Sesungguhnya Kita adalah Apel
Kamu tahu, teori Isaac Newton tentang sebuah apel yang terkenal itu?! Tentang daya tarik bumi, sebuah kekuatan bumi untuk menarik sesuatu di atasnya agar tidak melayang-layang di udara? Pernah kamu melihat warna dari gaya yang dimaksud Sir Isaac itu?!
Kira-kira, seperti itulah apa pun yang bernasib menjadi takdirmu. Kamu, punya gaya gravitasi, aku punya apel. Maksudku, kita harus menyederhanakan sesuatu. Apa pun yang diciptakan untukmu, tidak akan menjadi milik yang lain. Jika bumi memiliki gaya gravitasi, kita juga. Masing-masing punya daya tarik yang berbeda.
Mengapa terlalu mempersoalkan kekurangan seseorang, jika ternyata hal itu bisa dilihat sebagai daya tarik oleh seseorang yang lain?! Pola pikir, sudut yang diambil seseorang untuk melihat sesuatu, pengalamannya menghadapi masalah-masalah, membuat setiap orang memiliki daya tarik dan selera ketertarikan yang tidak selalu seragam. Tidak lantas salah ketika ada seseorang memilih sesuatu berdasarkan hal-hal sepele.
Menghakimi, mengatakan sesuatu yang jelek terhadap pilihan orang lain, tidak menghargai keputusan orang lain yang sudah dibuat, kamu seperti kehilangan gaya gravitasimu sendiri: melayang, mencari pijakan untuk sesuatu yang sesuai seleramu.
Jangan khawatir, sayangku. Karena masing-masing kita adalah apel, kita akan jatuh di tempat yang tepat. Ada gaya gravitasi yang akan menarik kita, dan baginya, kita adalah apel yang paling pas untuk dijatuhkan, lalu ditangkap.
Jika ada yg mau mendebat soal tepat atau tidak tepatnya perumpamaan soal gaya gravitasi ini, semoga diurungkan. Karena, hujan gini lebih enak makan indomie telor cengek.

















