Menjajal seorang diri menyusuri jalan sepanjang FSM-Cordoba di bawah rintik gerimis. Rasanya begitu menyegarkan dan mendamaikan. Aroma debu dan tanah basahnya menyeruak ke dalam penciuman. Butirnya menjatuhi setiap benda yang dia lewati tanpa segan dan tanpa terkecuali. Termasuk aku yang telah menjadi korban rintik gerimis sore tadi. Kerudungku menjadi lumayan basah. Tetapi aku terlalu bahagia menikmati setiap tetes air mata langit ini. Tetesan yang menghanyutkanku ke dalam sebuah catatan masa silam, dan aku tenggelam dalam sebuah kenangan. Kenangan tatkala bocah-bocah kecil berjalan, berlarian, atau bahkan berkejaran di bawah hujan tanpa payung dan enggan untuk menepi. Ada pula yang mandi di bawah talang yang menurutku tentu saja dinginnya menembus lapisan kulit terdalam, atau bahkan tulang-belulang. Dan aku tahu bocah-bocah kecil itu sangatlah kuat dan kebal, tak ada sakit yang akan menyambanginya seusai menyapa hujan, tak ada orang tua yang mengkhawatirkan, berlari-lari mengejar mereka atau sekedar meneriaki mereka agar segera berhenti bermain hujan. Semuanya berjalan semau mereka saja. Sedang aku, hanyalah bocah perempuan kecil yang menyibakkan gorden untuk mengintip mereka dari balik jendela, kemudian tersenyum melihat polah mereka dan teriakan mereka. Aku begitu ingin bergabung dengan mereka, menjadi pemeran dalam drama kehidupan anak desa dengan mereka, di bawah derasnya guyuran hujan. Aku tentu tak ingin hanya terus menjadi penonton di balik jendela. Rasanya terlalu sia-sia. Hanya saja tubuhku tak setara dengan ketangguhan tubuh mereka. Satu rintik hujan yang menjatuhi ubun-ubunku pun bisa jadi penyebab demam yang sangat menghawatirkan. Bisa jadi sampai kejang-kejang –setip namanya-. Memang nampak sangat berlebihan. Tetapi nyatanya memang dahulu aku demikian.
Ketika surat Ar-Rahman pun begitu banyak mengulang pernyataan demikian, mengingatkanku untuk terus bersyukur atas keadaan sekarang. Keadaan ketika aku bisa menikmati rintik gerimis tanpa mengkhawatirkan sakit yang dahulu sempat menyerang, sakit yang kini telah menjadi sebuah cerita masa silam. Kali ini aku benar-benar menikmati damainya alam yang membawaku tenggelam begitu dalam dalam kenangan. Menyapa hujan yang membawa begitu banyak kebermanfaatan . Dan di bawah hujan, setiap panjatan doa insan insyaAlloh akan Alloh ijabahkan. Meski tak menikmatinya bersama mereka – bocah-bocah kecil desaku- tapi rasanya aku berhasil merasakan kebahagiaan yang dahulu mereka rasakan.