"Liburan insyaAllah ke Yogya," katamu.
"Kamu boleh ngajak siapa aja kok," tukasku, dan disini akupun sadar bahwa ada lain disenyummu dan itu bukan aku. Aku dengan sadar telah mau menyakiti hatiku sendiri dengan kalimat itu.
Ada cerita di sepanjang jalan, tempat yang seharusnya kita menapak. Ada sisa-sisa kisah yang tanpa sengaja aku dengar, bahkan ketika tanpa sengaja nama itu disebut. Ya, namamu tersebutkan dan membuat detak jantungku berbeda dari sebelumnya. Akankah kita satu? Hey, aku berkali - kali memarahi diri, harusnya sadar bahwa siapa aku ini. Melihat keluarganya yang dari kaum berada, mamanya yang cantik jelita, keluarganya dari kalangan orang - orang mulia. Sedangkan aku? Hanya rakyat jelata, pengabdi saja.
Ada rintik yang menghantam ujung jilbabku, aku pikir hujan ternyata lelehan kenangan yang menyeruak dari balik sendunya bola mata. Ada bayanganmu yang kerap muncul disana, yang selama ini menjadi sebab semangat dan senyumku. Ternyata masih sedalam itu setelah tiga tahun tersiram doa dan harapan, aku sebut diam-diam di penghujung malam dan setiap sujud terbisikkan. Tapi kerap hati harus tersadar, kita bagaikan awan dan hujan, dan kau memilih bumi sebagai tambatan.
Aku harus kembali sadar, bahwa kisah kita kemarin hanya menjadi kenangan, bahkan janji - janjimu mengajak makan mie gacoan, pergi naik kereta api, dan banyak hal lagi harus aku lupakan meski kerap teringat dan tersadar bahwa itu adalah kemustahilan. Dan pada akhirnya hanya menyisakan sendunya bola mata dan kembalinya luka.
Taukah kamu? aku baru tersadar setelah melihat salah satu anak kamarku penyebab dia mual yang tak berkesudahan, dan kasusnya sama denganku. Ya, karena trauma yang mendalam, sangat dalam sehingga entah bagaimana menyembuhkannya. Perlu proses panjang, perlu waktu untuk menyembuhkan.
Dan sepertinya ini yang sedang aku rasakan, sudah 24 hari sejak terakhir November kita pergi untuk bertugas, dan malam harinya kamu sudah berbeda. Tiada pesan ataupun suara. Mungkin kamu sudah bahagia dengan lainnya bukan? Dan aku masih disini selalu menunggu pesan special, iya.. kamu.
Berkali - kali aku harus membunuh diriku, perasaanku, dan terpaksa mencabutnya, meski sakit terasa, ternyata masih belum sampai pada akarnya. Masih saja namamu yang tersemat dalam do'a, masih kamu yang selalu menjadi tema setiap pinta. Taukah kamu? Aku meminta menyudahi perasaan ini, tapi aku tak bisa mengatur perasaan ini, aku titipkan hatiku padaNya. Entah akan ditambatkan kepada siapa, setelah Dia menjadikan kamu sebagai salah satu alasanku bertahan selama tiga tahun ini.
Dan akhirnya aku lelah, dan meski masih saja tak mau menyerah. Karena aku punya doa-doa untuk memintamu kepadaNya. Ya, aku masih punya do'a dan kepercayaanku kepadaNya untuk selalu mengabulkan setiap do'a. Maafkan aku yang lancang kawan.