Koffie Oorlogsdrama—Drama Perang Secangkir Kopi
Jemari lentik itu terus mengaduk kopi dalam cangkir porselen cantik. Perlahan, memastikan gula menetralisir sedikit demi sedikit pahit dari biji-biji yang dipanen langsung oleh kaumnya dari Residen Bantam [1] sana. Ia mengecap setitik air kehitaman itu dan tersenyum puas kala rasa pahit-manis itu tercecap lidahnya.
—sejujurnya, ia bisa mengecap asin darah kaumnya yang didera demi terkirimnya biji-biji hitam ini ke broker-broker kopi di Amsterdam sana.
Tiga ketukan di pintu jati berukir, “Ned, kopinya sudah siap,” dan yang bisa didengarnya hanya hardikan pemuda berambut pirang itu dalam sederet bahasa ibunya.
Ada suara orang lain juga, menjawab takut-takut hardikan itu dalam bahasa Belanda berlogat Jawa yang terbata, sebelum satu bentakan final mengantarkannya keluar kerja sang Nederlander. Sorot mata jati itu menggelap sesaat ketika matanya bersirobok dengan sang inlander [2]. Bergidik, pribumi itu segera menggumamkan pamit padanya dan berlalu secepat kakinya membawa. Seringai sinis terulas sekilas di bibir merah jambu perempuan bermanik sewarna jati itu, sebelum ia membuka pintu dan memasang senyum termanis yang ia punya.
—nikmati permainanmu atas pion rakyatku selagi bisa, sebelum api putra bangsaku menjeratmu dalam abu.
Sorot mata jati itu lembut, meski juga curi-curi pandang pada buku bermata zamrud itu coba sembunyikan darinya, Max Havelaar of de Koffieveilingen der Nederlandse Handelsmaatschappij [3], menenangkan sang pemilik mata zamrud.
“Istirahatlah sebentar. Sudah kubuatkan kopi. Dan, ah, ada kue talam juga. Jangan mengharap poffertjes. Aku tak bisa memasaknya.”
“Dank u [4],” diiringi senyum tipis maha langka yang hanya beberapa di dunia ini yang bisa melihatnya—dan perempuan ini salah satunya, suka tak suka.
Hidung mancung itu membaui aroma kopi dan beragam rempah di dalamnya—jahe, cengkeh, kapulaga, dan daun salam—yang masih mengepulkan uap panas, “Kopimu selalu nikmat, Indie.”
Perempuan yang dipanggil ‘Indie’ hanya tersenyum saat bibir kasar itu mengecup dahinya—sekarang ia hanya terpaut sekepala dari pria itu.
—tentu, biji kopiku yang menyejahterakan negaramu, bukan?
—biji kopi yang berselimut darah rakyatku.
Anggap aku boneka manismu
yang akan selalu menuntut sekehendak belai jemarimu.
Malam sudah larut kala derap kuda membelah salah satu pojok School tot Opleiding van Indische Artsen [5]—STOVIA—dan berhenti di belakang asrama siswa. Segera setelah turun dari kuda dan menambatkan tali pengikatnya ke pancang hanya dengan bantuan sebuah obor, perempuan berambut hitam ikal itu memasuki asrama dan tanpa ragu menaiki tangga menuju lantai atas. Ia sudah ditunggu di kamar ketika di sebelah kiri tangga.
“Nona Raya, Anda-uhuk-uhuk.”
Ini STOVIA, dia sudah menduga jika akan disambut aroma obat dan bendel-bendel buku beraroma apak. Namun disambut semburan batuk si empunya kamar begitu masuk—lagipula, kenapa dia sendirian di sini?—hal ini tak pernah terlintas dalam benaknya.
“Saya nemen laramu, War [6].” Raut cemas melintas di wajah si manik jati.
“Kula mboten ‘napa-napa, kok [7].” Senyum lugas terpampang di wajah tuan rumah.
“Bocah keras kepala.” Dengusan, diiringi gelengan kepala antara heran dan maklum.
“Anda juga bukan, Nona?” Saling pandang, dan keduanya larut dalam tawa.
