#mgw18 #fieramilano #redbullfactions2018 #leagueoflegends #mfarcade #skinmf (presso Fiera Milano City) https://www.instagram.com/p/Boyu2cmC0IO/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=tr7x1ftelth1
seen from Finland
seen from South Africa

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from Italy

seen from Netherlands
seen from United Kingdom
seen from China

seen from United Kingdom
seen from Poland

seen from T1

seen from China
seen from United Arab Emirates
seen from China

seen from Malaysia

seen from Australia
seen from Maldives
seen from China
seen from Egypt
#mgw18 #fieramilano #redbullfactions2018 #leagueoflegends #mfarcade #skinmf (presso Fiera Milano City) https://www.instagram.com/p/Boyu2cmC0IO/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=tr7x1ftelth1
Assistendo Le finali dell'University Esport Series a Milano a #mgw18 (presso Milan, Italy) https://www.instagram.com/p/Boq9lZSCgqp/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=153mzocl92mdy
Pubblicando questa foto volevo ringraziare @nintendoitalia che con questo stand ha reso il #mgw18 la fiera più bella del mondo🎉 Volevo ringraziare @cydonia_pm @_chia.rar @federic95ita @tuberanza_official @dlarzzyt @frakez @_froz3n_ per aver animato in maniera ottima tutti gli eventi nintendo😂🎾🎉 E infine il mio amico @lorenzmoby compagno di battaglia di questi bellissimi giorni💪🏻💪🏻 . . . . . #dbale93 #milangamesweek #mgw18 #mgw #pokemon #nintendo #splatoon2 #cydonia #pokemonmillennium #federic95ita #dlarzz #frake #tuberanza #froz3n (presso Milano Rho Fiera) https://www.instagram.com/p/BopRtZJHV08/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=znqu2mf0sp2c
(via https://soundcloud.com/mgw18/almita-dkv-isi-yogyakarta?utm_source=soundcloud&utm_campaign=share&utm_medium=tumblr)
AL&MITA DUO MAUT sing a song DKV ISI for kinetic typography assignment :D 80% for fun so enjoy :D
Kepastian atas Kemungkinan Keadaan Karina Kini...
Karina runyam karena dirinya sendiri. Kasihan sungguh kasihan. Malang karina yang malang. Dia butuh jaket yang tebal untuk menghangatkan dirinya dari dingin akibat gerimis malam yang tak kunjung berhenti. Sudah pucat wajahnya diterpa angin uji. Uji atas kehendaknya yang sombong dan bodoh.
Kini karina gemetar hebat. Dia berdiri di pinggir jalan sepi. Belakangnya pohon rindang. Tengah malam. Gerimis lebat. Rambutnya meruncing dan menebal, basah menyerap air. Tanpa cahaya depan kendaraan yang lewat ia hanya akan terlihat seperti tiang kabel Telkom, hitam langsing. Sebenarnya sudah untung ada lampu penerangan jalan. Tapi dilihat dari jauh pun tetap hanya akan nampak siluet saja. Bayangkan saat kau mengendarai motor atau mobil lalu melihat karina berdiri mematung sedikit gemetaran di pinggir jalan, dengan muka derita yang ia tampakkan, dengan gaun selutut yang begitu anggun, tentu ia akan nampak seperti kuntilanak.
Ha? Sejak kapan aku bilang dia seorang perempuan?
Aduh, perempuan bukan ya…
Yah, perempuan sajalah. Mari kita anggap karina adalah seorang gadis berumur sekitar 20 tahunan. Cantik pastinya.
Tidak waras sayangnya.
Duh.
Kok bisa begitu ya?
Ini semua karena akal pikirnya. Sayang beribu sayang ia terlalu banyak berpikir hingga gila.
Gila akan pujian, maka dia akan berpikir di sanalah ia melabukan tubuhnya untuk mengabdi. Pada pemuji ia akan sembah dan patuh. Agar selalu mendapat pujian. Jiwa raganya ia serahkan pada sang majikan yang sayangnya adalah lintah hutan raksasa.
Diperkosalah jiwanya. Dipecutlah tangan kakinya.
Sayang sekali.
Cantik-cantik eh bodoh. Haduh.
Tapi dia bilang ke aku itu hanya ramah tamah. Ia ingin banyak membantu orang.
Secara logika mahasiswa Sewon statement itu sudah sulit untuk dipakai. Masa kamu mau membantu orang jahat untuk menjahatimu dan menjahati orang lain? Iya kan?
