Para Montir Cilik
Beberapa hari lalu, saya menghabiskan waktu hampir setengah hari di bengkel motor yang sedikit jauh dari kos-kosan saya, banner bertuliskan diskon 20% untuk mahasiswa/pelajar di bengkel tersebut yang membuat saya ingin berkendara agak jauh demi si Ijo segera diservis, padahal biasanya servis di bengkel dekat mata jalan doang.
Sampai disana saya meminta si Ijo diservis full, ganti oli dan ganti ban depan (sudah kebayangkan bakal bayar berapa banyak??) Makanya tulisan diskon 20% itu sangat menggoda. tetap naluri wanita sama diskonan itu layaknya magnet, haha.....
Di bengkel itu, pelayanannya bagus dan ada ruang tunggu ber-AC dan Non-AC, gedungnya besar dan montir banyak, saya memperhatikan satu persatu montir yang bekerja, kalau tidak salah ingat ada sekitar 10-an montir yang bekerja pada saat itu, ditambah beberapa orang yang melakukan checking dan mondar-mandir mengantarkan suku cadang.
Beberapa menit setelah saya duduk di ruang tunggu, pandangan saya mengarah pada salah seorang montir yang sedang serius mengerjakan bagian dalam motor, sepertinya yang diperbaiki bagian mesinnya, (motor saya masih ngantri di urutan 74, sabar yee), kalau diperhatikan montir tersebut masih sangat muda, seperti baru lepas dari masa SMA-nya, saya mencoba memerhatikan beberapa montir yang lain, barangkali ada yang sepantaran dengan montir tersebut, dan ternyata ada sekitar 3 montir yang menurut pandangan mata saya masih sangat muda,
Kenapa saya sebut masih muda? Sebab di umur saya yang sekiranya sama dengan mereka yang baru lepas masa SMA, sudah jelas yang saya pikirkan selanjutnya adalah saya harus kuliah di universitas terkenal dan mendapat gelar sebagai lulusan universitas tersebut, tapi hal ini berbeda dengan apa yang saya dapatkan di bengkel pada hari itu, diumur segitu mereka lebih memikirkan setelah lulus SMA mereka sudah harus bekerja, memperoleh tambahan biaya untuk membantu pemasukan keluarga, mereka semua masih lajang, (sempat iseng nanya waktu mau bayar ke kasir, kebetulan salah seorang dari mereka mengerjakan si Ijo), dia bilang niatan kuliah ada tapi biaya kuliah mahal dan orang tua tidak memiliki biaya untuk itu, maka yang dia pilih masuk sekolah kejurusan itupun dia sudah sangat bersyukur, sebab sekarang dia bisa bekerja dan mendapat penghasilan, tapi saya liat kembali pada dirinya ada sebuah harapan, yap…masih ada harapan di dirinya untuk bisa kuliah, dia sempat nanya ke saya
“mbak kuliah dimana?”
“gimana rasanya kuliah eh mbak?”
Tapi saya lupa menanyakan siapa namanya -_- (tidak sopan ya saya, maaf.. hehe..)
Sepulang dari bengkel itu, saya berpikir betapa harus berkali-kali bersyukurnya saya atas kehidupan saya yang terkadang masih saya keluhkan, tetapi orang lain banyak yang menginginkan kehidupan saya.
Jika dipikir lagi di umur yang masih muda itu, saya mungkin tidak sesanggup montir tadi, bekerja dari pagi sampai sore dan terus-menerus bahkan hari libur pun tetap bekerja, kecuali memerahnya tanggalan di kalender.
Kita terlalu sering melihat ke atas tetapi enggan melihat ke bawah, terlalu sering mengeluh padahal belum berusaha untuk mengatasi masalah yang dikeluhkan, terkadang mengumpat situasi padahal segala jalan takdirmu sebenarnya sudah ada yang mengatur, hanya saja kita ini kurang gigih dalam berusaha.
semoga kita tidak lagi menjadi pribadi yang suka mengeluh gengs :)
















