MATARANTAI - Rayakan Perbedaan 2 at Kridasana Singkawang Jam 13.00 - 22.00 Htm idr. 15k #matarantai #rayakanperbedaan2 #gigs #singkawang https://www.instagram.com/p/B1yo0XWpYw8/?igshid=1v45rszxrmvrx
seen from Morocco
seen from Bangladesh

seen from United States

seen from Singapore
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from Austria
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Austria
seen from China
seen from China

seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States
seen from Norway
MATARANTAI - Rayakan Perbedaan 2 at Kridasana Singkawang Jam 13.00 - 22.00 Htm idr. 15k #matarantai #rayakanperbedaan2 #gigs #singkawang https://www.instagram.com/p/B1yo0XWpYw8/?igshid=1v45rszxrmvrx
Sekali-kali mereka bersembunyi dibalik daun, menghindari gangguan sang pemakan, proses alam sampai puncak rantai makanan, saling ketergantungan. Terputusnya satu mata rantai akan berakibat pada keberlangsungan hidup mahluk lainnya. Semua berawal dari hal yang paling kecil. "Bijaklah dalam melangkah dan berbuat" #matarantai #simbiosis #konservasi #konservasiuntukmasyarakat #ekologi #tamannasional #tamannasionalgununghalimunsalak (at Mount Halimun Salak National Park)
Pikirku dulu hidup itu hanya baca buku dan sekolah. Tanah biru pun masuk ke dalam salah satu ring mata rantai. Tapi semakin aku jauh melangkah ternyata banyak keegoisan dan kesengsaraan. Ku buka mataku lebar-lebar, ku perhatikan tiap sudut jalanan, ternyata banyak air mata berjatuhan di pinggir jalan. Kehilangan, kesepian, kemelaratan, ketidakadilan, yang kemudian memenjarakan batin. Batin yang sedininya begitu suci dari dosa, akhirnya ternodai oleh pemanfaatan pemikiran yang salah arah. Mereka tahu bahwa jalan itu salah, tapi tak tau lagi dengan cara apa agar bisa keluar dari penjara itu. Aku mengerti, sebabnya ku putuskan tanah biru itu berlalu dan ku serahkan kepada penerusku.
Taman tawa ku hadirkan untukmu. Kelak dirimu akan terlepas dari kegundahan batinmu. Dunia ini memang telah dikonsep dengan rapi, kau jangan sendiri. Masih banyak pohon-pohon yang peduli denganmu. Kemarilah nanti kita tertawa dan berkarya, di Taman tawa. Pemilik semesta selalu bersama tindakan baikmu. Inilah hasil dari sekolahku, bukan sebuah kertas yang harus ku kasih ke raja-raja diktator itu. Kelak kita akan sama-sama mengerti, jikalau mata ini tak ditutupi kacamata hitam dan keegoisan merajai hati.
Ketika engkau jadi raja jangan lupa berkunjung ke Taman-taman kumuh yang dulu tempatmu berbagi kopi pahit, bersihkan lah sesekali. Mereka tak mengharapkan emas darimu, mereka butuh senyum hangat darimu. Lihatlah mereka ketakutan denganmu, penjagamu begitu banyak dan bersenjata. Tidakkah kau ingin berbagi pakaian bekasmu? mereka begitu bahagia melihatmu. Taman in sengaja ku bangun untuk mereka dan kau, ketika sudah jenuh dengan kursi emasmu.
Hapus sudah sepimu, tangismu, dan bebaskan dirimu dari penjara batinmu. Ku tunggu selalu, temukan aku di Tawan tawa itu.
-nasutionzulfikar
Mata Rantai Kejadian
Dikisahkan, hiduplah sebuah keluarga bahagia. Ayah, ibu dan dua orang anak, laki-laki dan perempuan yang lucu. Suatu ketika keluarga tersebut tertimpa musibah, anak laki-lakinya sakit keras.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" desak sang ibu sambil menyeka air matanya. "Fikar terkena penyakit septicaemia. Penyakit yang cukup langka", tegas sang Dokter menjawab tanpa ada yang ditutup-tutupi. "Penyakit apa itu dok? Tapi anak saya bisa sembuhkan dok?", pinta sang ibu penuh harap. "Sabar bu, kami akan berusaha sekuat tenaga melakukan yang terbaik untuk keselamatan fikar", jawab sang Dokter seraya berusaha menenangkan suasana.
Mendengar berita bahwa Fikar, anak laki-laki mereka divonis oleh Dokter mengidap penyakit Septicaemia, bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Raga sang ibu perlahan terkulai lemah sampai akhirnya jatuh pingsan. Sang Ayah yang jelas ada di sampingnya sedari tadi setia menemani pun tak pelak jiwanya teraduk oleh perasaan yang tak karuan seraya langsung menangkap beban tubuh sang Ibu agar tak sampai jatuh ke lantai. Menurut Dokter yang mendiagnosa anak mereka, septicaemia adalah penyakit langka yang diakibatkan infeksi berat yang disebabkan bakteri dan ditandai dengan peradangan. Peradangan akibat septicaemia menyebabkan koagulasi intravaskular diseminata atau dalam bahasa asing dissemented intravascular coagulation (DIC). Ketika peradangan ini terjadi pada organ-organ vital seperti paru-paru dan jantung, penyakit ini bisa menyebabkan kematian.