“Raden Mas Suwardi Suryaningrat, engkau berada di sekolah untuk dididik calon dokter. Tidak seharusnya pula engkau sakit begitu,” tegur sang nona bermata sewarna jati seraya mengacak-acak rambut hitam mahasiswa senior STOVIA itu.
Merengut, tidak suka dianggap layaknya anak kecil, Suwardi menyahut, “Tidak mengapakah anda datang kemari, Nona?”
Perempuan yang dipanggil Raya itu mengangguk, “Tidak mengapa. Dia tengah kembali ke Eropa,” meletakkan buntelan bawaannya di atas ranjang bertingkat kamar yang Suwardi dan kawannya tempati, “Di mana pula kawan-kawanmu?”
“Sutomo tengah bertemu pamandanya. Yang lain tidak bisa berkumpul hari ini. Kami diawasi.”
Mendengus, dia sudah menyangka ini yang akan diperbuat pemerintah kolonial atas kelompok bentukan para putra bangsanya—dia menghenyakkan pantatnya ke atas kasur seraya membuka buntelannya.
“Padahal aku telah berpenat-penat membawakan kalian buah tangan.”
Alis sentono [8] Keraton Pakualaman itu berkerut sejenak demi mendengar gerutuan perempuan yang baru dikenalnya setahun terakhir itu, sebelum mata cokelatnya yang khas pribumi melebar.
“Ini... buku ini dilarang beredar bukan?” Pemuda pandai yang aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo [9] itu tergagap, tumben, “Bagaimana —?”
“Ada banyak sekali buku ini di rumahku. Hilang satu atau dua tidak akan ada yang menyadari,” Raya nyengir, seraya mengambil sebendel buku dari tumpukan yang dia bawa dan menyodorkannya pada Suwardi, “Kalian pasti ingin membacanya, bukan?”
Pemuda yang baru menginjak usia dua puluh itu menyambar buku legendaris yang pertama kali diterbitkan langsung menggemparkan Benua Biru itu dari tangan Raya dan langsung membalik lembar demi lembarnya, “Tentu! Tentu saja! Takkan ada mahasiswa STOVIA, terlebih Boedi Oetomo, yang akan menolak membaca Max Havelaar! Multatuli sudah kami anggap kawan seperjuangan kami sendiri.”
Anak kecil, pikirnya seraya tersenyum melihat raut girang bumiputera [10] yang satu itu, sebelum sekelebat imaji menyambar benaknya...
Ia menatapmu sayang, bertanya tentang sebentuk makanan yang barusan disodorkannya kepadamu.
Sosok itu jauh lebih tinggi darimu. Ya, dulu memang begitu. Kau masih sepinggang pria itu kala pertama kali ia datang ke pesisirmu dengan kapal-kapal besar dan wajah disetel kelewat datar. Ia bilang datang dari daratan yang sangat-sangat jauh. Dan ia juga bilang ia dayang hanya untuk menemuimu.
Sesungguhnya, banyak pula yang sudah menemuimu sebelumnya. Kakak berambut panjang yang mengajarimu berhitung. Kakak berkulit gelap yang menceritakan beragam kisah dewa-dewi. Kakak berpakaian serba panjang yang mengajarimu tentang Tuhan yang satu. Kakak yang kelewat ceria dan menanyaimu macam-macam tentang rempah dan kegunaannya. Namun ia berbeda. Ia tidak hanya datang sejenak. Ia terus ada di sampingmu, menggendong tubuh mungilmu ke mana-mana. Ia memeluk dan mengecupmu. Ia begitu memperhatikanmu.
Tanpa takut, kau menggigit secuil makanan dalam genggamanmu dan tersenyum ketika sebentuk rasa menggelitik lidahmu, “Hem. Ini manis...”
Pria itu mengacak rambutmu lembut.
Namun entah sejak kapan—dan sepertinya saat kau mulai tumbuh hingga setinggi dada pria itu—ia mulai tak lagi sekadar memeluk serta mengecup pipi dan dahimu. Ke bibirmu yang merah ranum, ke lehermu yang sewarna sawo matang, ke telinga mungilmu yang dinaungi rambut ikal hitam nan lebat, hingga... ah, tak bisa kau menjabarkannya. Dan pelukan itu tak lagi sekadar mengandung afeksi. Namun juga... birahi.
