Biarlah kita keliatannya jelek, hidupnya amburadul, tapi diem-diem berusaha buat jadi kecintaan-Nya Allaah. Beneran senyaman itu gak keliatan jadi apa-apa di hadapan manusia, tapi usahanya kenceng banget buat bikin Allaah jatuh cinta.
@terusberanjak

seen from United States

seen from Colombia
seen from Saudi Arabia

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Australia
seen from China

seen from United States
seen from Kazakhstan

seen from Canada
seen from China

seen from Malaysia

seen from Canada
seen from Canada
seen from Venezuela
seen from Saudi Arabia

seen from Australia
Biarlah kita keliatannya jelek, hidupnya amburadul, tapi diem-diem berusaha buat jadi kecintaan-Nya Allaah. Beneran senyaman itu gak keliatan jadi apa-apa di hadapan manusia, tapi usahanya kenceng banget buat bikin Allaah jatuh cinta.
@terusberanjak
-SENYUMAN-
Teringat akan penggalan waktu yang tadi menjumpaiku saat sedang membeli beberapa botol minuman dingin di sebuah minimarket. Dari parkir di depan sebuah minimarket langganan, kulihat seorang suami istri sedang berbelanja memilih buah atau bahan makanan di dalam sana.
Kulihat sang suami memandangi istrinya yang sedang memilah belanjaan dengan pandangan teduh. Tak lama terkembang senyum merekah di wajah sang suami, selaras kemudian sang istripun memandang suaminya dan membalas dengan senyuman kebahagiaan.
Sejujurnya aku terkesima melihat semburat aura cinta kasih satu sama lain dari mereka meski hanya dari pandangan dan senyum semata. Terasa bahagia mereka memancar dan menyebar hingga tertangkap oleh inderaku.
Hanya melihat mereka, aku turut bisa merasakan pancaran bahagia diantara mereka. Semoga saja jalinan mereka dijaga Tuhan agar selalu dalam bahagia.
Terima kasih sudah memperlihatkan pada diri ini sesuatu yang terasa indah. Akupun menyalakan Supraku dan menapaki jalanan kembali.
Jurnaling: Habit yang Menyelamatkanku dari Depresi
Hidup sebagai manusia dewasa memang terlihat menyenangkan. Tak ayal, kita yang dahulu masih kecil sering kali berkeinginan untuk segera dewasa. Kita bertanya kapan ya menjadi dewasa. Kapan ya bisa lulus SMP, SMA, Kuliah kemudian bekerja dan bisa menghasilkan uang sendiri. Sekarang, kita sudah di titik itu, di momen yang sebetulnya telah kita harapkan dari dahulu. Tapi, bagaimana rasanya sekarang? hehehe, susah ya menjadi dewasa?
10
Sendiri dalam Ilusi
Sendiri berjalan ditengah malam nan sepi
Kian jauh melangkah, semakin gelisah
Suara almarhum Chrisye memenuhi gendang telingaku. Alunan piano itu merayap masuk melalui headset yang kubeli di festival dulu. Damai, itu yang kurasa setiap kali mendengarnya. Seolah aku berada dalam dimensi lain yang membuatku merasa tenang, nyaman, tanpa beban.
Hari ini pikiranku sangat kacau tak karuan. Entahlah, kurasa setiap orang merasakan hal yang sama. Menerka-nerka tentang apa yang ingin dilakukan.
"Kemana selanjutnya akan melangkah? Apa tujuanku sebenarnya? Apakah akan terus seperti ini?"
Pertanyaan itu selalu melayang-layang di ruang kesadaran; siang dan malam.
Untungnya, suara Chrisye selalu menyelamatkanku. Lagunya yang berjudul "Sendiri" telah kuputar 3 kali sejak aku duduk di halte bis ini.
Langit biru berubah menjadi kelabu. Sang awan telah mengalahkan sang mentari. Gemuruh petir riuh sana sini tanda akan turun hujan. Orang berseragam sibuk kesana kemari mencari tempat berteduh. Rehat sejenak untuk menenangkan tubuh.
