Aku berkecil hati setiap detiknya, merasa keputusan apapun akhirnya kan membuat beban baru dihari-hari berikutnya.
Aku ingin melambaikan tangan bukan maksudku menyerah untuk bertahan, hanya saja aku lelah berjuang seorang.
seen from United States
seen from Iceland

seen from Iceland
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Qatar

seen from Kazakhstan
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Lithuania

seen from United States
seen from Japan

seen from United States

seen from United States
seen from Italy
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States

seen from United States
Aku berkecil hati setiap detiknya, merasa keputusan apapun akhirnya kan membuat beban baru dihari-hari berikutnya.
Aku ingin melambaikan tangan bukan maksudku menyerah untuk bertahan, hanya saja aku lelah berjuang seorang.
One of the Most Infamous Case
Budi mendapat surat dari seseorang yang tak mencantumkan identitasnya. Berkali-kali ia teliti, ia bolak-balikkan amplop dan selembar kertas itu, sisi demi sisinya, tetap tak ada, tetap tak mampu ia terka sedikit pun siapa pengirimnya. Namun barangkali surat itu adalah salah satu hal yang paling dinantikannya selama ini. Seseorang itu, mengaku bahwa ia ada di dekat seorang laki-laki yang sudah sangat tua, seorang ayah yang gadis kecilnya terbunuh hampir 25 tahun yang lalu. Laki-laki itu kini sedang sekarat, menderita kanker stadium akhir, selain penyakit lain karena faktor usianya. Laki-laki itu ingin mengatakan sesuatu yang selama ini disimpannya, belum pernah ia ungkapkan di media dan kesempatan mana pun, berkaitan dengan kematian gadis kecilnya. Budi memang salah satu investigator utama dari kasus pembunuhan paling terkenal di dunia itu. Kejadiannya jauh di negeri orang sana. Namun, tahun-tahun panjang yang dilaluinya kemudian seolah menemui jalan buntu, sampai 10 tahun lalu ia mengundurkan diri, meninggalkan kasus yang tetap tak bisa terselesaikan. Meski ia sudah kembali menjadi warga biasa, bukan warga negara itu lagi pula, tapi ia tak pernah sedikit pun melupakan apa yang pernah dikerjakannya, dan ia berharap suatu saat semua dapat terpecahkan. Maka ia bertekad mendatangi laki-laki itu dan si pengirim surat, mengikuti petunjuk yang dituliskan melalui surat, dengan penuh harapan. Tentu ia menceritakannya kepada Ani. Sekaligus untuk sedikit meredakan ketegangan, Budi berkelakar tentang apa yang akan diperolehnya dari negara itu sekaligus negara ini jika ia berhasil memecahkan kasus itu. "Kamu halu," kata Ani sambil memasang wajah campur-aduk. Geleng-geleng kepala iya, hendak tertawa iya. "Lho, apa salahnya? Mungkin aja, kan? Oke, aku langsung buat persiapan saja lah. Kebetulan aku perlu beberapa peralatan. Terutama alat tulis dan baterai untuk alat perekamku. Nah, ini dia, langsung masuk semua saja ke... tas, eh, lho kok keranjang belanjaan?" ucap Budi begitu mengangkat wajah dan menyadari Ani sudah tak ada dekatnya, yang tampak di depan matanya sekarang itu Mbak kasir Alfamart.
O…
:to fulfill the final test
Nona, mengapa begitu manis? Sodium yang larut di wajah itu, menghantar kalori ke tubuhku. Bukankah sama-sama kita tahu, kecantikan merupakan muasal perang dunia kesatu
Mestinya, Henry IV tahu betul
Bagaimana kuasanya utuh!
Leibniz terkekeh; monadenya menyulap seorang pemalas menjadi penyair
Lihat! Berkat senyummu saja
Telah selesai satu puisi
Semoga jika lebih lagi lagi kau tuang senyum ke kepalaku
O…
Akan lahir sebentuk skripsi
April, 2018
Hanya ingin tahu
Barangkali nanti, bertahun-tahun dari sekarang, aku duduk di beranda sambil meneguk teh hangat, saat matahari yang oranye itu tersungkur ke belahan bumi lain sepenglihatanku. Segera mengingat kembali masa-masa hingar seperti yang sedang kualami ini. Fase emas perjalanan manusia kata orang.
Aku akan senantiasa mengutip kata-kata Jim morison,
"Ketika itu, katakanlah, aku sedang menguji sejauh apa batas-batas kenyataan itu sebenarnya. Waktu itu, aku ingin tahu apa yang akan terjadi. Semuanya hanya itu: cuma ingin tahu."
Seperti kegilaan yang kita rasakan, keanehan yang kita periksa, kebodohan, mencoba banyak hal. Seperti hanya itu; Ingin tahu
Tihul
Atau, sebut saja begini. Suatu sore, kita duduk di pelataran. Bersama teh hangat seperti biasanya. Menyadari bahwa kita telah menua, melewati hari-hari yang semakin dingin. Seduhan teh hangat menjadi lebih manis meski bahkan tanpa gula.
Hari telah semakin sore saat kita melihat daun-daun gugur di halaman. Langit yang perlahan menguning, matahari sebesar bakso mendarat demikian tenangnya menghilang di kejauhan. Terang yang senantiasa pindah ke belahan bumi lain.
