I; Injakkan!
Ketika kalian tidur, setan membuat tiga ikatan di tengkuk kalian. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika ia berwudhu, lepas lagi satu ikatan berikutnya. Kemudian jika ia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, jiwanya jadi kotor dan malas.” (HR. Al Bukhari)
Berubah memang mudah, tapi tidak dengan istiqomah. Butuh waktu untuk mempersiapkan; gencarnya doa, tekad bulat, dan usaha yang nyata. Semua orang mampu berubah, tapi tidak semua mau untuk istiqomah. Meski tak semudah mengatakannya, lantas apa kita harus termindset seperti itu seterusnya? Tidak! Lalu bagaimana? Hadits diatas merupakan motivasi bagi kita. Seringkali kita menyalahkan keadaan iman kita yang pada dasarnya mudah naik dan turun. Padahal sejatinya, yang membuat iman kita lemah ialah pola hidup keseharian kita sendiri. Hanya mereka yang cerdaslah, yang paham akan dirinya, kapan dan bagaimana menginjakkan pedal istiqomah ketika imannya goyah.
Mulailah hari-harimu dengan mempraktekkan hadits diatas. Bangun tidur dengan membaca doa, lalu wudhu, dan sholatlah minimal dua rakaat. Seringkali kita bingung, darimana hendak memulai kebaikan. Acapkali kita mengatakan belum siap untuk berbenah dikarenakan lingkungan, padahal itu hanya alibi saja. Coba dimulai dari memperbaiki sholat dan keseharian kita terhadap ibadah lainnya. Sering terlupa, bahwa ibadah sunnah juga untuk melengkapi cacatnya ibadah wajib kita. Memilih teman dekat yang baik agamanya, supaya kita juga semangat dalam memperbaharui setiap langkahnya. Apabila kita sudah sering melakukan aktivitas ibadah secara rutin, namun tak memberikan ketenangan hati, sudilah untuk mengaca dan menengok ke dalam hati.
Untuk apa kita beribadah selama ini? Apa hanya sekedar rutinitas, sehingga sama sekali tak berbekas? Lantas, maukah kita memperbarui niat di sela-sela kesibukan?
Baik buruknya lingkungan memang mempengaruhi keistiqomahan kita. Tapi sejatinya, yang berupaya untuk tegak ialah diri kita sendiri, bagaimana usaha kita untuk tetap istiqomah. Entah itu terus meminta kepada Allah, entah itu memperbanyak ibadah dan menjauhi maksiat, entah itu memperbaharui lingkaran teman, entah itu berusaha untuk meluaskan hati dan mendidik diri. Jadi, di tangan kita hanya ada dua pilihan; bersedia berjuang atau enggan.
Malang, 27 September 2017 | Pena Imaji
Merupakan proyek menulis bersama @xyouthgen di hari kelima dengan tema “Istiqomah”. Maap kak mimin, telat lagi dikarenakan tugas yang setianya pake banget menemani hari, sampe jiwa raganya ikutan ngedrop wkwk. Terimakasih sudah mengajak kak^^