Tak lama kemudian, hujan pun turun. Membasahi bumi yang lelah karena polusi. Memberi kesempatan untuk tanaman yang rindu akan hujan.
Jalanan agak sepi, mungkin karena hujan. Tapi, pikiranku tak sepi sama sekali. Ramai seperti karnaval.
Aku memejamkan mata untuk mengosongkan pikiran. Suara rintikan hujan, aroma tanah yang khas, gemuruh petir, dan riuh angin menyatu padu menjadi simfoni alam. Tak pelak, suara Chrisye pun masih terus kuperdengarkan. Syahdu.
Irama konser alam ini seperti lagu pengantar tidur. Sayup-sayup suaranya mulai menghilang, menandakan ku mulai masuk ke alam bawah sadar.
"Permisi, bolehkah aku duduk disampingmu?" tiba-tiba seseorang mencolekku, mengacaukan ritual melepas penatku. Sambil menunjuk tempat duduk, orang tersebut meminta izin untuk duduk di sampingku.
"Duduk saja, kau tak perlu meminta izin kepadaku. Lagipula halte ini bukan milikku." Aku sedikit kesal.
"Maafkan aku karena membangunkanmu. Aku hanya butuh seseorang untuk diajak berbincang." Ia bicara sedikit menunduk.
"Baiklah, lupakan." Aku tak menghiraukan.
Hening.
Cih, aku sudah tak bisa melanjutkan ritualku. Gara-gara orang ini tiba-tiba muncul entah darimana, dengan seenaknya membangunkanku yang sedang menikmati konser alam.
Tapi, aku penasaran dengannya. Diam-diam aku meliriknya, sepertinya tidak asing. Seorang laki-laki berkacamata memakai kemeja hitam lengan panjang yang dilipat sampai siku. Sepertinya dia kutu buku. Perawakannya tidak terlalu tinggi. Rambutnya sedikit kriting, atau entahlah bergelombang mungkin?
Aku menerka-nerka, siapakah orang ini?
Oh, aku ingat. Dia adalah orang yang kulihat di perpustakaan umum tadi. Sempat aku memperhatikannya, sedang duduk di sudut perpustakaan rak buku Filsafat Sejarah.
"Oh ya, hari ini hari spesialmu. Selamat beranjak dewasa" ia tersenyum, memecah keheningan.
Aku terkejut, sedikit menggeser posisi duduk. Bagaimana bisa ia tahu hari ulang tahunku? Padahal teman-temanku saja tak ada yang ingat. Pengingat hari ulang tahun di sosial media? Aku menggunakan tanggal palsu. Bagaimana mungkin?
"Sudah kuduga. Kau pasti terkejut. Tenang, aku bukan orang aneh. Aku kan bagian dari dirimu." ia sedikit tertawa melihat ekspresiku.
Hah? Bagian dari diriku? Lelucon macam apalagi ini?
"Bicara apa kau ini? ngawur sekali" kataku sambil membuang muka ke jalan "tapi, baiklah terimakasih atas ucapannya."
"Ngomong-ngomong, mengapa kau menggunakan tanggal palsu di akun media sosialmu? Bukankah itu bisa jadi pengingat untuk teman-teman yang ingin mengucapkan selamat untukmu?" dia bertanya seolah telah lama mengenalku.
"Bukannya ku tak mau, tapi aku hanya ingin tahu saja siapa yang benar-benar menjadi temanku. Bukankah teman sejati tak perlu pengingat untuk memperingati hari ulang tahunku?" aku menjelaskan.
"Lantas, adakah temanmu yang mengingatnya? Yang memberi hadiah atau sekedar mengucapkan selamat untukmu?" dia cerewet sekali.
"Tidak ada, hanya kau satu-satunya orang yang mengingat hari ulang tahunku," aku menghela napas
"lagipula aku tak peduli dengan semua ini. Tidak ada teman yang mengingat hari jadiku, itu sudah merupakan hadiah istimewa untukku."
"Sudahlah, tak perlu khawatir,"dia menatap ke jalanan, aku terus memperhatikan.
