Banyak pertanyaan pertanyaan sederhana yang justru semakin tak terjawab saat bertambah dewasa
seen from Russia
seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands
seen from United States
seen from China
seen from Russia
seen from United States

seen from Germany
seen from Russia

seen from Germany
seen from United States
seen from Russia
seen from United States

seen from United States
seen from Yemen

seen from Brazil

seen from Australia

seen from Australia

seen from United States
Banyak pertanyaan pertanyaan sederhana yang justru semakin tak terjawab saat bertambah dewasa
Muwajjah: Tempat Terbaik Interaksi Guru dan Murid
“Semakin sering seorang murid bertemu dan berinteraksi dengan gurunya. Maka, akan terciptalah kontak batin antara keduanya. Guru akan sering mendoakannya, dan murid akan semakin mencintai dan menghormati gurunya.”
Muwajjah, kalimat ini tidak pernah asing bagi alumni dan santri Pondok Modern Darussalam Gontor. Kalau yang terdengar dari para alumni dan santrinya, muwajjah sendiri sering diartikan dengan kegiatan belajar malam. Dilakukan rutin oleh santri – santri, mulai dari setelah shalat Isya’ dan berakhir hingga sekitar pukul setengah sepuluh malam, karena waktu itu adalah akhir dari aktifitas dalam seharian dan anak – anak harus segera beristirahat. Pada saat aktifitas ini, tidak hanya murid – murid yang datang menempuh jihad-nya untuk belajar. Mereka semua tersebar di seluruh area pondok ataupun zona – zona yang telah ditentukan. Setiap guru baik yang mengajar ataupun tidak, juga harus menemani dan mengawasi saat belajar. Tentu, bukan hanya sekedar menemani. Tapi juga mendoakan dan menjaga mereka untuk tetap memiliki ruh dan niat menuntut ilmu.
Kalau muwajjah hanya sekedar diartikan dengan arti kata belajar malam. Sepertinya kurang pas, bahkan sebenarnya memang tidak cocok. Kalau mengartikan dengan kata belajar malam, arti kata yang didapatkan seharusnya adalah at-ta’allum al-laily. Bisa juga diartikan dengan ad-diraasah al-lailiyah atau pembelajaran yang dilakukan di malam hari. Lalu, apa yang sebenarnya cocok untuk menjadi arti dari muwajjah lailiy?
Muwajjah berasal dari kata al-wajhu artinya wajah. Singkatnya, muwajjah mungkin lebih tepat dikatakan dengan tempat atau waktu untuk bertemu di malam hari. Karena memang aktifitas ini dilakukan di malam hari. Di tempat ini, guru beramai – ramai bertemu dengan para muridnya. Bukan hanya itu, tetapi juga berinteraksi, menerima bait – bait hafalan, atau bahkan menjelaskan tentang pelajaran yang belum difahami oleh muridnya. Dan tentu, semua itu bukan sebuah paksaan dan tuntutan. Itu semua menjadi sebuah keinginan yang pada akhirnya menciptakan harapan – harapan serta doa bagi setiap muridnya. Di tempat ini, guru – guru akan selalu menjadi orang yang paling dirindukan murid – muridnya. Guru mana yang tidak disukai untuk dicintai dan dirindukan?
Begitu pula dengan murid – murid. Mereka, yang selalu memiliki niat yang ikhlas untuk menuntut ilmu, tidak pernah mau untuk melewatkan aktifitas ini. Di tempat ini, mereka bisa bertemu dan menyapa guru – gurunya sesuka hati. Di tempat ini, adalah tempat untuk menggelorakan semangat belajar, mendapatkan cahaya dan nur dari Allah lewat guru – gurunya. Ada banyak malaikat – malaikat yang hadir untuk mengaminkan doa – doa antara keduanya.
Bukan hanya sekedar pertemuan antara guru dan murid. Akan tercipta kontak batin yang begitu erat. Guru – guru yang berusaha meluangkan waktunya untuk menyapa, mendoakan dan mendidik muridnya. Murid yang selalu ikhlas untuk kembali mendoakan. Malaikat mana yang tidak ikhlas untuk mengaminkan dan mencatatnya? Romantis bukan?