“Tentu saja. Ini kan kue, mijn Indie [11]. Dan namanya poffertjes.”
Dan namamu berganti. Tak lagi engkay dikenal sebagai Nusantara yang berjaya dengan semua kerajaan adidayanya. Sekarang kau beralih nama menjadi Nederlandsch Indie, Hindia Belanda.
Nama yang melambangkan bahwa kau milik pria itu—kau milik Koninkrijk der Nederlanden. Dan, ya, untuk sesaat kau merasa bahagia--karena kau belum tahu apa-apa. Kau dicintai, dilindungi, diajari beragam hal olehnya. Kau mempercayainya. Dan perlahan kau... jatuh cinta.
Ia tertawa mendengar pelafalanmu yang lucu. Bahasanya terlampau sulit kau lafalkan. Kau mengerti ucapannya. Tapi kau tak bisa—belum—bisa mengucapkannya.
Dan perlahan pula kau mengetahui segala yang ia sembunyikan mati-matian darimu—bagaimana pun ia menempatkanmu di kediaman megang yang ia dirikan di tanahmu, di pinggiran Batavia namun jauh dari mana-mana, tak mengherankan kalau kau tak bisa mendapatkan kabar tentang dunia luar. Rakyatmu, ia mendera mereka semua demi rajanya. Beragam peraturan yang ia bilang padamu akan mengatur bangsamu dengan lebih baik, yang ia bilang akan membuat rakyatmu lebih sejahtera, ternyata hanyalah kedok untuk mengeruk keuntungan bagi bangsanya sendiri. Landelijk Stelsel, Regeeringsreglement, Cultuur Stelsel, Agrarische Wet [12]. Segalanyahanyalah kepalsuan, topeng yang ia kenakan pada usahanya demi memeras emas dari tanahmu, demi menyarikan gulden demi gulden dari darah rakyatmu.
“Sudahlah. Tak masalah kalau kau kesulitan mengucapkannya,” tangan kirinya mengangkat dagumu dengan lembut, tangan kanannya menyeka remah kue di mulutmu, “Yang penting, kau suka?”
Ia menyunggingkan senyumnya yang langka itu—saat itu kau tak tahu, bahwa kau, terlepas dari segala yang ia lakukan padamu, adalah sosok yang teramat berharga baginya.
Puncak dari segalanya adalah saat kau bertemu salah satu rakyatnya di tanahmu. Ia tersesat saat hendak kembali ke kediamannya di Lebak sana dan ia sangat butuh pertolongan. Ia heran melihatmu ada di rumah semegah ini, sendiri pula—si mata zamrud sedang pergi ke pusat kota, mengurus beberapa hal dan meninggalkanmu sendiri bersama beberapa ambtenaar [13] yang ditugaskannya untuk menjagamu dan babu untuk melayanimu. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Eduard dan menceritakan segala yang ia dengar, lihat dan alami padamu di tempatnya bekerja sebagai asisten residen di Lebak, Residen Bantam. Juga tentang bagaimana ia melihat kekejian rakyatnya terhadap rakyatmu, bahkan rakyatmu terhadap sesamanya sendiri di perkebunan kopi di Preangan [14]. Kau terkejut bukan kepalang. Amarah menggelegak di sekujur tubuhmu.
Sekarang segala pertanyaanmu terjawab. Kenapa dia sela setiap sentuhannya yang memabukkan ada friksi pedih dan perih yang juga membuncah, kenapa kau sering merasakan sakit tak tertahankan di sekujur tubuhmu padahal tidak terjadi apa-apa—ia bilang itu karena kau sedang ‘tumbuh’, semua yang tumbuh akan merasakan sakit yang sama, katanya—juga apa yang ia tutup-tutupi darimu selama ini.
Senyum tersungging di bibirmu. Semanis madu, selembut beledu. Hanya untuknya. Hanya untuk pemuda bermata hijau pucuk nyiur di pesisirmu dan rambut merona lazuardimu tatkala senja tiba.
