(A)nalogi
Perihal senja, sungguh sangatlah luar biasa. Senja senantiasa mengawal kepulangan sang fajar hingga sampai pada persinggahannya, lalu membentuk barisan-barisan kokoh berjejer nan indah menyambut sang bulan untuk keluar dari persembunyiannya. Dari sana, dapat dilihat sisi dimana senja sebegitu romantisnya hingga langit pun tersipu malu dengan rona jingganya.
Namun disisi lain, romantis bukan berarti setia. Senja bisa hilang secara tiba-tiba tanpa ada sepatah kata yang berbicara. Bukan karena petang telah usai menjelang, ataupun karena malam sudah waktunya datang. Melainkan karena adanya gumpalan-gumpalan hitam menyerupai selimut tebal yang dinamakan mendung mulai menghadang.
Disaat senja mulai direnggut waktunya oleh mendung, ada hati yang tak rela, terlebih bagi sebagian para penikmatnya. Ada hati yang resah bilamana senja yang selalu ia tunggu tak kunjung hadir untuk menemani rasa gundahnya setelah melewati hari yang melelahkan. Memang, harapan tak selalu berbanding lurus dengan kenyataan. Kadang juga harapan hanya menghasilkan suatu kegelisahan yang tak karuan.
Senjaku hilang, menyisakan sebuah kerinduan yang mendalam. Hanya berteman sepi dibawah nyiur yang tinggi semampai, daunnya melambay-lambay terus merayuku untuk tetap menunggu. Namun, ombak kecil menggelitik dan berbisik menyuruhku untuk pulang. Memang, ada sedikit kebimbangan menggoyahkan sebuah pendirian. Di satu sisi, ada yang merayuku untuk tetap menunggu, di sisi lain ada yang menyuruhku untuk pulang. Dari itu aku sadar, bahwa alam sedang tak memihak kepadaku, ia sedang main-main. Namun, hati kecil ini berbicara untuk pulang, karena sadar bahwa semuanya ini milik Semesta. Aku tak berhak untuk melawan ketentuan-Nya.
Sekarang, aku pulang. Ku serahkan semuanya pada Semesta. Biarkan Semesta yang berbicara akan rasa kehilangan dan kerinduanku ini.
Bandung, 13 September 2017
<i>Pict Source: coretangaje.tumblr.com</i>