Mungkin, hal ini yang perlahan mulai ditinggalkan bagi penuntut ilmu dan seorang pendidik. Tujuan untuk menuntut ilmu, sebenarnya bukan hanya sekedar peningkatan tingkat kecerdasan, baik mental ataupun akal, bagi siapapun yang melakukannya. Tetapi juga bagaimana kita mendidik dan menciptakan ruh, contoh, teladan yang baik kepada murid – murid kita. Terlebih, di masa – masa saat ini sudah sangat minim sekali untuk bisa bertatap muka langsung dengan guru – gurunya.
Semoga, dengan adanya teknologi dan digitalisasi yang semakin terdepan, tidak mengurangi bahkan menghapus hakikat dari menuntut ilmu yang sesungguhnya. Wallahu a’lamu bis-shawab.
Sejatinya definisi rindu apa sih? Bagiku dan bagi anak-anak rindu itu ya rasa ingin kembali bersama-sama lagi buat melakukan kegiatan lagi. Sekarang gak bisa ketemu, gak bisa main lagi, gak bisa ngusilin temen yang lain, gak ada bentengan, gak ada Adrian yang ngambekan, Opik yang rese, Sani yang digangguin, Alif yang lucu, Nazila dan Dini yang ngajari dance, adek-adek nari, kangen main gangsing, kangen main holahop yang gak bisa-bisa, kangen dikerjain relawan yang lain.
Semua itu mengajarkanku bahwasanya makin kita menulis banyak peristiwa. Maka kita akan semakin banyak memiliki kenangan dan sejarah yang gak akan bisa tergantikan oleh apapun ketika nanti menua itu tiba. Senyum atau ketawa sendiri membayangkan masa-masa muda dulu yang mungkin gak nyangka bisa dilakuin.
-Sri Fafa (9-1-2021)
Anak-anak, Dahulu dan Sekarang
Menurut Dr Abdulkarim Bakkar dalam kitab Ibnu zamânih, yang membedakan generasi sekarang dengan generasi dahulu adalah pada lingkungan. Sedang secara fitrah, anak-anak dahulu dan sekarang tetaplah sama, meski berbeda ruang dan waktu. Begitupun secara fisik. Tetap sama.
Tidak ada yang memungkiri jika fitrah anak suka bermain. Dahulu maupun sekarang, yang berbeda adalah soal cara. Dahulu anak-anak tumbuh dengan alam. Lumpur, tanah, dan pepohonan. Kegembiraan mereka ada diluar tembok rumah. Berbeda dengan hari kegembiraan mereka (mungkin) terbatas gambar dan video. Maka mendidik anak hari ini memerlukan seni. Zaman berubah cara pandang kita dengan anak-anak tentang zaman pun berbeda. Tentu boleh. Yang harus sama adalah tentang prinsip nilai. Pandangan baik buruk menurut timbangan agama. Maka didiklah anak dengan zamannya. Bukan zaman kita.
Penting menanamkan nilai kepada anak kita. Tapi itu saja tak cukup. Sebab kita mendidik bukan untuk menjadikan mereka malaikat, diciptakan dengan satu sifat. Sesuai fitrahnya setiap anak membawa dua sifat yang berkebalikan. Dalam istilah ulama Alkhutut Al-Mutadhodah, arah berlawanan. Rasa mencintai dan membenci, senang dan sedih, menangis dan tertawa. Semua potensi itu baik jika diarahkan dengan benar. Kata Imam Abu Hanifah tidaklah termasuk orang bijak mereka yang mengajarkan tentang kebaikan namun lupa mengenalkan tentang keburukan. Seperti mengajarkan tentang keadilan tanpa mengenalkan tentang kezaliman. Karena bisa saja seorang jatuh pada kezaliman sedang dia tidak menyadari.