Kau mulai menanyai para babumu, tentu dengan diam-diam saat ia tak ada di rumah. Kau juga mulai membaca semua dokumen yang ia simpan di luar jangkauanmu—terima kasih kepada para babumu yang berterus terang kepadamu tentang di mana ia meletakkan semua dokumen itu. Kau tetap tersenyum pedanya seperti biasa, kau tetap merengkuhnya dalam peluk cumbumu seolah tak ada apa-apa. Namun di balik itu, tiap kali ia pergi, kau pun menyelinap dari kediamanmu. Kau singgahi perkebunan demi perkebunan, kau sambangi kampung demi kampung, kau datangi sekolah demi sekolah, kau hampiri markas demi markas pejuang bumiputera. Kau kobarkan semangat juang rakyatmu, kau ajarkan pada mereka segala pengetahuan yang ia beri padamu, kau suplai mereka dengan segala informasi yang kau tahu.
Ya, di atas semua perasaan bernama ‘cinta’ yang terpatri arat dalam benakmu sebagai seorang Raya, kau sepenuhnya ingin lepas dari genggamannya—sang penjajah Koninkrijk der Nederlanden—sebagai sang Nusantara.
Sebagai pewaris dua kerajaan luar biasa—kakek dan nenekmu, Majapahit Yang Agung dan Sriwijaya Yang Masyhur—sebagai kristalisasi jiwa seluruh nyawa di tanah airmu, kau sudah memutuskan, bertekad, bahwa kau, sang Nusantara, akan merdeka...
Raya terhenyak dari lamunannya.
“Panjenengan mboten punapa-punapa? [15]” tanya Suwardi sebelum kembali tebatuk.
Raya tersenyum, menggelengkan kepala dan berdiri, “Wong lara aja nguwatirna wong liya. [16]”
Suwardi mengernyitkan alisnya dengan wajah aneh—upaya gagal untuk menahan raut wajah yang hendak merengut. Raya heran, bagaimana pemuda yang dinilai para sahabatnya sebagai sosok yang kras maar noit grof—keras namun tidak kasar—itu bisa tampak layaknya bocah di hadapannya.
Inikah rasanya sebagai seorang perinsanan negara—menganggap tiap rakyat adalah anak dan tiap individu adalah bakal sel yang membentuk jiwa dan raganya?
“Aku pergi dulu. Aku ada janji lain pula. Titip salam untuk teman-temanmu, War,” menyunggingkan senyum seraya menepuk sang priyayi Keraton Pakualaman, Raya berlalu.
Kertas itu hampir remat di antara jemari pemuda bermanik sewarna jati. Kertas putih bertuliskan rapi aksara Jawa bersandi dari salah satu putra bangsanya. Mengabarkan bahwa pergerakan mereka makin dipaksa tiarap dan mengharuskan mereka untuk berorganisasi dengan cara gerilya. Juga mengabarkan bahwa salah seorang anggota inti mereka telah rehat dari STOVIA dan organisasi mereka karena sakit, membuat mereka makin kesusahan.
Perempuan itu mengeratkan genggamannya hingga buku-buku jarinya memutih.
—kekang aku dengan segala dayamu, selagi kau mampu, selagi aku masih menunggu.
Derit pintu membuat pemuda itu refleks menjejalkan deluang di tangannya ke dalam laci meja. Tepat sebelum pintu terbuka dan sosok tinggi itu memasuki kamarnya—kamar mereka, klaim si tinggi.
Perempuan itu berbalik badan, tersenyum begitu rupa dan menyambut kedatangan sang pemuda Eropa. Begitu keduanya berada dalam jangkauan lengan satu sama lain, satu pelukan mesra dan satu kecupan panjang dipertukarkan.
Rindu. Perasaan manusiawi ketika orang terkasih pergi—perasaan yang tak pernah semestinya masih ia miliki setelah mengetahui segala yang telah disembunyikan darinya. Aah, ternyata bagaimana pun juga ia tak bisa menyangkalnya. Ia memang mencintai pemuda di hadapannya—tapi ia lebih mencintai rakyatnya.
“Welkom, Ned,” demikian lembut ucapnya ketika akhirnya bibir mereka tak lagi saling taut, “Bagaimana perjalananmu?”
