Kurang Apa isi Selangkanganku, Mas
Sudah berlebih hari sejak terakhir bajuku kau lucuti. Ku dekati saja kamu sudah marah setengah mati. Kutanya kenapa, alasanmu beribu itu dan ini. Aku rindu, mas.
Entah dengan cara apalagi agar wajahku mau kau cumbui. Tiap malam kupakai lingerie, tapi tubuhku tetap sepi. Andai bisa, tangan dan kakiku bahkan ingin ku gincui sekedar untuk membuat matamu melirik kesini. Aku Bingung, mas.
Setega apa kamu sebagai lelaki? Padahal aku tak pernah minta dibuatkan secarikpun puisi. Aku tak pernah memintamu untuk memintal buih menjadi permadani. Aku hanya ingin kau bertingkah layaknya seorang suami. Bukankah kewajibamu untuk membuat lahir batinku ternafkahi? Aku kecewa, mas.
Selalu aku bertanya, Apa yang terjadi? Apa tekanan pekerjaan membuatmu kelihangan birahi? Apa ada nafas wanita lain yang membuatmu berpaling hati? Apa usahaku sia-sia selama ini terus mempercantik diri? Apa aku pernah alpa menyemir sepatumu dipagi hari? Atau masakanku tak lagi nikmat saat kau cicipi? Aku sakit, mas.
Aku lelah berbaring disini, pun takkan sanggup berdiri mencari suami pengganti. Aku masih ingin mencintaimu, setidaknya itu yang kuyakini. Entah isi selangkanganku akan berkarat nanti, aku ingin untuk tidak peduli. Berharap disuatu malam yang dingin, kau kembali. Aku siap, mas.