Aku bilang begitu ke Karina tapi ia hanya melengos lalu pergi. Menguap ke udara. Menghilang. Plaza saat hujan pukul lima sore. Saat aku menemukan dia duduk di salah satu anak tangga plaza yang masih ku ingat bau tanahnya sampai sekarang.
Ada ya orang seperti itu. Dasar bodoh. Memang benar kamu dilahirkan di dunia ini, memiliki fisik sempurna seperti itu untuk bekerja, untuk merusak bagian-bagian tubuhmu agar menghasilkan karya hebat. Tapi.
Tapi.
Tapi Karina mau ikut aku balik ke rumah yang di utara tidak ya? Sekalian mampir rumah sakit jiwa di dekat sana?
Tapi.
Dia juga terlalu banyak jatuh cinta. Kepada semua lelaki ramah yang ia jumpai di pinggir jalan, sedikit perbincangan, ia langsung jatuh cinta. Mungkin jatuh suka lebih tepatnya. Satu lelaki lewat ia jatuh suka, ada lelaki lewat lagi ia jatuh suka lagi.
Kasihan kalau ada lelaki yang mengajak ia pacaran. Mungkin tiga hari langsung putus.
Sebenarnya simpel saja sih. Ia menginginkan seorang lelaki yang memiliki rumah. Di mana rumah itu tinggal si lelaki yang pandai mendengarkan semua celotehannya yang, yah, berat. Politik, gosip teman sekelas, sci-fi, pertemanan, gula, asap, awan, rumput, tanah, lava, hukum ohm, mendel, kacang polong, konstruksi, jembatan, hakikat, dan banyak lagi. Yang mau memperhatikannya secara ikhlas. Menerimanya apa adanya. Dan yang lebih utama, dapat bekerja sama dengannya.
Tapi keinginannya itu secara bodoh ia tahan. Ia memendam luka lalu mengangkatnya menjadi canda tingkat satir, yaitu cintanya yang lama. Oh ya, sudah barang tentu karina cerita ini kepadaku belasan bulan yang lalu. Ia bercerita penuh emosi. Seperti ikatan lamanya yang emosional. Berakhir sadis yang dilebih-lebihkan. Aku bisa menertawakan kisah bodohnya itu sampai sekarang.
Ya, mungkin ia tak mau mengulangi kisah emosionalnya lagi maka ia mengunci peti manisnya dan membuangnya ke lubang hitam sehingga tak akan ada lagi yang bisa menemukannya termasuk dirinya sendiri. Ia tak akan paham apa arti dari memiliki lebih sekedar teman lelaki, apa hakikat mencintai, apa itu toleransi, apa itu memahami, apa itu mendengarkan, dan lainnya. Ia hanya akan paham bagaimana cara bekerja keras.
Bekerja sekarang adalah kehidupannya.
Yang ia hadapi tiap hari adalah proyek mengerikan dengan jangka waktu pendek. Ia suka itu. Ia suka dikejar-kejar. Ia suka dijawil dengan pedang. Ia suka dicambuk dengan waktu. Ia suka digorok dengan rasa bersalah. Darah berceceran di tempat kerjanya. Bau amis menyeruak ke seluruh penjuru tempat tinggalnya. Hingga warga sekitar mengira ada pembuhuhan di sana. Ia suka meneguk kopi yang banyak. Ia suka belanja untuk melampiaskan nafsu materialistisnya. Ia suka memiliki kantong mata dan kulit pucat berlebihan. Ia suka makan di tempat mewah. Ia suka uang melimpah. Ia suka tabungannya di bank angkanya merangkak naik dan naik. Ia puas. Ia dapat membeli segalanya yang ada di dunia ini. Ia bisa membeli tas ini, koper itu, dompet itu, sepatu itu, buku itu, kain itu, baju itu, peralatan itu…ini…itu…ini…
Pendarahan di seluruh tubuhnya bagai api darah. Menyulut-nyulut mengajak bertarung. Ruang kerjanya busuk. Saat darah di tubuhnya habis ia jatuh. Mengenaskan. Semua luka itu tak ada jahitannya. Bayangkan semua darah itu keluar. Badannya kosong, organnya mati. Otaknya perlahan kempes.
Barulah ia sadar ada yang hilang. Tak ada seorangpun di dunia ini yang bisa ia jadikan tempat bersandar.
Ia tetap tidak bisa menemukan suatu hal yang hilang itu. Otaknya terlalu kecil untuk berpikir. Badannya terlalu lemah untuk bergerak
Berakhir dengan menunggu di pinggir jalan. Di gerimis tengah malam. Bodoh sekaligus kasihan melihatnya sekarang.
Malang karina yang malang.