Moralvalues

seen from Singapore
seen from China
seen from Singapore
seen from Singapore

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Malaysia

seen from Sri Lanka

seen from Malaysia
seen from Romania
seen from Russia
seen from United Kingdom
seen from Türkiye

seen from Romania
seen from China
seen from Türkiye
Moralvalues
IMMANUEL KANT'S MORAL THEORY
IMMANUEL KANT’S MORAL THEORY
The philosophy of Kant centered around the significance of non-public autonomy which persons tough to not be simply used.
Kant was a German philosophy professor who taught at the University of Konigsberg. he’s now considered a central figure within the history of contemporary philosophy. He was a firm believer within the ideas of the Enlightened especially reason and freedom. Kant asserted that w…
View On WordPress
IMMANUEL KANT'S MORAL THEORY
IMMANUEL KANT’S MORAL THEORY
The philosophy of Kant centered around the significance of non-public autonomy which persons tough to not be simply used.
Kant was a German philosophy professor who taught at the University of Konigsberg. he’s now considered a central figure within the history of contemporary philosophy. He was a firm believer within the ideas of the Enlightened especially reason and freedom. Kant asserted that w…
View On WordPress
IMMANUEL KANT'S MORAL THEORY
IMMANUEL KANT’S MORAL THEORY
The philosophy of Kant centered around the significance of non-public autonomy which persons tough to not be simply used.
Kant was a German philosophy professor who taught at the University of Konigsberg. he’s now considered a central figure within the history of contemporary philosophy. He was a firm believer within the ideas of the Enlightened especially reason and freedom. Kant asserted that w…
View On WordPress
Once upon a time, there lived an innocent man in the fields. This has been the model start for the stories which inhibited m...
Join our personality development classes especially designed for kids to prepare them for a competitive world.
[Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah!]
“Aku telah mempelajari sejumlah pelajaran di sekolah kehidupan sosial manusia. Aku mendapati bahwa saat ini dan di tempat ini ada enam penyakit yang membuat kita terjebak di abad pertengahan, di saat orang-orang asing, khususnya Eropa terbang menuju masa depan. Penyakit tersebut adalah:
1. Mewabahnya keputusasaan, yang faktor pemicunya ada dalam diri kita sendiri.
2. Matinya kejujuran dalam kehidupan sosial dan politik.
3. Suka kepada permusuhan.
4. Mengabaikan tali cahaya yang menyatukan sesama orang mukmin.
5. Perhatian yang hanya tertuju pada kepentingan pribadi.”
Namun, penyakit putus asa bisa disembuhkan dengan menghadirkan harapan, harapan akan rahmat Allah. “Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.” -Q.S. Az-Zumar:53- -Badiuzzaman Said Nursi-
Bisik Sebuah Nurani (on Wattpad) http://my.w.tt/UiNb/tbWky1oGiG Jikalau engkau ingin nurani itu hadir, kau harus siap bercengkram pada waktu. Karena percayalah,nurani tidak dapat ditebak kapan ia akan bekerja bahkan untuk berbisik sekalipun...
green in my mind today.
Hijau.
Green.
Entah kenapa warna ini selalu bikin gue langsung kicep. Kicep dalam artian positif, karena ketenangan seolah langsung bisa gue hirup. Emang pada dasarnya ijo itu nenangin ya. Kan warna seger. Semua orang pasti ngerasain hal yang sama. pasaran. Hahaha.
Gue jarang main ke teras rumah gue –yang actually cuman sepuluh langkah doang dari kamar gue. malahan technically pepetan karena dibatesin tembok ruang tamu doang- entah gue sengaja ngisis ngilangin gerah atau jadiin sebagai spot leha-leha mantengin langit sore yang udah jadi kedemenan gue dari dulu. Intinya gue jarang banget kesitu. Padahal, teras gue yang gak seberapa besar itu langsung nabrak sama lokasi taman –yang gak seberapa besar juga (bahkan ini mungil banget dah buat hunian daerah kampung)-. Tambah lagi sampingnya ada kolam ikan.
Taman gue ini hasil karya umi gue yang emang hobi banget berkebun. Incase karena daerah gue termasuk zona pesisir, tanaman berbunga warna-warni sayangnya gak bisa dipelihara kan. Jadilah, rumput gajah mini jadi karpet taman dan kaktus kecil-kecil berderet di sekitaran situ. Sementara kolam ikan gue udah gak diisi lagi sama ikan hias. Awalnya ada koi, tapi karena kolamnya gampang kotor (iya soalnya posisi kolamnya langsung jadi spot tadahan aer hujan dari genteng) dan papah gak sanggup kudu nguras paling nggak dua minggu sekali. Udah kesel ati, pun ditambah koinya mati mulu, jadilah sekarang diisi sama ikan lele. Dulu nebarnya masih seukuran jempol kaki, tapi sekarang udah segede betis. (ini angin segar buat papah karena udah nyaris dua tahun kolam sukses gak usah capek-capek dikuras haha).
Intinya, rumah gue di bagian depan itu nyenengin, indeed. Bisa banget santai-santai disitu. Mungkin kalo stress bisa deh jadi tempat pelarian daripada, well, embracing myself with texting my ex to say “hello, can I meet you for a while to vanish this headache”. Hahaha.
Kenapa tetiba gue nulis soal ijo-ijoan?
Entahlah. Ngerasa mellow aja tadi. Gue abis nyiram taneman dari ujung rumah gue yang sebelah sampe ujung rumah gue yang sebelahnya lagi. Kalo diitung bener, panjang zona taneman di rumah gue itu sekitar 20 meter. Capek. Tapi resenya gue selalu suka nyirem taneman, karena faktor ijo ini. Jadilah abis nyirem taneman gue nyapu halaman (yang panjangnya 20 meter juga) dan bikin gue keringetan lebay. Ngisislah gue di teras rumah. Gue duduk santai disitu sambil lemesin badan. Angin tumben beneran sepoi, bikin gue betah. Lama… lama… pikiran gue yang semula adem ayem perlahan belok ke perasaan galau. Gak tau kenapa ini kok mellow. Gue gak mikir macem-macem, dan gue juga gak lagi ada masalah. Mood gue juga lagi bagus.
Tapi beberapa menit lebih jauh gue langsung realize apa yang mengganjal itu. Tentang gue yang mau pergi dari rumah gak lama lagi. Semarang. Tembalang. Kuliah. Bentar lagi gue gak bakal sering di rumah. Gak bisa sering duduk santai ngambil spot pewe begini, disini. Ada hasrat sampe pengen bawa sekotak taman gue ini ke kosan (yakali hahaha). Gue otomatis juga mikir, selama ini gue ngapain aja di rumah? Ndekem, semedi di kamar? Nonton drakor, anime, mantengin Shawn Mendes sama Charlie Puth? –yah, tetiba kalimat seterusnya gak lebih dari ocehan panjang betapa gue menyesal-
Menyesal, karena selama berbulan-bulan nganggur di rumah dan gak pernah nyempetin lihat keadaan lingkungan sekitar gue. Gue apatis, meski beres-beres rumah tiap hari. Pun gue tipe orang yang emang cuek. Ngerasa begini pas belakangan, pas mau pergi gini. Duh, moral value banget gak sih, kalimat “Mulai sekarang gak boleh gak peduli sama sekeliling lo” bisa nongol cuman berawal dari lihat ijo-ijo? :v