Memaafkan itu apa?
Merelakan pun memaklumi?
Merelakan pun memaklumi juga melupakan?
Bila memaafkan, tanpa lupa apa yang telah 'dimaafkan', apakah sudah bisa disebut 'memaafkan?
Atau melupakan bukan bagian dari memaafkan?
ojovivo

No title available
dirt enthusiast
h
Peter Solarz
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
TVSTRANGERTHINGS

titsay
Misplaced Lens Cap

Product Placement

Andulka
No title available

if i look back, i am lost

shark vs the universe

Janaina Medeiros
d e v o n
hello vonnie
Show & Tell
Alisa U Zemlji Chuda
cherry valley forever
seen from New Zealand

seen from Brazil
seen from Malaysia
seen from Italy
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Italy
seen from Singapore

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Italy

seen from Germany
@akarpohon
Memaafkan itu apa?
Merelakan pun memaklumi?
Merelakan pun memaklumi juga melupakan?
Bila memaafkan, tanpa lupa apa yang telah 'dimaafkan', apakah sudah bisa disebut 'memaafkan?
Atau melupakan bukan bagian dari memaafkan?
Tumbuh seseorang
Di dalam tubuhku, ada seseorang yang tumbuh. Sebelum bertemu aku sudah menyatakan cintaku kepadanya lebih dulu. Di dalam tubuhku, ada seseorang yang sedang tumbuh. Kelak saat pasang mata kita sudah saling bertemu, mungkin aku akan menangis haru. Di dalam tubuhku, ada seseorang yang tumbuh. Hadirnya yang kurasa sudah mampu membuatku bangkit dari terjatuh. Rasanya aku bisa tidak lagi rapuh. Di dalam tubuhku, ada seseorang yang tumbuh. Kelak duniaku akan jadi lebih bewarna setiap harinya atas kehadirannya. Tumbuhlah dengan baik, Kamu. _12/28/19
Mengapa ya?
Perkara kebaikan haruskah diketahui secara gamblang oleh orang-orang? Aku tidak mengerti dengan kepala yang berpikir bahwa seseorang bisa dikatakan telah berbuat baik ketika si empunya kepala itu yang mendapatkan kebaikannya. Kau mengerti tidak maksudku? Aku punya cerita tentang seseorang yang baik hatinya meski tampangnya bak preman yang kerap mangkal di terminal. Hanya seperti, tapi tidak begitu menyeramkan hehe. Seseorang itu setiap bulannya mengisikan beberapa amplop dengan sejumlah uang, lalu ia titipkan kepada salah satu dari keluarganya untuk memberikannya kepada beberapa orang yang dia rasa membutuhkan. Kadang dia menberikannya langsung seorang diri. Katakanlah dia memberi zakat dari sebagian upah kerjanya, dan itu dia lakukan rutin setiap bulannya. Orang-orang yang kebetulan mendapatkan kebaikan si dia ini, kadangkala mempertanyakan 'mengapa bisa dia memberikan zakat padahal kelihatannya dia masih kuliah dan tidak terlihat seperti orang yang bekerja?'. Padahal memang dia melakukan keduanya, pagi sampai sore hari dia bekerja, malamnya baru ia kuliah. Dia senang membantu, bukan hanya perihal zakat saja, memang dasarnya dia gemar melakukan kebaikan yang sekiranya dia bisa lakukan. Orang-orang mungkin senang dengan kebaikannya, sampai pada suatu hari dia menikah dengan seorang perempuan pilihannya. Selama beberapa bulan hidup bersama, si perempuan ini jadi tahu bahwa si dia yang merupakan suaminya ini kerap diam-diam memberikan uang pada tetangganya yang sedang sakit, atau membelikan peralatan sekolah untuk anak yang tinggal di dekatnya. Pernah satu saat si perempuan diminta untuk memberikan amplop berisi uang untuk anak yatim yang ada di dekat rumah orang tua si perempuan ini, dan si perempuan hanya mengikuti permintaan suaminya saja dengan senang hati. Setahu si perempuan ini, suaminya memang sering menyisihkan uang jika habis gajian, tapi mungkin uangnya diberikan tidak tetap kepada orang yang sama. Orang-orang yang tadinya sering menerima 'amplop' dari si dia ini jadi kembali mempertanyakan. Bedanya ini bersangkutan dengan istrinya. 