Pikirku dulu hidup itu hanya baca buku dan sekolah. Tanah biru pun masuk ke dalam salah satu ring mata rantai. Tapi semakin aku jauh melangkah ternyata banyak keegoisan dan kesengsaraan. Ku buka mataku lebar-lebar, ku perhatikan tiap sudut jalanan, ternyata banyak air mata berjatuhan di pinggir jalan. Kehilangan, kesepian, kemelaratan, ketidakadilan, yang kemudian memenjarakan batin. Batin yang sedininya begitu suci dari dosa, akhirnya ternodai oleh pemanfaatan pemikiran yang salah arah. Mereka tahu bahwa jalan itu salah, tapi tak tau lagi dengan cara apa agar bisa keluar dari penjara itu. Aku mengerti, sebabnya ku putuskan tanah biru itu berlalu dan ku serahkan kepada penerusku.
Taman tawa ku hadirkan untukmu. Kelak dirimu akan terlepas dari kegundahan batinmu. Dunia ini memang telah dikonsep dengan rapi, kau jangan sendiri. Masih banyak pohon-pohon yang peduli denganmu. Kemarilah nanti kita tertawa dan berkarya, di Taman tawa. Pemilik semesta selalu bersama tindakan baikmu. Inilah hasil dari sekolahku, bukan sebuah kertas yang harus ku kasih ke raja-raja diktator itu. Kelak kita akan sama-sama mengerti, jikalau mata ini tak ditutupi kacamata hitam dan keegoisan merajai hati.
Ketika engkau jadi raja jangan lupa berkunjung ke Taman-taman kumuh yang dulu tempatmu berbagi kopi pahit, bersihkan lah sesekali. Mereka tak mengharapkan emas darimu, mereka butuh senyum hangat darimu. Lihatlah mereka ketakutan denganmu, penjagamu begitu banyak dan bersenjata. Tidakkah kau ingin berbagi pakaian bekasmu? mereka begitu bahagia melihatmu. Taman in sengaja ku bangun untuk mereka dan kau, ketika sudah jenuh dengan kursi emasmu.
Hapus sudah sepimu, tangismu, dan bebaskan dirimu dari penjara batinmu. Ku tunggu selalu, temukan aku di Tawan tawa itu.