Kamu adalah duniaku; Bumi di mana aku berdiri. Sedikit yang aku tahu; Kamu adalah pasir hisap di bawah kakiku.
K
seen from Ireland

seen from Germany
seen from China
seen from Serbia
seen from Croatia
seen from China

seen from United States
seen from United States

seen from Yemen
seen from Ireland

seen from United States
seen from China
seen from Albania

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Germany
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from T1
Kamu adalah duniaku; Bumi di mana aku berdiri. Sedikit yang aku tahu; Kamu adalah pasir hisap di bawah kakiku.
K
kamu, tinggi. aku, di bumi.
Kamu
tinggi, gemerlapan bersama sekawanan bintang lainnya
di angkasa sana
Aku
hanya berdiri di sini, berpijak di bumi,
mengagumi binarmu, sambil sesekali berbisik,
mengungkap yang ada di dalam hati, meski tau suaraku tak cukup kuat untuk menjangkau langit
(09/10/2017, 23:10 PM)
Membangun dari Fondasi: Pelajaran Hidup dari Sebuah Pondasi yang Sedang Berdiri
SURAU.CO – Setiap bangunan besar selalu dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: fondasi. Tidak peduli seberapa megah nanti bentuknya, seberapa indah cat dan desainnya, semuanya tetap bermula dari batu demi batu yang disusun dengan kesabaran. Foto pembangunan yang diambil pada pagi hari ini adalah gambaran nyata tentang sebuah proses—bahwa tidak ada karya besar yang hadir secara instan. Di…
masjid riyadh solo berdiri tahun berapa sih - Imelda Tagliaferri
Masjid Riyadh Solo berdiri tahun berapa Didirikan pada 1874 di Solo masjid ini menjadi simbol kebudayaan islam di kota tersebut sejak zaman kolonial
#masjid #riyadh #solo #berdiri #tahun #berapa #sih #Imelda #Tagliaferri
Drama Kelas: Ketidakadilan dan Keberanian Siswa Zaman Now
Terkadang, tingkah laku siswa di kelas bisa membuat guru merasa prihatin. Alih-alih menunjukkan kecerdasan dalam menyelesaikan PR atau tugas, banyak siswa yang lebih pandai dalam menciptakan alasan untuk menghindari pelajaran. Kisah berikut menggambarkan situasi ini dengan jelas. ### Kisah Aziz di Kelas Di sebuah ruang kelas yang ramai, seorang siswa bernama Aziz duduk dengan wajah masam. Dengan rambut lurus yang dibelah dua dan seragam putih yang terlihat sedikit terlalu besar, ia tampak kesal. Meskipun suasana kelas bising, pikirannya dipenuhi dengan ketidakpuasan terhadap cara guru dan orang tuanya memperlakukannya. Ia merasa namanya selalu dipanggil pertama kali saat sesi tanya jawab, dan meskipun ia sering berpindah tempat duduk, tak ada yang bisa mengubah nasibnya. “Ziz, ingat tugas Fisika dari Bu Ratih, dia akan masuk sebentar lagi! Pasti namamu yang pertama dipanggil!” bisik temannya dari belakang, membuat Aziz semakin kesal. Teman itu, Yanto, selalu menjadi siswa yang terakhir dipanggil, dan Aziz merasa terjebak dalam situasi yang tidak adil. ### Ketegangan Menjelang Pelajaran Pukul tujuh lebih lima belas menit, seluruh siswa sudah duduk di tempatnya. Wajah mereka menunjukkan cemas, terutama saat beberapa siswa terlihat sibuk merebut buku catatan. Mereka pasti baru menyadari bahwa tugas Fisika yang diberikan minggu lalu belum dikerjakan. Ketika Bu Ratih masuk dan menyapa, suasana kelas menjadi lebih tegang. “Siapa yang bisa menjelaskan tugas minggu lalu?” tanya Bu Ratih. Kelas mendadak hening, tidak ada satu pun tangan yang terangkat. Siswa-siswa saling berbisik, sementara Bu Ratih mulai memanggil nama berdasarkan urutan absensi. Aziz merasa jantungnya berdegup kencang saat namanya disebut. Rasa takut dan cemas menyelimuti dirinya, dan ia berharap ada keajaiban yang terjadi. ### Keajaiban yang Tak Terduga Namun, keajaiban itu datang ketika Bu Ratih menyebut nama Yanto, bukan Aziz. Lega seketika, wajah Aziz yang awalnya pucat kini kembali cerah. Ia merasa bersyukur dan berdoa dalam hati, merasakan beban yang terangkat dari pundaknya. Namun, suasana kelas kembali tegang ketika Bu Ratih meminta Yanto untuk maju menjawab pertanyaan. Ternyata, Yanto tertidur! Ramli, teman sekelasnya, mengungkapkan bahwa Yanto tidak siap dan tidak mengerjakan PR. Kelas pun riuh dengan sorakan teman-teman Yanto, sementara Bu Ratih mendekatinya untuk memastikan keadaan. ### Yanto di Depan Kelas Yanto yang terbangun berusaha menjelaskan bahwa ia tidak tidur, melainkan belum menyelesaikan PR karena tidak bisa meminjam buku catatan. Kembali, kelas bersorak mengejeknya. Bu Ratih pun memerintahkan Yanto untuk maju ke depan dan menjelaskan, sementara Yanto tampak lesu dan tidak bersemangat. Kemudian, Bu Ratih memanggil Aziz untuk maju dan menjawab soal. Mendengar namanya disebut, Aziz merasa seolah petir menyambar. Ia tertegun, keringat dingin mengalir di tubuhnya, dan dalam sekejap, ia pingsan di kelas. ### Penyakit Anak Zaman Now Melihat situasi ini, Bu Ratih hanya bisa menghela napas dan mengeluh tentang “penyakit anak zaman now.” Ia merasa frustrasi dengan sikap siswa yang lebih memilih untuk menghindar daripada menghadapi tanggung jawab mereka. Kisah ini menggambarkan tantangan yang dihadapi para guru dalam mengajar generasi muda yang sering kali lebih cerdik dalam mencari alasan daripada berusaha menyelesaikan tugas. Dalam dunia pendidikan saat ini, penting bagi siswa untuk belajar bertanggung jawab dan menghadapi tantangan, bukan menghindarinya. Dengan memahami situasi ini, kita semua bisa berkontribusi untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik dan lebih produktif. Mari kita dorong anak-anak untuk lebih fokus dan bertanggung jawab terhadap pendidikan mereka, agar mereka dapat tumbuh menjadi individu yang cerdas dan siap menghadapi masa depan. Baca selengkapnya di Batuter.Com Link Center : https://tautanku.com/batutercom
Kopi Moek, yang berdiri sejak 1965, telah lama menjaga warisan baik melalui cara penanganan dan pengolahan kopi serta memperkenalkan biji kopi Nusantara sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Dengan komitmen terhadap kualitas dan tradisi, Kopi Moek terus mempertahankan cita rasa khas yang menggambarkan kekayaan alam dan budaya Indonesia, sekaligus memperkuat posisinya sebagai produsen kopi unggulan di tingkat internasional. kopimoek.com