Halo semua ! gimana kabarnya sampe hari ke-18 ini ? Lancar dong yaa :D Semoga selalu dalam kondisi yang baik dan selalu berada dalam lindunganNya yaa aamiin :)
Baru bisa come back lagi setelah 2 minggu lamanya :’’ Susah ternyata istiqomah buat nulis. Ide ada waktunya ga cocok, waktu kosong ide nya yang ga muncul :”” Karna itulah kutak bisa menjadikan profesi penulis sebagai kerjaan utama, semua sesuai mood :’’’
Well, bulan Mei ini bulan banyak ‘event’ menurutku. Bulan Mei tahun ini bertepatan dengan ibadah shaum Ramadhan, hari buruh, hari pendidikan, hari kebangkitan nasional (tanggal-tanggal merah di kalender guys :D) dan yang ga kalah penting bulan kemarin kita udah melaksanakan pesta demokrasi akbar guys dan di bulan ini pengumumannya. Yap, bener banget Pengumuman hasil pemilu tahun 2019 ini. Satu kata untuk Pemilu kali ini : HEBOH ! Di awal heboh dengan pencalonan para kandidatnya ditambah heboh dengan mekanisme pemilihan karena berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Di tengah-tengah keberjalanannya heboh karena ratusan petugas KPPS meninggal dunia dikarenakan kelelahan katanya (logis sih ya, tapi ajal kan memang kehendak Allah SWT, perantara atau pemicunya ? Wallahu’alam). Dan yang lebih heboh di akhir pesta demokrasi ya guys. Pihak penyelenggara yang terlihat plin-plan menentukan tanggal pengumuman mundur-maju-maju dan tadaaa surprise di tengah malem 21 Mei ya guys :”” terkejut dong liat media dapet surprise kaya gitu sayang kurang kue, lilin sama balon ya :”
Beberapa minggu lalu ku sempat terpikir sesuatu setelah mendengar kabar penetapan hasil pemilu tanggal 22 Mei. Sejenak terlintas film dibalik 98 yang mengentalkan memori akan sejarah bangsa ini. Ya, kala itu, tahun 98, tepat tanggal 21 Mei Presiden rezim orde baru berhasil digulingkan oleh para demonstran yang mayoritas mahasiswa setelah beberapa hari konflik antara demonstran dan pemerintah juga setelah terjadi kekacauan tindak kriminal selama masa tegang itu. Bukan maksud mendoakan kejadian tersebut akan berulang dengan berujar “bisa-bisa kaya 98 lagi″ tapi melihat stabilitas politik negeri ini yang memang sedang “sakit” bukan tidak mungkin hal tersebut bisa terjadi itu pikirku. Aksi demonstrasi sudah dicanangkan oleh masyarakat di tanggal 22 Mei. Dan semacam melempar bom waktu dengan percikan api pengumuman hasil pemilu yang terkesan “mengendap-endap” terbakarlah rasionalitas masyarakat akan hal tersebut. Aksi demonstrasi pun tak ubah hanya orasi semata, sudah terbalut emosi yang tidak terima akan panggung yang disajikan. Kisruh seharian cukup membuat tangis melihat korban yang berjatuhan di medan tersebut. Kebebasan informasi pun dibatasi. Miris. 22 Mei menjadi catatan hitam untuk kita semua. Negeri ini berduka.
Well, hak kita menentukan pilihan akan negeri ini parameter baik-buruknya kembali pada diri kita masing-masing, menginginkan negeri yang seperti apa ?
Bukan pemilu yang ingin kubahas dalam tulisan ini. Itu hanyalah sebagian peristiwa di tanggal 22 Mei.
Saat negeri ini dilanda kekhawatiran akan peristiwa demonstrasi besar-besaran, di saat itu pula kita kehilangan salah satu tokoh ulama besar di negeri ini. Ya, beliau adalah Ust. Arifin Ilham. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya di Malaysia setelah mengalami sakit sebelumnya. Beliau ustadz yang sangat familiar bagiku, sedari kecil sering melihat beliau melalui saluran televisi. Senang mendengar tausiah yang beliau sampaikan karena bahasanya yang ringan mudah diikuti sekalipun untuk anak sekolahan untukku saat itu dan suara beliau itu mudah menyentuh hati, dan semua orang sepakat untuk ini (yang kubaca di media).
Dua tahun lalu alhamdulilllaah dikasih kesempatan buat ikut majlis ta’lim yang diisi beliau di TSM dalam rangka menyambut bulan Ramadhan (waktu itu Ramadhannya mulai 27 Mei guys *terus kenapa :”””). Waktu itu pertama kali dateng ta’lim di sana dan sendiri, tuntunan Illahi kali ya :””
Tadi sempat kubuka catatan waktu beliau ceramah di ta’lim tersebut. Begini isinya. *monmaap gajelas emang begini anaknya kalau nulis :’’’
Beliau membahas tentang husnul khotimah *salah tulis ya yang di atas monmaap* dimulai dari definisi per kata sampai cerita-cerita yang mendukung penjelasan definisi tersebut. Beliau pun menjelaskan tentang hikmah. Yang kuingat adalah “Hikmah itu kita cari sendiri engga dateng sendirinya” dengan komposisi hikmah itu terlampir di atas, yaitu : Iman, Ilmu, Amal, dan Istiqomah.
Dan yang terakhir beliau menjelaskan sedikit tentang sedekah lalu mempromosikan madu sebagai bisnis yang sedang ia jalankan ditutup dengan bermunajat pada Illahi Rabbi dengan ciri khas beliau. Jujur cukup merinding waktu itu :”
Aku ingat ta’lim beliau waktu itu di hari-hari sebelum ramadhan dan kalau tidak salah bulan Mei juga. Lalu kulihat tanggal pembuatan catatan ini : 11:01 05/22/2017
Subhanallaah. Waktu ta’lim beliau itu tanggal 22 Mei 2017 dan kemarin beliau berpulang tepat tanggal segitu juga 22 Mei 2019. Subhanallaah. Laa hawla wala quwwata illa billahil’aliyil adzim. Memang takdir Allah SWT akan hal ini. Semoga beliau berpulang dengan keadaan yang pernah ia sampaikan dahulu :Husnul Khotimah Aamiin yaa rabbal’alamiin.
Sumbangsih yang besar telah ia berikan untuk negeri ini. Pasti banyak yang merasa kehilangan beliau, tak terkecuali aku karna beliau berjasa mengubah mindsetku yang sempit buat ta’lim jadi “wah rame ningan dan jadi pengen menggali banyak hal yang belum tau akan agama :”” Semoga apa yang pernah ia sampaikan pada kita semua dan pada negeri ini akan terus diamalkan sehingga menjadi amalan yang tak terputus untuk beliau. Terimakasih atas semua pengorbanan dan jasamu, sampai bertemu di surgaNya kelak, Ust Arifin Ilham.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.
Aamiin yaa rabbal’alamiin.
Sekian peristiwa 22 Mei nya guys, semoga ada hal kecil yang bermanfaat yaa hehe. Keep strong on this Ramadhan. Lancar-lancar ibadah shaumnya. Selipkan doa kebaikan untuk negeri ini, semoga aman terkendali lagi :)
See you on next writing :)