TERJAGA DALAM SYUKUR
Bukan maksudku mencari tau sampai batas mana kuasa-Mu, bukan juga bermaksud menemukan kebenaran, apalagi memperbandingkan antara Pemilik semesta yang diklaim leluhur. Aku hanya haus, haus, haus akan pengetahuan dan perjalanan.
Entah seberapa banyak realitas yang kemudian menyiksa batin, entah seberapa banyak cacian, entah seberapa banyak kegagalan, entah seberapa banyak pertanyaan, entah seberapa banyak waktu, entah seberapa banyak krikil, entah seberapa gelap jalanan, entah seberapa banyak penghiatan, entah seberapa banyak kemunafikan, entah seberapa banyak tangis, entah seberapa banyak rindu, entah seberapa banyak ketidakpastian.
Akan terus ku cari, ku analisis, ku uji, ku uji lagi, dan ku simpulkan pola-pola itu. Terjadi, walau awalnya begitu susah untuk menjadikannya prinsip, walau awalnya begitu berat untuk dijadikan akhiran.
Rasa syukurku teramat mendalam kepada-Mu sang pemegang kendali permainan yang wajib ku menangkan ini. Kau begitu agung dalam memelihara imajinasiku, logikaku, pemikiranku, batinku, ragaku, dan semua elemen dalam rantai tubuhku.
Semakin ku tau siapa makhluk-makhluk terbaik yang siap mendukung, walau aku hilang entah kemana, walau aku tersesat di perjalanan, walau aku jatuh ke jurang, walau aku sejenak mati karena penghianatan, walau aku berdiam karena dosa, walau aku miskin harta, walau aku tenggelam dalam masifnya kemajuan.
Aku tak mau menjadi manusia, aku tak mau menjadi binatang, kelak aku hanya ingin jadi sebatang pohon dewasa dengan akar yang kokoh, batang yang besar, ranting yang banyak, dan daun yang rindang. Akan ku hirup kotoran manusia dan ku jadikan udara segar. Akan ku bangun rumah untuk mu saudaraku binatang. Akan ku jaga dari badai yang datang, dari derasnya hujan, dari amukan banjir, dari terjangan longsor, dan semua hal yang mengancam.
Aku tau ini tak mudah Pemilik semestaku, aku ketakutan pada manusia yang buta karena harta, tahta, dan wanita. Aku ketakutan pada binatang yang kelaparan. Rasa takutku memang tak sebesar ketika aku masih beranting empat, tapi rasa takut itu tetap ada. Ketakutan terbesarku pada manusia yang Kau berikan pemikiran cerdas, aku takut mereka terus menerus menjadikan pemikiran cerdasnya sebagai pengelabu batin.
Konsepan-Mu sungguh adil, sudah ku temukan dan akan terus ku jaring anak-anak pohon yang sengaja Kau hadirkan dengan pemikiran aneh, akan ku jaga. Pertemukanlah selalu. Jauhkanlah dan hidupkan.