Sumber: teladanpendidikan
Naik Wahana Baru
2019 mungkin menjadi tahun yang serba nano-nano. Mulai dari putus, wisuda, cari kerja, ngga pede karena kapasitas diri yang gini-gini aja, undangan nikah teman di mana-mana, dan masih banyak drama-drama lainnya.
Hari ini, saat aku nulis ini, 2019 udah mau berakhir, dan itu berarti sudah hampir empat bulan aku mencicipi hal baru di tempat yang baru pula. Ya aku resmi dipanggil ‘Ms’ oleh anak-anak kecil yang lucu-lucu. Bingung bagaimana harus menceritakannya hingga aku yang harusnya mengajar SMA terjebak pada keseharian bocah-bocah yang masih jauh dari kata remaja. Ya ibu guru di suatu sekolah dasar di daerah istimewa yogyakarta. Sekolah yang dulu hanya bisa aku tengok ketika aku lewat di depannya, namun hari ini aku bisa ada di dalamnya.
Bingung, tentu saja. Dulu aku tidak mau jadi guru SD karena aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi anak-anak. Tapi aku ingat, dulu sewaktu jaman kuliah, aku sering kali ikut kegiatan sosial di mana sasaran utamanya lebih banyak elemen anak-anaknya. Dan dari kejadian demi kejadian itu, aku sadar kalau aku tertarik dengan dunia mereka. Mengenal anak-anak membawa ingatanku jauh ke masa lalu. Permainan kami mungkin berbeda, karena jamannya juga sudah tidak sama. Tapi ada yang tetap sama dan tidak berubah di makan usia, bahwa anak-anak itu ternyata masih saja jujur dan apa adanya. Jika mereka suka, mereka akan katakan iya. Jika tidak, maka mereka tidak segan-segan untuk menolak.
Lalu hari ini, hampir setiap hari aku harus berhadapan dengan anak-anak dengan latar belakangnya berbeda-beda. Memperlakukannya pun tidak bisa sama rata. Mendidik anak-anak itu tidak perlu hal-hal mewah nan bergemilang harta. Mendidik anak-anak itu cukup dengan kesederhanaan pun kerendahan hati. Sebab menjadi guru itu tidak hanya menransfer ilmu akademik semata. Ada banyak elemen penting yang mungkin tidak pernah dipatenkan dalam buku-buku teks di luaran sana.
Mendidik anak-anak itu harus bisa menempatkan bagaimana kita jika ada di posisi mereka. Aku bicara begini bukan bermaksud menggurui, tapi bukankah orang dewasa juga sama adanya? Mereka itu tidak butuh bentakan, mereka hanya butuh sesuatu yang menenangkan. Jika mereka berbuat di luar yang seharusnya, dekati dulu pelan-pelan. Berbicaralah dari hati bukan dari rasa jengkel akibat sakit hati. Lelah? Tentu saja. Tapi jika dipikir-pikir, aku ini belum seberapanya dengan para guru yang sudah lebih dulu diuji sabarnya sejak bertahun-tahun lalu.
Bertemu anak-anak setiap hari itu menjadikan awet muda. Bagaimana tidak, tingkah lucu mereka yang suka di luar kepala sukses membuat kita otomatis tertawa. Walaupun tidak bisa dipungkiri, rasa jengkel sesekali hadir sebab tingkah laku mereka yang usil. Tapi bukankah di situ seninya? Menjadi guru itu bukan hanya banyak bicara di kelas seolah-seolah kita adalah yang maha tahu segalanya. Menjadi guru itu harus mau menurunkan ego untuk tidak mudah puas atas apa yang didapatkan. Mau belajar meski itu harus dari anak-anak yang mungkin ucapannya hanya terlontar tanpa dipikirkan.
Aku justru belajar banyak dari anak-anakku. Belajar bagaimana menjadi manusia itu ya harusnya seperti anak-anak. Tidak perlu mendebatkan keyakinanmu apa. Tidak peduli kamu berdoa dengan menengadahkan tangan atau menangkupkan tangan di dada. Tidak perlu cemas jika ada orang yang warna kulitnya berbeda dari kita. Tidak perlu ragu membantu meski kita sebenarnya tidak suka. Dan yang terpenting bisa satu detik saling melempar sebal tapi di detik berikutnya merangkul tanpa ada dendam.
