Enggan Melupakan
Barusan ada seseorang yang datang untuk mengulurkan tangan, aku tak menolaknya tapi aku menangis karenanya. Kau tahu? Jika hati ini masih tetap sama, masih saja kamu yang bersemayam dibalik rindu yang terdalam.
Proses ini tak hanya sehari dua hari, tapi sudah bertahan hampir 3 tahun lamanya. Bukankah kau bisa menyebutku penunggu yang ulung? Bahkan disaat kau tidak menyadari rasaku.
Lelah. Itu yang selalu aku rasakan, ketika aku berhenti sejenak. Tapi itu tak membuatku beranjak pergi. Tahukah kamu? Semakin hari rasa ini bukannya semakin luntur. Tapi dengan leluasa aku menyimpannya sendiri.
Aku ingat ketika kita berhadapan, kau adalah orang yang menyimpulkan bahwa pancaran mataku begitu dalam. Ya. Kau benar, dan itu hanya kepadamu seorang. Tapi sayangnya engkau abaikan.
Apakah aku pernah menyebutmu sayang? Tentu kau tak pernah dengar, karena akupun tak pernah mengucapkan. Bagiku rasa sayang bukanlah sekadar ucapan, tapi perbuatanmu yang selalu saja membuat tembok pertahananku luluh terlantahkan.
Maaf hujan.. Aku dengan lancang selalu mendoakan kebersamaan kita di tepian malam. Semoga doa kita satu dan aamiin ku bisa menjadi milikmu seorang.
Bojonegoro, 1 Januari 2022









