MonochromeTale-2
Satu dari sekian hal yang aku suka adalah melakukan perjalanan. Terlebih, jika itu sendirian serta menggunakan kereta. Meski aku tahu, dalam kesendirian itu aku akan merasakan sebuah keterasingan. Tapi harga keterasingan tersebut akan terbayar sempurna ketika semua hal di sekitar dapat diresapi kemudian.
Begini, dalam sebuah perasaan asing yang memenjarakanku dalam hitungan jam. Akan aku jumpai banyak cerita yang disampaikan oleh gerbong-gerbong tua dan bangku-bangku kosong maupun berpenghuni. Akan ada dialog-dialog tak terencana yang terjadi demi menghapuskan sebuah kata bosan hingga lelah. Dan di antara semua itu, akan hadir sebuah paradigma baru yang bisa untuk dimaknai.
Lihat saja foto yang sempat kurekam dalam sebuah perjalanan itu.
Siapa yang tahu bahwa lelaki tua yang tengah tertidur itu baru saja kehilangan anaknya beberapa waktu lalu dalam sebuah kecelakaan, hingga mengakibatkannya tak pernah tidur selama bermalam-malam? Mungkin kita semua mengira bahwa dia hanya sedang kelelahan sehabis berkunjung ke rumah anak dan cucunya. Aku pun mungkin tidak akan tahu kebenarannya, jika tak ada jalin cerita tak sengaja terlontar ketika pandang kami bertemu.
Atau lihat perempuan di sebelahnya yang sedang menatap ke arah jendela. Sekilas yang tergambar mungkin dirinya sedang merindukan seseorang yang sekarang sedang ingin dia temui. Tapi, siapa yang pernah menduga bahwa saat ini dia sedang dalam sebuah pelarian? Akibat jengah dengan tuntutan hidup, akibat lelah dengan cemooh manusia yang tak pernah tahu apa-apa namun berlagak paling mengerti. Aku juga tak akan mengerti, jika saja kami tak berpapasan saat ke kamar mandi dan lalu memutuskan bercerita singkat sambil berdiri di antara ramai.
Bagaimana dengan anak kecil yang tengah duduk sambil meminum susu itu? Ribuan persepsi pasti hadir dalam benak kita hanya dengan sekali memandangnya. Tapi yang benar-benar tahu apa yang terjadi, hanyalah mereka yang dipercaya untuk berbagi dan mau untuk duduk mendengarkan.
Lalu ke mana arah tulisan ini berlabuh? Tak perlulah dirimu risaukan tentang itu. Sebab maknanya tak hanya sampai pada tanda titik di akhir kalimat. Karena yang mungkin harus kamu mengerti, hidupmu masih terus berlanjut, meski satu rasa telah mati, dan satu kenangan terus menyiksa.
Hujan Mimpi
