"Semakin dewasa seharusnya kau sadar, jika satu persatu teman-temanmu akan menghilang" Ia terdiam, kemudian melanjutkan, "bukan, bukan karena keinginannya. Memang seperti itulah kerjanya. Mereka sibuk terbang dengan sayapnya sendiri untuk mengejar mimpi yang telah mereka rancang. Dan tak ada waktu untuk melirikmu atau bahkan membawamu terbang. Kau juga punya sayap, bukan? Terbanglah dengan sayap sendiri, setidaknya saat kau jatuh, kau tak akan menyusahkan orang lain."
Sayap? Aku suka perumpamaan itu. Dia benar, sudah seharusnya aku tak terlalu bergantung dengan orang lain.
"Jadi, apa harapanmu hari ini?"
"Harapanku banyak. Tapi, bisa bahagia dan merasa tenang dalam menjalani hidup bersama orang yang dicinta, itu sudah cukup."
"Ahh, begitu. Apa kau pikir selama ini hidupmu tak bahagia? Merasa gelisah tanpa tau penyebabnya apa?"
"Ya, bisa dibilang begitu. Dulu aku pernah merasakan hal yang sama. Tapi, waktu itu aku minta kepada Tuhan supaya mengirimkan seseorang untuk mengubah hidupku. Dan benar saja, itu terjadi."
Dia terus mendengarkan.
"Namun, setelah kupikir ia berhasil mengubahku, ia tiba-tiba pergi. Dan aku pun tak mau lama-lama untuk singgah atau terus menerus bergantung padanya. Kupikir Tuhan hanya memberikan beberapa waktu saja untuk mengubahku lewat orang itu. Tuhan pasti memiliki alasan kenapa Dia mempertemukannya denganku. Bisa saja dengan kehadirannya Tuhan sedang mengujiku. Apakah dengan hadirnya dihidupku akan memperkuat cintaku Pada-Nya? Atau justru melemahkan cintaku pada-Nya? Tuhan pasti punya banyak alasan.
"Dan waktu itu, aku tak terlalu peduli jika ia pergi. Aku hanya berpikir, jika aku berubah karena seseorang, sebenarnya aku belum benar-benar berubah. Justru itu yang membuatku jauh dari jati diri sebenarnya. Walaupun pada akhirnya, aku harus tetap berterimakasih padanya dan Tuhan sudah tentu yang utama" Pikiranku melesat menuju lorong waktu kembali ke masa lalu.
Dia hanya terdiam, memerhatikan.
"Tapi sekarang, aku merasa kekosongan itu datang lagi" aku tertunduk.
"Sudahlah, tak perlu khawatir lagi," akhirnya dia angkat bicara "kau tahu rahasia agar hidup tenang?"
Aku menggeleng.
"Kau hanya perlu melakukan satu hal yang sempat kau lakukan dulu. Kau pun tahu jawabannya. Tapi, karena beberapa hal, mungkin kau melupakannya. Biar kuingatkan, sekali lagi." ia menggantung kalimatnya, seperti sengaja untuk membuatku penasaran.
"Ingatlah Tuhanmu, Alloh." ia tersenyum.
"Libatkan Tuhan dalam segala hal. Bukankah kau bilang Tuhan telah menghadirkan seseorang saat kau minta? Walau pada akhirnya, Tuhan juga yang membuatnya pergi. Tapi, percayalah, apa yang ada di sisi Tuhan, itu lebih baik dari seluruh isi langit dan bumi."
Aku terus memperhatikan.
"Dan ada hal yang harus selalu kau ingat. Kau harus senantiasa menerima apa yang Tuhan berikan dan merelakan apa yang Tuhan ambil kembali. Lapangkan dadamu, luaskan hatimu, jernihkan pikiranmu. Itu sudah cukup untuk membuatmu bahagia dan tenang"
Tak terasa air mataku jatuh membasahi pipi. Dia benar, aku terlalu naif untuk terus mengandalkan diri sendiri. Padahal aku pun tahu, bahwa Tuhan yang menentukan segalanya. Tidak mungkin Tuhan menelantarkan hambanya.
Bodoh. Aku telah mengerdilkan kuasa Tuhan.
Blarrr. Suara petir tiba-tiba menyambar.
Sayup-sayup suara Chrisye terdengar kembali.
Bayu dingin lalu,
tapi tak mengedip sayu
Rembulan menyuram
Tiada terbayang
Harapan..
Sial. Leherku sakit. Aku merasa pegal diseluruh tubuhku. Aku menguap mengerjap-ngerjapkan mata. Membenarkan headset sebelah kiri yang sejak tadi terlepas di telinga.
