Seperti pepohonan yang menjadi saksi bagaimana derita juga bahagia bercampur rata kala aku mendaki untuk pertama kalinya, seperti itulah kamu, diam-diam menjadi penonton saat aku memperjuangkan keinginan untuk menaklukan diriku sendiri. Kamu tahu bukan puncak yang ingin kutuju sebenarnya, pun berselfie-selfie ria di atas ketinggian tiga ribu tujuh puluh delapan meter di atas laut, tapi kamu sedang mencoba membantu aku menjadi penanggung jawab atas kemauanku sendiri. Setiap aku kelelahan, setiap rasanya ingin kusudahi saja perjalanan itu dan memilih pulang ke rumah, kamu pasti akan berkata, "jangan hanya ingin, tp belajarlah bertanggungjawab atas keinginanmu sendiri". Mendengar kalimat itu dari mulutmu berulangkali adalah pacuan yang membuat bara dalam diriku. Sakit yang kurasa saat itu tidak ada apa-apanya, lelah yang teramat kala itu tiada bandingnya dari rasa bahagia bersama-sama memperjuangkan apa yang diinginkan juga diniatkan oleh kita hingga akhirnya kita mampu mencapainya. Maaf jika teramat banyak air mata yang berderai, Maaf jika teramat banyak penahanan atas kelelahan yang aku pasrahkan begitu saja, Maaf jika teramat merepotkannya aku kala itu, dan maaf jika aku sempat ingin menyerah kala itu. Terima kasih, telah sabar menungguku menuruni ketinggian itu yang sangat sangat membuatku takut dan menjadi pengecut Terima kasih, telah dengan rela manjadi teman berpetualangku untuk pertama kalinya Terima kasih, telah banyak membantu dan mendo'a atas keinginan lamaku yang akhirnya terwujud juga. Terima kasih, karena tatapmu adalah percaya diriku kala aku terjatuh. Terima kasih juga kepada sahabat-sahabatmu yang sama berartinya seperti kamu untukku. Terima kasih untuk pengalaman yang kalian berikan untukku. Dariku si bocah cengeng yang masih berharap kalian sudi mengajakku berpetulang kembali untuk seterusnya. Laila, 26 Agustus 2017, dua minggu selepas perjalanan itu.