'kenapa semenjak menikah, si dia jadi tidak lagi memberi seperti biasanya?' Si perempuan yang tak lain adalah istrinya ini sedikit bersedih hati ketika mendengarnya. Ia tidak pernah merasa untuk melarang suaminya memberikan kebaikan-kebaikan pada orang lain. Tapi pertanyaan orang-orang seolah-olah menuduhnya yang menjadi dalang dari tidak adanya lagi kebaikan dari si dia. Padahal orang-orang itu tidak tahu, bahwa si dia tetap memberi kepada sesama meski sudah menikah,meski upah dari pekerjaannya saat ini hanya cukup untuk dirinya dan istrinya saja, tapi dia tetap menyisihkan beberapanya. Orang-orang itu tidak salah, mungkin mereka hanya merindukan kebaikan yang biasa diberikan oleh si dia ini. Si dia pun rasanya berhak memberi kepada siapa saja, tidak melulu orang yang sama, tidak melulu dengan jumlah yang sama. Si dia hanya melakukan semampunya. Dan untuk si perempuan, semoga dia sabar untuk berdiam diri dengan tenang. Tapi, aku masih penasaran, kenapa kebaikan kadang dipertanyakan, ya? Crg, 7 Okt 2019
Saat baca referensi untuk nulis skripsi, terjadi keributan antara diri sendiri. Sewaktu lagi baca, mulut dan pikiran seirama bergumam "oh ya ya ya ngerti ngerti", semakin jauh jauh bacanya gantian hati teriak "eh apaan tadi apaan???". Lalu ulang baca lagi sampe lelah mengharokati diri sendiri. (:)
Hati-hati bicara padaku, sebab telingaku berada di hati, sekali kau berkata tidak sedap didengar, maka berkali-kali kau akan terbanjiri.
Cengeng
Cukup
Cukuplah hatiku saja yang merasa perih, jangan hati ibuku. Aku tahu, bila ia turut mendengar perkataan itu, hatinya akan merasa sakit melebihi aku.
Dia mendengarkan
Beberapa waktu lalu aku merasa lapar, hari ini aku hanya bertemu nasi di waktu pagi. Sudah beberapa hari memang aku tidak napsu makan, ketika beberapa waktu lalu ingin diberi asupan, malah tidak ada makanan, habis semuanya. Ingin memasak nasi untuk sendiri, sayang, lebih baik untuk dimasak esok hari lagi. Ingin membeli makanan, tapi sedang tidak ada uang. Tidak bisa membeli, dan malu meminta dibelikan, rasanya lebih baik menahan lapar. Lalu aku menonton video-video mukbang di youtube, kukira bakal membuatku kenyang, tapi malah membuat aku merasa semakin lapar huhu. Kemudian kuputuskan untuk tidur saja, tapi tidak bisa, aku benar-benar lapar. Hingga aku merengek dalam hati, "Tuhaaan, aku lapar". Beranjak dari yutub, aku mengalihkan diri pada instagram (anak sosial media bet dah aku-_-), di ig, ga sengaja aku nemu postingan yg aku ga liat nama akunnya, isi postingannya adalah kalimat. Isinya tentang hamba yang berdoa pada Allah yang diibaratkan seperti anak kecil yang meminta mainan kepada ayahnya. Begitu ia meminta, tetapi tidak diberikan, maka ia akan menangis pada ayahnya, maka berdoalah seperti itu. Lalu tanpa disadari, aku kembali merengek dalam hati, "Ya Allah, saya laper, saya pengen makan." Dia mendengarkan, aku yakin Dia mendengarkan. Mungkin dia juga tidak ingin aku tidur dalam kelaparan, maka bertemulah aku dengan telur, yang akhirnya kugoreng dan ku makan. Kenyang. Aku bersyukur sekali. Meski hanya telur yang kugarami dan keasinan. Beberapa waktu setelahnya aku beranjak ke kamar mandi, gosok gigi dan berwudhu. Sudah selesai, ketika aku sedang siap-siap untuk tidur, tetehku datang dengan memberi uang, katanya untuk membeli barang yang kemarin-kemarin aku ingin beli. Ah, lagi-lagi dan selalu Allah mendengarkan. Lewat perantara, Dia memberikan. Aku terharu. Aku merasa betapa kecilnya aku di hadapan-Nya. Sungguh. Sungguh dia benar-benar mendengarkan. Dan aku amat sangat bersyukur.
Alhamdulillaah
Aku cemburu
Di hari spesialmu, aku menyembunyikan diri.
Aku tidak mampu memberimu apa-apa meski hanya sepatah kata
Aku tahu akan ada banyak yang memberimu kata selamat
Akan ada yang memberimu apa-apa
Akan banyak yang mendoakanmu
Aku tahu, jadi aku bersembunyi
Aku takut aku akan cemburu,
dan memang ya, aku cemburu.
Aku jadi kecewa pada diriku sendiri
Mengapa di hari bahagiamu, aku malah bersedih hati
Aku benar-benar tidak bisa memberimu apa-apa
