"Lainsyakartum la-aziidannakum wa lainkafartum inna 'adzaabii lasyadiid", itu salah satu ayat alQur'an yang kurang lebih artinya begini "Untuk siapa yang bersyukur maka akan Aku tambah dan siapa yang mengingkari sesungguhnya adzabKu amatlah kejam." 09.56 Dua wanita itu tiba di Rumah Sakit yang ditunjukkan oleh Dokter Key. Tak lama setelah memarkir, keduanya bergegas menuju pusat informasi rumah sakit. Berwarna hijau dominan, ditambah hiasan kuning dan sedikit corak berwarna coklat di dindingnya. Tak ketinggalan tanaman dalam pot yang ternyata asli setelah semula sang ibu mengira bahwa itu palsu. Tanpa basa-basi, langsung saja si embak di center information itu bertanya apakah sebelumnya pasien pernah berobat di tempat itu. "Belum pernah mbak." "Baik, kalau begitu ini diisi dulu." Ujarnya, sambil menunjukkan formulir. -@-@-@-@-@- "Ini dibawa, nanti setelah berobat dicopy tiga kali dan diserahkan lagi ke sini." Nomer antrian 10. Lantai dua. Dari pusat informasi lanjutkan langkah menuju pintu sebelah kanan. Kemudian naik lift dan cari 'Poli Spesialis Mata'. Ya, ia kira akan menunggu lama namanya dipanggil tapi ternyata tidak. Kira-kira setengah jam kemudian namanya dipanggil, karena ada dua nomor tersisa di tempat duduk itu sebelum nomor sepuluh. -@-@-@-@-@- "Kalau mau sekalian screening boleh, kita tetesi dulu nanti menunggu setengah jam di luar setelah itu kita screening." Jawab dokter atas pertanyaan yang diajukan oleh Ibu. Dag dig dug, tak karuan bunyi degup jantung Bunga. Rasa-rasanya inilah kemungkinan besar hari terakhir ia hidup. "Memang resikonya tinggi dek, apalagi nanti kalau sudah menikah dan akan melahirkan. Kemungkinan besar tidak bisa melahirkan normal, karena dampaknya akan buruk untuk ibu. Urat syaraf mata yang tipis dan bermasalah itu bisa putus." Lanjut dokter, sebut saja Mey. "Gak apa, kita periksa sekarang saja yaa jadi biar saya juga tahu bagaimana nanti kemungkinan ke depan." Tutup dokter mey. Apa? Screening sekarang? Memang ingin sih, tapii... kalau hasilnya buruk bagaimana? Entah juga kalau hasilnya masih baik, Alhamdulillah. Gak apalah dicoba saja, apa salahnya. Toh lebih cepat diketahui lebih baik. Tapi nanti? Anakku? Bagaimana jika tidak menikah saja? Itulah kenapa ingin rasanya aku mengadopsi anak, karena banyak sekali penyakit yang ada dalam tubuh ini. Mungkinkah ini bentuk ketidaksyukuran atas rezeki Tuhan? Ya Allah ampuni aku.. Pertanyaan itu semakin berkecamuk dalam pikiran dan hati Bunga. Entahlah.. -@-@-@-@-@- Setelah pemeriksaan screening berlangsung. "Alhamdulillah ndak ada apa-apa. Ndak ada yang bermasalah. Dijaga saja, ini saya kasih vitamin dan tetes mata. Dikurangi melihat komputer lama-lama. Hindari membaca buku dengan cara yang tidak benar." Dan Bunga pun, berbunga~ Sekian.