Seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki. Dia yang tiba-tiba hadir, selain daripada kehadiran bapaknya. Perubahan itu terasa amat sangat semenjak kehadirannya. Kaget. Seperti kena mental. Aku jadi relate bagaimana orang2 bilang bahwa menikah dan punya bayi itu butuh persiapan mental.
Dari dulu, bayi laki2 itu adalah bagian dari mimpiku..rencanaku. Tapi belum jauh, aku hanya mengidamkan betapa menyenangkannya punya anak pertama laki-laki, yang lucu, yang sehat, pintar dan tampan. Sesimple itu. Biar lucu seperti acara reality show bayi asal korea, triplet.
Aku belum merencanakan bagaimana membuatnya benar2 sehat tanpa sakit, bagaimana memberinya makan mpasi yang baik agar lahap, bagaimana menidurkannya, bagaimana menitipkannya ketika aku ternyata harus pergi, bagaimana mencuci pakaiannya, bagaimana membelikan semua keperluannya dan bagaimana bagaimana yang lain. Aku belum merencanakannya dan semua adalah percobaan pertama, trial dan eror, yang kadang membuatku sedih, mengira bahwa aku belum menjadi ibu yang baik. Ketidak sempurnaan, something messy dalam perawatan bayi mungil itu membuatku kalang kabut. Maafkan Ibu, Nak.
Seiring berjalannya waktu, pelan-pelan aku bisa menemukan ritme yang cukup sesuai dengan irama perjalananku. Berdamai dengan takdir dan jalan yang Allah berikan adalah jalan ninjaku.
Dear Bariz Abisena,
Anak ibu yang tersayang..
Mohon kerjasamanya ya.
Bukan hal mudah merawatmu, tapi pun bukan hal yang sulit. Kadang keegoisanku membuatku terlalu mencintaimu, menginginkanmu sepenuhnya, tapi bukankah itu salah? Karena Kau sejatinya bukanlah milik Ibu. Kau hanya titipan sehingga... apapun takdirmu, ibu harus ikhlas karena tak semua darimu bisa ibu atur. Ketidak sempurnaan dari ibu harus berkawan dengan ketidaksempurnaan darimu.
Bismillah, ibu sudah mencoba melakukan yang terbaik. Semoga kau bisa menjadi lebih baik dari orangtuamu dari segi apapun. Kau menonjol dalam segala kebaikan. Aamiin.
















