Ironi? Jenaka? Tapi ini mungkin bukan suatu hal yang kebanyakan manusia refleksikan....
Ada yang bilang manusia terhubung 1 dengan yang lain, tetapi kenyataannya manusia hanya mementingkan dirinya sendiri. Ada yang bilang bahwa manusia itu hakikatnya saling mengenal dan bersaudara, nyatanya manusia cuma ingin terkenal dan terlihat seperti raja menyuruh "budak-budaknya" menyembah dan bersujud kepadanya. Ada yang bilang jika manusia itu mahluk yang paling sempurna, tetapi justru manusia memilih untuk menjadi yang paling lebih sempurna di antara seluruh spesiesnya.
Ditakdirkan bahwasannya setiap usaha pasti akan ada hasil. Ada terminologi bahwa jodoh itu ada di tangan Tuhan. Manusia hanya perlu tunduk kepada-Nya dan melaksanakan apa yang sudah diperintah-Nya. Tapi apakah adil jika manusia hanya diam saja dan menunggu jodohnya tanpa melakukan usaha apapun untuk memperolehnya? Apakah adil juga bila manusia menyanggah hasil dari-Nya apabila tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya? Datang ke pernikahan/acara seseorang yang disukainya, tampak ingin menyampaikan selamat, doa, dan ucapan berbahagia, nyatanya menyimpan pedih, perih, dan memaksakan untuk tetap datang, membuat kericuhan hingga viral di jaringan sosial media. Yang tadinya acara disiarkan dengan khidmat, berujung bencana hanya karena salah satu orang yang datang untuk "membalaskan amarah" karena "ketidakadilan" yang dihadapinya.
Ditakdirkan bahwasannya manusia mempunyai akal sehat. Manusia dapat memilih mana yang harus dipilih dan mana yang harus dibuang. Bukankah lebih mudah jika manusia hanya memilih yang baik dan tidak memaksakan kehendak masing-masing? Tuhan sudah memberi pertimbangan-pertimbangan dari berbagai sumber (kitab hingga manusia lain), mengapa manusia tetap memilih untuk melakukan yang bersimpangan dari pilihan yang lebih baik baginya dan sekelilingnya? "Life is ours to choose," kata salah seorang YouTuber dan memang sangatlah benar bahwa hidup kita tergantung pilihan kita.
Diisyaratkan bahwa hidup itu sebuah pembelajaran. Memanglah perlu manusia belajar dan belajar pun tidak ada batasnya. Dari pembelajaran itulah manusia dapat melihat apa pun dari berbagai sisi, dengan harapan agar lebih bijak dalam meneliti dan menelaah sesuatu yang terjadi. Naas, semakin canggih zaman, semakin mundur dan tidak siap manusia dalam menerima sesuatu yang baru dan melihat dari berbagai sisi. Andaikata mereka mau menerima dan mempelajari apa yang dihadapi mereka, akankah mereka berubah? Atau justru menolak yang terjadi dan tetap bersikeras terhadap "pemikirannya" yang dibentuk sejak awal?












