Atau, sebut saja begini. Suatu sore, kita duduk di pelataran. Bersama teh hangat seperti biasanya. Menyadari bahwa kita telah menua, melewati hari-hari yang semakin dingin. Seduhan teh hangat menjadi lebih manis meski bahkan tanpa gula.
Hari telah semakin sore saat kita melihat daun-daun gugur di halaman. Langit yang perlahan menguning, matahari sebesar bakso mendarat demikian tenangnya menghilang di kejauhan. Terang yang senantiasa pindah ke belahan bumi lain.
Aku menyimak dengan khidmat bagaimana suguhan mata ini tetap nikmat sejak dulu, tak berubah. Lanskap yang paripurna.
Saat usiaku belasan, gejolak muda memang meledak-ledak; Ceroboh, naif, keras kepala, haha. Aku malu mengingatnya, meski begitu kurindukan. Belakangan ini, aku terus teringat. Tubuh bugar menopang impian yang tumbuh di dada pemuda. Rasanya enak sekali hidup saat-saat itu. Bertindak seenaknya.
Sayangnya, juga padanya tertumpuk hal mengerikan. Sebentar! Aku sedang berusaha mengingatnya. Hmmm! Ah, ya.. Seringkali pikirku dulu, aku merasa hidup penuh beban, begitu berat, suasana hati tidak stabil. Entah hanya terjadi padaku, atau hampir semua anak seusiaku. Lucu sekali, saat kuketahui jauh setelahnya, beban-beban hidup itu telah menumpuk dan tak lagi berat memanggulnya. "Sudah menjadi keharusan manusia resah memanggul beban, karena itu ia hidup." Kata orang bijak suatu waktu.
Jadi begitu? Manusia hidup mengganti resah ke resah baru, berangkat dari ketidaktahuan ke ketidak-tahuannya yang lain. Aku menyungging dan berkata "Itu benar-benar terjadi di masa lalu".
"Srrrrrtt.." kuseruput teh hangatku, bangkit dari kursi dan berjalan masuk kedalam rumah. Hari sudah gelap.