Jika ditelisik, anak-anak itu justru sumber belajar yang paling natural. Mereka tidak berusaha terlihat paling sempurna untuk bisa disukai teman-temannya. Mereka cukup jadi diri mereka yang apa adanya dan kebaikan-kebaikan semesta seolah menjawab segala inginnya.
Agaknya, sampai detik ini, tidak ada kalimat yang pantas untuk aku rapal selain ucapan syukur sebanyak-banyaknya pada Tuhan. Untuk kesempatan luar biasa dan untuk segala kejutan-kejutan yang selalu aku nantikan. Aku akan terus menunggu bagaimana setiap hari, anak-anak itu memberi pembelajaran yang luar biasa untuk diriku. Terima kasih ya nak atas kesempatan mengenal kalian, Ms adalah salah satu orang beruntung karena bisa berteman dengan kalian semua.
Di penghujung tulisan ini, ada doa yang terselip untuk kebaikan mereka. Semoga mereka senantiasa menjadi pribadi baik untuk dirinya pun sesama, tidak mudah menyerah, dan terus menjadi jiwa-jiwa yang haus akan ilmu. Semoga masih ada banyak waktu untuk terus merangkai cerita.
Cerita ini baru dimulai, mari terus eratkan tangan untuk merangkai kisah yang lebih mengesankan.
Salam sayang,
Azza Ismu Annisa
Transisi
ternyata dunia dewasa itu tidak sebebas apa yang ku kira.
aku kira menjadi orang dewasa, aku dapat membuat keputusan yang aku mau. ternyata tidak begitu.
menjadi orang dewasa berarti kita dibebankan oleh berbagai tanggung jawab, ketika masih kuliah dulu aku selalu dapat menentukan apa yang aku mau, jika aku tidak suka dengan pelajaran aku dapa t menolaknya dan memilih pelajaran lain.
ketika dewasa dan mulai bekerja. kita tidak dapat menolak semua permintaan atasan kita, walaupun pekerjaan tersebut adalah sesuatu yang tidak kita sukai atau bertentangan dengan keyakinan kita.
aku tahu sekarang kenapa orang-orang banyak ingin kembali ke masa kecil mereka.
Siapa yang Paling Berperan dalam Mewariskan Kecerdasan pada Anak?
Faktor genetik seorang Ibu sangat berpengaruh terhadap kecerdasan anak. Menurut ahli genetika dari UMC Nijmegen Netherlands Dr Ben Hamel “Pengaruh itu sedemikian besar karena tingkat kecerdasan seseorang terkait dengan kromosom X yang berasal dari ibu”.
Karena itu, ibu yang cerdas berpotensi besar melahirkan anak yang cerdas pula. “Dengan demikian, lebih baik memiliki ibu yang cerdas daripada ayah yang cerdas,” ujar Hamel. Namun, kelainan genetika dari seorang ibu juga dapat diturunkan kepada anak-anaknya, termasuk diantaranya retardasi mental.
Dalam keadaan normal, setiap manusia memiliki 23 pasang kromosom yang terdiri atas 22 pasang kromosom autosom dan sepasang kromosom seks. Ada 23 kromosom berasal dari ibu yang disebut kromosom XX dan 23 pasang lagi berasal dari ayah yang disebut kromosom XY.
Kromosom dari ayah dan ibu akan bergabung saat terjadinya fertilisasi, yaitu pertemuan antara sel sperma dan sel telur yang akan menghasilkan zigot. Dalam keadaan normal, zigot akan melakukan pembelahan sel secara mitosis sehingga setiap sel dalam tubuh manusia akan membawa informasi genetik yang sama.
Bagaimana bisa seorang ibu menjadi penentu kecerdasan anak-anaknya?