Aku menyimak dengan khidmat bagaimana suguhan mata ini tetap nikmat sejak dulu, tak berubah. Lanskap yang paripurna.
Saat usiaku belasan, gejolak muda memang meledak-ledak; Ceroboh, naif, keras kepala, haha. Aku malu mengingatnya, meski begitu kurindukan. Belakangan ini, aku terus teringat. Tubuh bugar menopang impian yang tumbuh di dada pemuda. Rasanya enak sekali hidup saat-saat itu. Bertindak seenaknya.
Sayangnya, juga padanya tertumpuk hal mengerikan. Sebentar! Aku sedang berusaha mengingatnya. Hmmm! Ah, ya.. Seringkali pikirku dulu, aku merasa hidup penuh beban, begitu berat, suasana hati tidak stabil. Entah hanya terjadi padaku, atau hampir semua anak seusiaku. Lucu sekali, saat kuketahui jauh setelahnya, beban-beban hidup itu telah menumpuk dan tak lagi berat memanggulnya. "Sudah menjadi keharusan manusia resah memanggul beban, karena itu ia hidup." Kata orang bijak suatu waktu.
Jadi begitu? Manusia hidup mengganti resah ke resah baru, berangkat dari ketidaktahuan ke ketidak-tahuannya yang lain. Aku menyungging dan berkata "Itu benar-benar terjadi di masa lalu".
"Srrrrrtt.." kuseruput teh hangatku, bangkit dari kursi dan berjalan masuk kedalam rumah. Hari sudah gelap.
Kamar, dia memang ruangan yang sangat strategis untuk memecahkan kotak ide di kepalaku, sehingga ide itu bisa tumpah dan menyebar ke seluruh inderaku. Seharian aku bereksperimen di ruangan tersebut, memang kebetulan aku sedang tidak ada agenda apapun selain di kamar, dan saat itupun pikiranku memang sedang sedikit tidak beres. Tapi berjam-jam disana, belum ada yang ku dapat. Jadi sepertinya akan ku tarik lagi pernyataanku tentang kamar sumber inspirasi.
Dan, ah, tak ada yang ku dapat di hari itu. Ruangan itu hanya dipenuhi oleh asap tembakau. Baru hari itu aku membakar batangan rokok depan wajahku sendiri. Mungkin telingaku terlalu sering mendengar ucapan dari para peramu asap kereta api lokomotif berbahan bakar tembakau, yang katanya di dalam rokok itu terdapat zat yang dapat membuat pikiran kita tenang. Dan pada hari itu akupun harus terpengaruh. Harus aku akui, ada banyak hal yang aku dapat dari aktivitas itu. Mungkin aku tak mau disalahkan karena aku saat itu sudah memasukan asap-asap ke dalam paru-paruku, jadi aku membuat premis yang membenarkan kesalahan itu. Hahaha
Tapi bukan itu yang akan aku ceritakan. Jadi, setelah aku menghabiskan hampir setengah bungkus batang-batang kebrengsekan itu, aku membuka jendela kamarku. Tujuannya untuk mengeluarkan asap-asap tersebut. Aku heran, kenapa bumi tiba-tiba gelap. Tiba-tiba smartphoneku berbunyi. Tanpa berpikir panjang, aku mendekati layar smartphoneku, terlihat sreensaver dengan angka: 22.07.
Aku terdiam sejenak. Lalu aku berpikir, pada saat aku bangun, ternyata itu bukan pagi. Itu adalah sore menjelang malam.
“Aduh, memang sedang kacau pikiranku ini. Bagaimana mau dapetin mimpi-mimpi yang sudahku rancang dengan runcing kalau waktu aja sampe lupa. Ah sudahlah, sepertinya aku harus tidur. Biar besok aku bisa bertemu pagi. Harapanku, mimpi akan tercapai malam ini” Aku berbicara sendiri sambil memetik senar-senar gitar.
Lalu terciptalah lagu tidur ini.
Lirik lagu “Lagu Tidur”
na na na na na na na na
saat ku lihat rembulan
di balik jendela kamar
saat ku tersadar
bahwa ini malam
ku tutup jendela kamar
lalu ku tarik selimut hangat
mataku terpejam
dan aku berdo’a
tidur ku terlelap
mimpi ku kan nyata
Aku ingat, dahulu disekolah dasar ada tugas pelajaran 'mengarang', dengan metode pengajaran yang seadanya. Aku memang tidak tahu tentang perkembangan dunia pendidikan sekolah dasar. Tapi semoga tugas pelajaran 'mengarang' ini bisa lebih dikembangkan lagi, dibimbing secara serius, terlepas anak itu nantinya menyukai tugas itu atau tidak. Jika perlu guru-guru pengajar mengajak penulis untuk ikut membagikan passion menulis itu, cukup dengan merangkul penulis-penulis dilini tumblr ini misalnya.
Hatiku
Senang yah melihat pohon di sebrang balkon rumah tiba-tiba rimbun penuh daun. Lebih hijau, lebih sedap dipandang, penuh ketenangan.
Kenapa saat berkurangnya turun hujan pohon di sebrang malah daunnya bermunculan? Seperti musim semi.
Terlepas benar atau tidak pertanyaan yang saya lontarkan (pengaruh nilai biologi yg tak bagus), berdiam diri di serambi sambil mendengarkan musik klasik jadi makin asik.
Kalau memang bayangan dari pohon yang saya lihat di dunia ini begitu nikmat dipandang, moga ku diperkenankan melihat bentuk asli dari pohon di akhirat sana bersamanya. Aminn.
090715 *nulis, saat reuwas melihat pohon di sebrang tiba2 banyak daunnya