Goodreads Rating : 3.97/5
Aku sudah mengetahui buku ini sejak lama sekali, tapi tak ada niatan untuk mencoba membacanya. Beberapa bulan lalu ketika aku menghadiri event Goodreads Indonesia dimana ada sesi tebak judul buku dengan gerakan, buku ini menjadi salah satu buku yang dikuiskan. Dua kata, gerakan harimau, aku langsung menjawab Lelaki Harimau-nya Eka Kurniawan, tapi ternyata salah, haha. Jawabannya Harimau! Harimau!, dan peserta lain yang menjawabnya. Dari situ, entah kenapa aku jadi tertarik membaca buku ini, aku mencari reviewnya, kemudian membelinya, dan semalam baru saja selesai membacanya. And thank God, walau sangat terlambat keputusanku untuk membaca buku ini tepat sekali.
Buku ini mendapat Hadiah Yayasan Buku Utama sebagai buku penulisan sastra terbaik tahun 1975. Sudah lama aku tidak membaca karya sastra lama, ini membuatku semakin tertarik. Aku suka sekali gaya penulisannya, tipikal sastra lama: kalimat panjang dengan penggunaan kata yang berulang. Sebenarnya diksi yang digunakan menurutku tidak terlalu sastra seperti karya Pramoedya atau buku sezamannnya sebagaimana yang aku bayangkan, atau karena adanya penyuntingan/penyesuaian mengingat ini adalah cetakan kesekian? tapi tidak mengapa, hal ini tidak mempengaruhi keseruan membaca buku ini sama sekali.
“Awaslah, harimau itu dikirim oleh Tuhan untuk menghukum kita yang berdosa – awaslah harimau dikirim Allah – awaslah harimau – akuilah dosa-dosa kalian – akuilah dosa-dosa kalian” – Pak Balam, hal. 104
Cerita perburuan antara Harimau dan tujuh penduduk desa yang mencari damar ke hutan. Pak Haji, Wak Katok, Pak Balam, Buyung, Talib, Sanip, dan Sutan. Entah siapa (atau apa) yang memburu atau siapa (atau apa) yang diburu. Mereka harus melawan dua harimau sekaligus: Harimau sebagai binatang buas dan harimau sebagai simbol keserakahan sifat jahat manusia. Khas cerita lama, masih kentalnya kepercayaan gaib dan nenek moyang terhadap sesuatu hal yang terjadi pada mereka menambah keseruan cerita.
“Mereka diam saja mendengarkannya, rasa takut mulai timbul dalam hati mereka, seluruh gelap rimba raya di sekeliling terasa penuh dengan ancaman dan raksasa hitam yang ganas, yang bersembunyi menunggu saat hendak menerkam, dan mereka merasa seakan harimau dengan gelisah berjalan mundar-mandir di seberang batas gelap antara pinggiran lingkaran api dan gelap hutan, mengawasi mereka, memeriksa dosa-dosa mereka, memutuskan siapakah lagi yang harus dihukum karena dosa-dosanya” – hal. 104
Boleh dibilang, sebenarnya sederhana betul ceritanya. Tapi layaknya cerita tentang manusia, justru kesederhanaan itulah yang membuat ceritanya kompleks dan nyata. Perburuan dituliskan dengan begitu intens, dan lebih-lebih tidak terasa hanya perihal perburuan semata. Buku ini menyindir betul manusia dan nilai-nilai kebusukan yang disembunyikannya. Satu lagi tipikal sastra lama: sarat sekali makna/amanatnya! Bahkan secara gamblang dituliskan (disampaikan oleh salah satu tokohnya) dalam suatu percakapan di antara mereka.
Membaca karya sastra lama selalu merupakan pengalaman yang menyenangkan. Cerita-cerita yang sederhana dituliskan dengan begitu menarik. Amanat sarat kehidupan yang selalu ada didalamnya masih dan akan relevan dengan kehidupan manusia, hingga zaman seterusnya, dan seterusnya.
Depok, 25 Maret 2020, 1.57 PM