“Luar biasa. Kau tahu, aku menemukan naga di ujung timur tanahmu [17],” kisahnya dengan nada riang, terdengar datar bagi orang awam, tapi tidak bagi mereka yang sudah bersamanya tiga ratus tahun, sepertinya.
Aah, warita yang menyenangkan lainnya. Ia hanya akan menceritakan kisah-kisah ceria, petualangan mendebarkan, dan cerita-cerita mengangumkan tatkala kembali dari perjalanan—bukan fakta bahwa rakyatnya telah ia dera—pada si manik jati.
—tipu aku dengan segala mantra katamu, aku akan pura-pura tak tahum demimu.
“Benarkah? Bisa tidak kau perlihatkan padaku? Aku ingin melihatnya,” celetukan polos terlempar—disengaja, tentu saja.
Senyum, “Ja”, dan lengan itu merengkuh tubuhnya lebih dekat, lebih dekat sebelum bibir kasar itu memerangkap bibirnya lagi. Di antara desah dan engah tatkala tangan besar sang kolonialis mulai menjelajah tubuhnya, ia hanya bisa berharap bahwa esok ia masih akan bisa bangkit dari ranjang—karena bisa dipastikan malam ini tubuh sang perempuan bermanik sewarna jati tak hanya akan menjadi miliknya pribadi.
—aku akan menahan diri, seperti Adinda terus menanti Saidjah [18] hingga mati.
—aku akan menahan diri, sampai tiba hari.
Pemuda berusia 23 tahun itu menghampiri Raya yang baru saha turun dari kudanya di depan gedung apartemen mungilnya dan menjabat tangannya dengan semangat. Di sampingnya berdiri dua orang pria—yang kemudian dikenalkannya pada Raya dengan nama Tjipto Mangunkusumo dan Ernest Francois Eugene Douwes Dekker—yang wajahnya tak lagi asing bagi Raya.
“Kowe iki—! Cah gemblung! Metu sekolah ora kandha-kandha, saiki malah ngadegna partij! [20]”
Tertawa-tawa, Raya memeluk dan berusaha menjitak Suwardi—yang hengkang dari STOVIA dua tahun lalu karena sakit—yang jujur saja agak sulit mengingat tinggi badan Raya tak melebihi target jitakannya. Dia terkejut, saat tadi memperoleh surat yang mengabarkan bahwa telah terbentuk National Indische Partij, partai politik pertama dari kalangan bumiputera—belum disahkan pemerintah kolonial memang, Raya berani bertaruh gunung Krakatau bakal meledak lagi kalau kelompok revolusioner ini mendapat izin pengesahan. Dan yang lebih mengagetkan, salah seorang pendirinya adalah bocahnya yang satu itu! Segera ia menyambar kudanya—untung saja pemuda berambut pirang jabrik itu sedang pergi ke pusat kota, dia harus kejar-kejaran dengan waktu memang, tapi persetan sajalah—dan bergegas pergi ke alamat yang ditunjuk surat yang ditulis dalam aksara Jawa bersandi itu.
“Kula mboten pengin panjenengan kuatir, Non. [21]”
“Dalam situasi seperti ini, akan sangat aneh jikalau aku tidak khawatir, War. Dan, Meneer Douwes Dekker?”
Sayang sekali Raya tidak dapat mengatakan sebab dia senang bertemu pria separuh Nederlander-separuh Indo di hadapannya ini. Tentu ia tak bisa katakana bahwa puluhan tahun lalu ia bertemu dnegan sesepuhnya yang menuliskan buku terkenal yang memicu Yang Mulia Ratu Wilhelmina menerapkan ethische politiek—politik etis—di negerinya sini bukan?
“Ja. Het is een groot genoegen om jij [22], Nona Raya. Suwardi banyak bercerita tentang Anda.”
“Het genot is van mij [23], Meneer Douwes Dekker. Kutebak dia menceritakan yang buruk-buruk tentangku.”
Raya senang, sungguh senang. Suwardi, bocah penyakitan itu, kini menjadi pendiri politiek partij—partai politik—pertama yang pernah didirikan bumiputera, dengan cucu jauh Edward Douwes Dekker pula. Hah. Mulai sekarang, perlawanan kepada pemerintah kolonial akan semakin gencar. Pasti. Ia yakin itu. Dan mereka yang ada di hadapannya kini, mereka semua akan menjadi tokoh kunci.