Mungkin pertanyaan ini akan terdengar kurang indah di telinga kaum laki-laki karena pada dasarnya seorang anak terlahir dari pertemuan antara sperma (laki-laki) dan ovum (perempuan) melalui proses fertilisasi dimana setelah terjadi proses fertilisasi tersebut, kedua sel gamet itu akan melebur menjadi satu dan membentuk zygot kemudian membelah menjadi morula, blastula, gastrula, dan berdiferensiasi menjadi makhluk hidup kecil di dalam rahim yg disebut dengan fetus (janin).
Ovum merupakan sel gamet yang terdiri dari inti sel dan sitoplasma lengkap dengan organel-organel yang akan berperan dalam proses pembelahan dan perbanyakan sel. Sperma merupakan sel gamet yang terdiri atas kepala dengan inti sel dan ekor yang mengandung mitokondria sebagai pemberi energi bagi pergerakan sperma. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa 14 jam setelah proses fertilisasi maka ekor sperma yang mengandung mitokondria akan dilepas dan dibuang, inti sel ovum dan sperma akan melebur menjadi satu sehingga terbentuklah sel baru (zygot). Inti zigot merupakan gabungan antara inti sperma dan ovum sedangkan sitoplasma dan organel-organel sel berasal dari organel sel ovum. Dari penjelasan ini dapat diketahui bahwa prosentase peran ovum lebih besar daripada sperma dalam aktivitas pembelahan sel selanjutnya.
Di sinilah awal peran Ibu dalam menentukan kecerdasan, yaitu melalui mitokondria. Yang menarik, mitokondria ini hanya diwariskan oleh ibu, tidak oleh ayah. Sebab, mitokondria berasal dari sel telur bukan dari sel sperma. Dalam setiap sel manusia ada sebuah organela yang sangat strategis fungsinya. Organela ini dinamakan mitokondria. Organelnya berongga berbentuk bulat lonjong, selaputnya terdiri dari dua lapis membran, membran dalam bertonjolan ke dalam rongga (matriks), serta mengandung banyak enzim pernapasan. Tugas utama mitokondria adalah memproduksi kimia tubuh bernama ATP (adenosin tri phosphat). Energi hasil reaksi dari ATP inilah yang menjadi sumber energi bagi manusia. Mitokondria bersifat semiotonom karena 40 persen kebutuhan protein dan enzimnya dihasilkan sendiri oleh gennya. Mitokondria adalah salah-satu bagian sel yang punya DNA sendiri, selebihnya dihasilkan gen di inti sel. Itulah sebabnya investasi seorang ibu dalam diri anak mencapai 75 persen.
Kita dapat berkata, inilah organela cinta seorang ibu yang menghubungkan kita dengan Allah serta kesemestaan. Tanpa mitokondria hidup menjadi hampa, tidak ada energi yang mampu menggelorakan semangat hidup.
Tanpa mitokondria kita tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, hingga akhirnya tidak bisa membaca. Allah SWT berfirman, "Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur (QS As Sajdah [32]: 9)."
Tanpa adanya mitokondria di mata, kita akan buta. Tanpa adanya mitokondria di telinga, kita akan tuli. Sesungguhnya, kita menjadi “buta” dan “tuli”, boleh jadi karena ibu tidak ridha mewariskannya. Ridha seorang ibu adalah syarat datangnya kebahagiaan. Di sini kita dapat membayangkan, betapa perjuangan seorang ibu tidak hanya sebatas hamil, melahir, menyusui, merawat, serta membesarkan anak-anaknya. Ibu pun harus mewariskan fungsi biologis yang sempurna agar kita dapat merasakan indahnya dunia.
Sudahkah kita membalas cinta ibu?
Maka untuk para lelaki,
janganlah egois sehingga anda memilih wanita dari parasnya untuk kesenangan mu. Tapi pilihlah wanita yang bermutu dan berkualitas untuk anak-anakmu.
Maka untuk para wanita,
bangunlah dirimu, kualitasmu, kelasmu, bukan parasmu untuk menyenangan pandangan lelakimu, namun dedikasikan untuk anak cucumu.
--- Kala Lail