Waktu telah menunjukkan angka 6. Hari mulai berganti malam tapi dari tadi belum ada bis yang datang.
Aku melihat sekeliling. Nihil tak ada siapa-siapa. Beberapa kendaraan lewat tanpa permisi. Lampu jalanan telah menyala sebagaimana mestinya.
Aku menghela nafas panjang. Menutup wajahku dengan tangan. Mengingat-ngingat apa yang baru saja terjadi. Percakapan sebentar, dengan orang tak dikenal.
Sial. Dia menghilang.
Aku cukup lama terdiam. Menerka situasi.
Aku keliru, dia tidak hilang. Karena sebenarnya dia tidak pernah benar-benar ada. Dia tidak nyata!
Sampai akhirnya ku sadari, dia hanyalah ilusi yang kubuat sendiri.
Sendiri melangkah di jalan remang membisu
Ku nanti engkau sinar
Bersama
Sang fajar..
Ruang Ilusi, 22 Januari 2023
Catatan: Cerita ini kutulis pertama kali pada tahun 2020. Setelah melalui beberapa revisi, akhirnya selesai di tahun ini, 2023! Selamat membaca, walaupun kuyakin tulisan ini masih banyak kekurangannya.
Jika penantian yang kamu tunggu-tunggu tidak kunjung datang, barangkali ia memang tidak sedang menujumu.
Jika kepergian yang kamu tunggu-tunggu tidak pernah kembali, barangkali ia memang tidak berniat untuk tinggal.
Terkadang kamu terlalu lama memberi waktu pada penantianmu, sampai kamu tidak sadar jika kamu sedang kehilangan kesempatan.
Kamu kehilangan waktumu yang paling berharga untuk menemukan dan dipertemukan.
Mungkin kamu perlu beranjak dari tempatmu sekarang, dari penantian yang tidak pernah menemukan ujungnya.
Penantian panjang yang hanya memintamu menunggu, tetapi tidak pernah memastikan bahwa kelak ia memang untukmu.
Mungkin kamu perlu lebih peka melihat dari berbagai sudut pandang, untuk lebih mendengarkan apa yang sebetulnya hatimu inginkan.
Bisa jadi di luar sana ada yang lebih pantas untuk kamu perjuangan, tetapi hatimu tidak pernah memperhatikannya.
Hatimu tidak pernah melihat ke arahnya.
—ibnufir
Baru aku mau beranjak, ternyata cinta sudah terlebih dahulu berpijak.
Jika suatu saat kau dapati aku tak lagi di tempatku, coba tanyakan pada dirimu dimana selama ini aku kau tempatkan. Hati manusia itu terbatas, bisa patah pun bisa lelah.
Cerpen: Sampai Kapan?
Pertanyaan ini seperti tidak ada ujungnya. Di ruang tunggu ini, kamu seolah-olah menantikan ia yang tidak kunjung datang. Kamu selalu menantikan kedatangannya yang tidak pernah memberikan kepastian. Tak sadar bahwa kamu terlalu lama memberi waktu pada penantianmu, sehingga kamu kehilangan kesempatan. Kamu kehilangan waktumu yang paling berharga untuk menemukan dan dipertemukan.
Sudah saatnya kamu beranjak dari ruang tunggu ini, dari penantian yang tidak pernah menemukan ujungnya. Barangkali ia memang tidak sedang menujumu. Barangkali ia memang tidak berniat untuk tinggal. Penantian panjang yang hanya memintamu menunggu, tetapi tidak pernah memastikan bahwa kelak ia memang untukmu. Ada saat di mana kamu harus memilih untuk berhenti menunggu. Bukan karena tidak ingin bertahan, namun keadaan yang melelahkan memaksamu beranjak dari ketidakpastian.
Sudah saatnya kamu perlu lebih peka melihat dari berbagai sudut pandang, untuk lebih mendengarkan apa yang sebetulnya hatimu inginkan. Bisa jadi di luar sana ada yang lebih pantas untuk kamu perjuangkan, tetapi hatimu tidak pernah memperhatikannya.
Hatimu tidak pernah melihat ke arahnya.
Potret Memori | Jakarta, 27 Desember 2020