlah..” bisik kekasihmu, suaranya terdengar indah dan menggodamu. Dia tersenyum, memandangmu dengan mata merahnya yang berkilau bagai batu ruby. “Tidak masalah," lagi, ia menggumam tapi kali ini membuka lebar-lebar dua tangannya. "Ayo, kemari. Aku tahu kau merindukanku.”
Kau diam, merasakan wajahmu panas dan semakin merona merah. Ia selalu tahu, selalu tahu apa yang benar-benar kau rasakan setiap detiknya. Tahu mengenai tiap kejadian yang awalnya berupa rahasia. Soal kau yang memujanya, soal ayahmu, soal kawanmu. Ah ya... kawanmu, sahabatmu. Malaikat itu. Sekarang setelah kau memikirkannya, kau menolak rengkuh tangannya.
Ada yang bicara di benakmu, mengutuk dirimu. Kau, kau yang pengkhianat. Seorang pembunuh kepercayaan yang keji. Lepas dari bayang-bayang siang sahabatmu, kau rengkuh dalam gelapnya malam kekasihmu. Memikirkannya, mendengarkan tiap kata-katanya, kemudian membuatmu marah pada dirimu sendiri. Sekaligus takut. Kau takut pengkhianatanmu kelak akan berbalik menyerangmu.
“Kenapa? Ada sesuatu yang salah?” tanya kekasihmu.
Kau menggelengkan kepala. "Tidak."
"Tapi pasti ada yang salah," kekasihmu berkeras, mendekati dirimu, sebelah tangannya melingkar di pinggangmu. Ia tersenyum dengan ekspresi sardonis. Terkekeh mengolok dirimu. Rupanya dia tahu apa yang kau pikirkan. Oh, dia memang selalu tahu. Dimanapun, bagaimanapun, apapun yang kau lakukan dan pikirkan.
"Tidak," kau membuang muka.
"Oh ya," Kekasihmu mendesis, menarik tubuhmu lebih dekat. Kau bisa merasakan sentuhan bibirnya di tengkukmu, jemari tangannya menggerayangi punggungmu, juga embusan napasnya. "Selalu, setiap waktu. Apa kau merasa bersalah, hmm? Padanya? Pada bangsat tolol penghamba hina itu?"
“Ia.. bukan penghamba hina,” sahutmu menghela napas banyak-banyak sebelum menjawab, berusaha mengabaikan rasa jengkelmu, mengabaikan jemari-jemarinya yang naik dan turun seturut ritme napasnya. Tapi itu sulit. Jantungmu berdegup makin kencang.
Jemari kekasihmu lantas menyusuri garis tubuhmu, menyusup masuk ke dalam sela-sela rambut kemudian mempermainkanmu dengan kecupan dingin dan sapuan napasnya di kulitmu. Kekasihmu tertawa.
“Tidak,” katamu membuang wajah.
“Pembohong.” Kekasihmu menyeringai, memamerkan gigi-giginya yang putih. Tawanya terdiri dari olokan dan cemooh. Dia merasa menang dan memegang kendali atasmu. Kau ingin melawan pesona dan omongan buruknya, tapi kau sadar kau lemah. Kau hanya bisa pasrah dalam permainannya. Bodohnya dirimu!
“Penghamba hina yang bermukim pada Ia Yang Berkuasa.,” dendang kekasihmu memainkan jemarinya di udara. “Sahabat kekasihku, musuh terbesarku. Menurutmu siapa yang akan mati nantinya, hmm? Aku, atau ia yang bersumpah bahwa kau adalah yang terbaik diantara semuanya?”
Rasa jengkelmu kembali, mengusikmu dengan amarah dan ketidak berdayaan. Bayangan-bayangan mengerikan mulai terbentuk dalam benakmu. Kematian sahabatmu atau kematian kekasihmu, Si Makhluk bersayap hitam itu selalu mendendangkannya bagai lagu yang indah. Memuakkan.
“Hentikanlah,” ujarmu lemah.
Kau mengatupkan rahangmu kencang-kencang, sedih dan terluka akibat nada kekasihmu yang mengolok-olok sahabatmu. “Karena tidak akan pernah ada pertumpahan darah dalam cerita ini,” jawabmu penuh keyakinan.
“Menurutmu begitu?” alis kekasihmu bertaut penuh rasa tertarik lalu tertawa. “Tapi begitulah hukum dunia ini, Sayang. Peran melawan peran. Ekspektasi melawan realitas. Dan kupikir dunia sudah begitu baiknya memberikan peran Si Serakah padaku. Yang diatas salah. Ternyata justru kaulah yang kenyataannya jauh lebih serakah dariku.”
Ucapannya membuatmu gemetar. Kau sudah terlalu terbiasa dengan olok-olokannya, namun perkataannya yang satu itu membuatmu terbakar amarah. Serakah katanya? Tapi bukankah apa yang kau inginkan ini begitu mulia? Sahabatmu, kekasihmu, berdua mereka bisa saling membuka diri dan tertawa denganmu. Apa yang serakah dari hal itu?
“Kau.... jahat,” katamu dengan suara bergetar, menatap tajam kedua mata merahnya. Amarahmu terlampau besar melebihi rasa takut dan cintamu terhadapnya.
“Itulah aku,” bisik kekasihmu kembali merengkuh tubuhmu dalam pelukannya. “Aku yang jahat. Aku kekasihmu, yang kau cintai. Harusnya kau tahu dari awal.”
Lolongan serigala terdengar kembali dari salah satu sudut hutan. Lolongannya membuat bulu kudukmu meremang, jauh lebih menyakitkan dan membuat luka di hatimu semakin dalam. Kau tahu, secepatnya pengkhianatanmu akan berbalik menyerangmu. Lalu kau menangis. Terisak dalam pelukan kekasihmu, hancur bahkan sebelum segalanya dimulai.