Raya tak menyadari, dalam kereta kuda yang lewat dengan kecepatan tinggi di jalanan di sebelahnya, sepasang mata sewarna zamrud terbelalak melihatnya bersama dengan seorang pemuda berbusana khas Jawa. Raya tak menyadari, sosok itu tak sempat menghentikan kereta kudanya dan turun mengejarnya karena tak cukup percaya dengan apa yang dilihatnya. Raya tak menyadari…
Bentakan itu membahana begitu keras saat engsel pintu keretanya menjeblak terbuka. Para babu yang menyambutnya tentu saja kebingungan.
Naik dua oktaf setidaknya dan semua orang mundur teratur, berusaha keluar dari jangkauan laras pistol yang tersemat di pinggang sang majikan. Tahu begini mereka tidak akan membiarkan saja saat sang ‘tawanan’ melarikan diri untuk sementara seperti biasa. Tahu begini mereka akan menentang mati-matian meski harus disepak kuda hitam tunggangan sang ‘tawanan’.
“Ned? Je thuis al—kau sudah kembali?”
Sapaan lembut itu sangat kontradiktif dengan ucapannya. Terlampau berlawanan. Apalagi diserta air muka sang pengucap juga dibandingkan—barang luar biasa versus kalem tiada tara, tiada banding, bukan?
Hampir ia tak mempercayai matanya sendiri. Indie-nya ada di sini? Dia ada di rumah? Lalu yang dilihatnya di jalanan pusat kota Batavia tadi? Matanya sehat dan awas, dia yakin—dia tak perlu kacamata seperti maniak musik tertentu di Eropa sana—jadi, itu tadi siapa?
Para babu sudah menghembuskan napas lega. Anda luar biasa tepat waktu, Nona.
Perempuan pribumi itu tersenyum, tangannya memeluk baskom berisi rumpun-rumpun melati—tampaknya akan ia gunakan sebagai pengharum pakaian seperti biasa—dan menghampirinya, “Tahu kau pulang cepat begini sudah kujerangkan air untuk membuatkanmu kopi. Baru saja kita mendapat kiriman—dari Preangan—kau pasti—hmph!”
Perempuan bermata sewarna jati itu tak diberinya kesempatan menyelesaikan kalimatnya. Bibir merah delima itu dikuncinya dengan bibirnya sendiri tanpa ada aba-aba. Di depan mata semua para ambtenaar dan babu. Tak mempedulikan semua tabu dan aturan yang ia buat sendiri—kecupan intim mereka hanya terjadi di balik kelambu, bukan untuk dipertontonkan di hadapan para babu. Rumpun melati dalam wadahnya di pelukan sang perempuan tadi? Sudah tercecer terlupakan tersaput lumpur debu.
Kecupan itu beringas, menutut, putus asa. Gesek gigi-geligi, kecap lidah dan pertukaran saliva, remasan jemari di rambut panjang perempuan yang ia dominasi—ia ingin meyakinkan diri. Bahwa bukan Indie yang dilihatnya tadi. Ia ingin meyakinkan diri—bahwa semua fakta masih tersembunyi.
Jangan sampai, jangan sampai Indie-nya tahu. Ia tak mau. Sungguh.
Sungguh keputusan tepat ia menolak ajakan bocahnya untuk masuk dan menikmati secangkir the seraya memperbincangkan langkah ke depan partai mereka. Sungguh tepat.
Karena jika tidak, ia takkan sempat kembali tepat waktu—ia memilih jalan pintas menerobos hutan saat kembali, kuda kesayangannya itu tahan banting, untung saja. Sebab jika tidak, ia takkan sempat menyambar baskom berisi rumpun melati di dapur sebagai bukti ia tak meninggalkan kawasan kediaman mereka. Karena jika tidak, ia tak tahu apa yang akan terjadi nantinya.
Melihat sikapnya, apa dia sudah tahu bahwa ia sudah tahu?