Langkah cepat kaki sang Dokter seketika memecah keheningan ruang tunggu di depan kamar operasi.
“Ayah dan Ibunya Fikar, kami bersama tim Dokter sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan Fikar”, terang sang Dokter berusaha sambil berusaha memilih kata-kata yang pas untuk menyampaikan berita sebenarnya.
“Dok…. Dok…. bagaimana Fikar?, Fikar bisa sembuhkan Dok?…., Fikar bisa selamatkan Dok….?”, kembali pecah tangis sang Ibu meminta jawaban yang sesuai dengan harapannya.
“Fikar anak Ibu yang sangat baik dan kuat itu, mohon maaf tidak bisa kami selamatkan. Septicaemia lebih ganas dan kuat. Peradangannya sudah menyentuh paru-paru. Mari kita doakan Fikar agar ia diberi tempat terbaik oleh Tuhan”, jawab sang Dokter sambil menepuk pundak sang Ayah dengan mata yang juga menahan kesedihan.
Melihat Fikar terbujur kaku di ruang operasi, runtuhlah pertahanan sang Ibu. Sang Ayah pun tak kuasa membendung air matanya sendiri. Kenyataan seperti ini, bagi mereka adalah petaka dan musibah yang dahsyat.
"Mas…!" “Mengapa Tuhan mengambil anak kita?!” “Sungguh, ini semua tak adil. Mengapa musibah ini harus menimpa keluarga kita?! Mengapa bukan yang lain?!”
Setelah mendekap dan memeluk jenazah Fikar dengan erat, Sang Ayah kemudian berdiri dan menarik perlahan istrinya untuk mempersilakan perawat yang juga sedari tadi ada di ruangan menyiapkan jenazah Fikar supaya segera dimandikan.
"Innalillahi wa innailaihi rojiuun" "Sayang... Sabar sayang..." "Memang ujian ini sangat berat buat kita, sayang. Tapi kita harus menyadari bahwa Fikar adalah titipan yang Allah berikan kepada kita, sehingga sangat mungkin sewaktu-waktu Allah mengambilnya kembali"
3 hari kemudian, setelah Fikar dikebumikan.
“Tapi mas... bukankah Allah sama sekali tidak menganiaya hamba-Nya?!” “lantas mengapa Dia menimpakan musibah ini kepada keluarga kita mas ?!!”
“Istighfar sayang... sabar...”
“Mengapa Dia ibarat kekuatan buta yang tidak memandang sebelah mata terhadap kesenangan dan penderitaan manusia. Dia ciptakan sesuatu, lalu dihancurkan-Nya sendiri tanpa alasan!”.
“Astaghfirullahaladzim... jaga lisan kita sayang” “Ingat... Allah itu Maha Penyayang. Dia ingin menguji kadar keimanan kita. Dia ingin menguji kadar kecintaan kita terhadap sesuatu”.
“Tapi mengapa harus keluarga kita mas?!”
“Sayang... Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Segala peristiwa, yang penting maupun tidak penting, tidak akan terjadi dengan sendirinya, melainkan merupakan lingkaran mata rantai peristiwa; dan hanya muncul bila sejalan dengan kepentingan yang menyeluruh, yang tidak terlepas dari pengawasan Allah, dalam pengaturan-Nya terhadap alam yang tidak terbatas ini”. “iya mas, aku mengerti...”
“Mana mungkin Allah itu memprioritaskan sesuatu yang tidak memiliki kemaslahatan dari sesuatu yang memiliki kemaslahatan. Satu di antara hal yang tidak perlu diragukan kebenarannya adalah kita tidak mengetahui segenap rahasia dan hikmah yang tersembunyi di balik tindakan-Nya, lantaran penglihatan kita tidak mampu meliput seluruh alam”.
“hmmm....”
“dan yang pasti, tidak ada pilihan yang paling baik, berdasar ilmu-Nya, selain dari apa yang telah ditetapkan-Nya itu”, ujar suaminya.
“betul mas...” “maafkan kelancangan hamba Ya Allah. mulai saat ini hamba ikhlas dan menyerahkan semuanya kepada-Mu...”, dengan harap yang penuh haru dipelukan suaminya.
Epilog
Mari kita ingat-ingat apa yang kita lakukan pertama kali saat cobaan datang? Mengumpat? berkata ‘Sial!’? Menyalahkan keadaan? atau berserah diri pada Allah?
Yah, kadang dalam hidup ini adakalanya kita dihadapkan pada kondisi di mana cobaan terasa begitu bertubi-tubi.
Pilihan kita dalam merespon suatu ujian akan menentukan sejauh mana kedewasan kita dalam bersikap.
(c) Ahmad Mujahid
*ps: inspirasi tulisan ini adalah “Di depan Mahkamah Akal” karya Abdul A’la Maududi