Syukur
Dunia ini berputar, dan hidup menjadi terlalu singkat jika kita melewatkan setiap hal-hal kecil yang terjadi di dalam hidup kita. Sering kali kita sebagai manusia dipaksa mengikuti “laju rutinitas” yang akhirnya membuat kita melupakan beberapa cuil kebahagiaan yang terjadi di dalam satu kurun waktu. Otak kita yang yang terbatas ini akhirnya terus berjalan bahkan berlari dan didorong untuk terus mengejar apa yang biasa orang-orang sebut dengat ‘target’. Bersyukur menjadi hal yang sering sekali kita lupakan dan singkirkan dari sisi manusia kita. Rasa cukup yang seharusnya bisa untuk menumbuhkan sumringah di wajah kita lagi-lagi tersingkirkan oleh target, target dan target. Padahal jika kita dapat sedikit peka dengan apa yang terjadi di sekitar kita, banyak sekali hal yang dapat membuat kita bersyukur dan merasa besar terlahir di dunia yang kecil ini. Saat saya sedang menulis blog ini, ada rasa syukur yang tiba-tiba membawa saya terbang kembali ke momen beberapa bulan ke belakang.
20 Agustus 2020. Sebuah pagi yang biasa. Saat itu saya sedang menikmati secangkir kopi menghadap punggung sebuah bukit di daerah Kopeng, Jawa Tengah. Terhampar luasnya perkebunan di bukit itu sejauh mata memandang. Entah apa yang terbesit di pikiran saya waktu itu, tapi badan saya tiba-tiba tergerak untuk mengunjungi bukit yang ada di depan mata saya. Segera saya ambil kamera saya untuk menemani saya berjalan menyusuri bukit. Sambil mengambil gambar di setiap beberapa langkah, saya tidak berhenti tersenyum menikmati pemandangan yang ada di depan mata. Menghirup segarnya setiap oksigen yang amat banyak tersedia di tempat itu. “Seger banget!” saya ingat sekali kalimat tersebut tidak berhenti terucap di setiap langkah saya saat menyusuri area perbukitan tersebut. Saya lanjutkan beberapa langkah saya sedikit menuju ke atas bukit. Saya lihat beberapa petani sedang berkebun di sana. Saya lihat ada petani yang sedang menyiram kebunnya. Ada juga petani yang ke sana untuk hanya sekedar mengunjungi dan memeriksa kebun tembakaunya.
Setelah agak lama berjalan, langkah saya terhenti di depan sebuah kebun cabai. Saya lihat beberapa petani sedang memetik hasil panennya di kebun tersebut. Lalu saya beranikan diri untuk masuk ke dalam perkebunan tersebut dan mengobrol dengan petani di kebun cabai itu. Saya bertemu dengan Ibu petani yang sedang sibuk dengan cabai yang sedang Ia petik. Saya meminta ijin untuk mengambil beberapa gambar mereka dengan kamera saya untuk saya jadikan lampir memori hidup saya. Sembari saya memotret di area perkebunan tersebut, Ibu petani itu bercerita keadaan kehidupan perkebunan dia di kala pandemi Covid-19. Harga cabai yang tadinya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saat itu jatuh seketika saat pandemi menyerang. Mereka harus memutar otak untuk dapat bertahan dengan hasil perkebunan yang mereka punya. Ia menjelaskan juga, bahwa ada beberapa rekan petani dari si Ibu memutuskan untuk berhenti sejenak dari kegiatan bertani dan beralih membuka warung di desa atau di pinggir sepanjang jalan Kopeng. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa pandemi berdampak sangat besar pada keadaan ekonomi di seluruh Dunia. Saya tertegun, berkaca pada diri saya yang waktu itu bisa dibilang memiliki keadaan yang sedikit lebih baik jika dibandingkan dengan keadaan yang saya saksikan waktu itu. Saya memandangi Ibu petani yang mengobrol dengan saya kembali melanjutkan memetik cabai bersama rekan-rekannya. Saya begitu tertampar ketika melihat mereka tetap tersenyum meskipun mereka lelah dengan keadaan yang sedang memburuk. Mereka tetap melanjutkan apa yang memang harus mereka lakukan. Berjuang di tengah pandemi yang belum tahu kapan akan datang ujungnya. Dengan melihat mereka berjuang dan tetap tersenyum di keadaan yang sulit itu, saya belajar bahwa kita tetap harus bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini walaupun keadaan sedang tidak baik-baik saja. Tetap berjuang di tengah cobaan hidup adalah salah satu bentuk implementasi dari rasa syukur itu sendiri. Memang kita sebagai manusia ada kalanya ingin mengeluh, tapi hidup tidak akan terus berjalan dengan hanya mengeluh dan mengeluh. Kita harus tetap terus berjalan dan melakukan hal terbaik yang kita bisa.
Setelah selesai memotret di area tersebut, saya berpamitan dengan Ibu petani tersebut. Ketika saya pamit, si Ibu memberi saya sebungkus besar berisi cabai merah yang sangat banyak sekali. Ibu petani itu bilang, “ini oleh-oleh dari kebun buat masak di rumah ya, Mas”. Saya kaget, dan tidak tahu harus mengucap apa lagi selain terima kasih berkali-kali kepada Ibu petani tersebut. Saya merasa tertampar lagi. Keras dan membekas. Ibu petani itu secara tidak langsung mengingatkan kepada saya untuk tetap berbuat baik bagaimanapun keadaannya. Di tengah keadaan yang tidak baik-baik saja ini orang banyak yang tidak memperdulikan orang lain bahkan mungkin banyak yang menyikut kanan kiri mereka untuk dapat tetap bertahan. Tapi tidak di sini, di depan mata kepala saya. Saya belajar, betapa berharganya kebaikan kecil yang dapat kita bagikan kepada sekitar. Sebuah tindakan kecil yang membuka mata saya tentang sebuah kebaikan. Terima kasih Ibu, semoga kesehatan dan keberkahan selalu menyelimuti kehidupan Ibu dan keluarga. Doa terbalut rasa terima kasih kepada Ibu petani saya ucapkan di hati berkali-kali mengikuti langkah saya meninggalkan bukit tersebut. Saya pergi dari bukit tersebut dengan membawa pelajaran tentang rasa syukur yang dalam. Saya membuktikan bahwa sebenarnya jika kita peka, kita dapat bersyukur dengan hal-hal kecil yang terjadi di sekitar kita.