Jangan, mohon jangan dulu. Momentum belum datang. Rakyatnya belum siap. Sampai kesempatan bertemu dengan kemampuan, sampai itu tiba… ia mohon dengan sangat, jangan dulu…
—kini belum sampai waktu, janganlah dulu tahu.
[1] nama lama Provinsi Banten dalam peta wilayah pemerintah kolonial Belanda—diambil dari Bab V Max Havelaar oleh Eduard Douwes Dekker.
[2] sebutan untuk warga pribumi dalam bahasa Belanda.
[3] Max Havelaar Atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda. Novel karya Eduard Douwes Dekker yang menggemparkan Eropa saat diterbitkan pertama kali di tahun 1960—meski sudah melalui revisi yang tidak diketahui Eduard dan editornya—karena menyoroti kekejaman pemerintah kolonial Belanda atas rakyat Hindia Belanda.
[5] Sekolah Pendidikan Dokter Hindia. Cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Merupakan perguruan tinggi kedokteran khusus untuk pribumi di masa penjajahan Hindia Belanda dulu.
[6] semakin parah sakitmu, War (Jawa)
[7] saya tidak apa-apa, kok (Jawa)
[8] kerabat keraton. Raden Mas Suwardi Suryaningrat merupakan cucu dari Sri Paku Alam III
[9] organisasi nasional pertama Indonesia. Didirikan Minggu, 20 Mei 1908, pukul 09.00 pagi di salah satu ruang belajar STOVIA. Meski bertitel nasional, para founder organisasi ini kesemuanya orang Jawa—kebanyakan priyayi atau bangsawan keraton.
[10] sebutan lokal untuk warga pribumi.
[12] Landelijk Stelsel: sistem sewa tanah buatan Raffles (1811-1816). Regeringsreglement (1854): pembaruan konstitusional untuk daerah Hindia Belanda, memuat pula pemisahan yang ketat antara warga Eropa dan kaum Inlander. Cultuur Stelsel (1830): kata lain dari sistem Tanam Paksa. Agrarische Wet (1871): kata lain dari UU Agraria, merupakan kebijakan politik pengganti sistem Tanam Paksa.
[13] nama lain bagi pegawai negeri di zaman Hindia Belanda.
[14] nama lama Priangan dalam peta wilayah pemerintah kolonial Belanda—diambil dari Bab V Max Havelaar oleh Eduard Douwes Dekker.
[15] anda tidak apa-apa? (Jawa)
[16] orang sakit jangan mengkhawatirkan orang lain (Jawa)
[17] Ekspedisi Belanda ke Pulau Komodo melaporkan penemuan komodo kepada masyarakat di Eropa untuk pertama kalinya di tahun 1910
[18] Kisah cinta sepasang pribumi yang diangkat E. Douwes Dekker dalam bab XVII Max Havelaar. Disebut-sebut sebagai kisah Romeo versi Hindia Belanda.
[19] Douwes Dekker sang Multatuli dan Douwes Dekker yang beralias Danudirja Setiaboedi adalah dua orang yang berbeda.
[20] anak ini—! Bocah bodoh! Keluar sekolah tidak bilang-bilang, sekarang malah mendirikan partai! (Jawa—kata terakhir bahasa Belanda)
[21] saya tidak ingin Anda khawatir, Non (Jawa)
[22] ya. sungguh suatu hal yang sangat menyenangkan bisa bertemu Anda (Dutch)
[23] aku yang senang (Dutch)
[24] di mana dia? (Dutch)
p.s.: tulisan ini, (gimana bilangnya ya) adalah cerita tentang dua sosok yang menjadi representasi sebuah nation/negara—di sini, tentu, Belanda sama Indonesia—dan itulah kenapa Raya dan Ned (yep, diambil langsung dari nama negaranya, Nederlandsch) berpuluh tahun bersama, dan mereka berwujud pasangan muda; karena mereka hasil manifestasi lain yang disini jadi tokoh. Tokoh yang membaur sama manusia-manusia faktual yang tertulis di buku sejarah, hahaha. Tidak terlampau kompleks untuk dipahami, kan? Ini cuma fragmen-fragmen sejarah yang di-blend sama fiksi, so, that’s it.