Aku hanya mampu mengadu pada-Nya
"Allah, sungguh, jika memang aku tidak bisa memberinya apapun, maka kupinta saja Engkau untuk menjaganya, membahagiakannya, Engkau Yang Maha Mampu, jadi kuserahkan keinginanku padaMu."
Semoga, semoga
kamu selamat dunia dan akhirat.
Maaf, karena aku cemburu.
Selamat!
2019
(Satu hari setelah harimu)
Aku ingin egois, tapi mereka lebih dulu melakukannya.
Layl.
Ku sedang meriang Kata orang merindukan kasih sayang mungkin benar, Pantas hidungku gatal rasanya tiada batas Ingin kugaruk tapi tidak tahu caranya Perut dan kepalaku berbisik Asap dari kuah bakso yang panas dan pedas mungkin bisa menyembuhkannya tapi tidak ada bakso Hanya ada hujan pedagang tidak menjual bakso hari ini ia hanya menawarkan kesedihan Huh, hidungku jadi tambah gatal. Minum obatpun dia kebal Ah, aku sebal. Dimana ya orang yang kusayang? #puisiabstrak #sukasukalailalah #hidunggatal #Flu #Batuk #Pilek #radang #meriang #bantal #selimut #pulang https://www.instagram.com/p/Bs5KtM9nyUoY87n5YfQ_a5gDHIqdtT3_s2_ow80/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=hq1lgwng1omf
Ibuku tidak tahu
Ibuku tidak tahu
Setiap ia gelisah, aku lebih lebih merasa resah
Setiap ia mengeluh, aku lebih-lebih merasa rapuh
Setiap ia menangis, aku lebih-lebih merasa teriris
Ibuku tidak tahu,
Bila ia sakit, mungkin aku telah mati lebih dulu
Mungkin saja
Aku tidak mengerti apa yang ia keluhkan
Aku tidak bisa berbuat apa apa
Aku hanya anak kecil yang seharusnya tak mendengar pergolakan batin antara ibuku dan keadaan
Aku tidak suka ibuku mengeluh
Begitu sering
Hatiku mudah terenyuh, pikiranku mudah bergemuruh..lalu biasanya aku jatuh
Jatuh sakit
Ibuku tidak tahu,
Semenjak aku tumbuh,
Sakitku tidak lagi tampak
Ia merebah di dalam hatiku, seolah-olah tempat persinggahan yang nyaman
Ibuku tidak tahu
Bahwa aku ingin membahagiakannya.
Kemarin
Kemarin adalah hari-hari penuh hujan di musim kemarau
Hatinya gersang tetapi tubuhnya basah
Ia tidak ingin menangis
Tapi kesedihan tanpa sungkan menghampirinya
Kata mereka ia harus menerima
Kata mereka ia harus merela
Kata mereka ia harus melupa
Sebab pilunya mungkin saja karena pikirannya
Tapi mereka tidak mengerti
Bahkan dirinya sendiri tidak
Ia hanya tahu tubuhnya sakit
Hatinya pilu
Imannya terus ia tumbuhkan dalam sadar dan ketidaksadarannya
Mereka bilang ikhlaskan
Mereka bilang pasrahkan
Mereka bilang jangan terus berada dalam kesedihan
Tapi mereka tidak mengerti
Bahkan dirinya sendiri pun tidak
Hanya Dia yang mengerti
dan ia hanya ingin Dia mengabulkan do'anya.
Sembuhkan, sembuhkan kesakitan-kesakitan yang ada dalam jiwanya
Hapuskan, hapuskan keburukan-keburukan yang ada dalam tubuhnya
Hilangkan, hilangkan setiap gelisah yang ada dalam hatinya
(aamiin)
Sebab dalam ketidaksadarannya pun dia tahu Tuhannya Maha Mengabulkan..
Srg, 01-01-2019
Layl.
Kau luruh,aku jatuh.
Hari pertama di tahun yang baru cahaya jatuh dari matamu,
Aku kedinginan dan hampir saja lupa bahwa gigil bisa mematikan
Kucari-cari puisi di lembar cahayamu, barangkali ada celah kehangatan di dalamnya,
tapi hatimu baru saja pecah
tanpa mau kurapihkan kepingan-kepingannya
Aku ingin meraihmu
Meski aku turut berduka dalam perjalanannya.
(Srg,01-01-2019)
©Layl.
Sepulangnya ke Tumblr Lagi
Perpisahan Tumblr kemarin mirip seperti perpisahan karena restu orang tua. Bukan karena kemauan dari kedua belah pihak. Tiba-tiba dipaksa lepas, dan dia pergi jauh entah ke mana tak bisa dihubungi lagi.
Kita dibuat penasaran, dibuat kebingungan. Masalahnya, banyak yang belum tuntas, banyak tulisan yang belum disimpan, banyak karya-karya bahagia yang tak bisa lagi dijalani bersama. Banyak kenangan yang terpaksa dikubur tanpa dipendam. Ruang yang dulu penuh warna tiba-tiba biru tua muram. Beberapa kawan berbincang hilang tak bisa dihubungi. Tak ada lagi kabar-kabar yang bisa didengar.
Ketika sedang jatuh-jatuhnya, tak ada lagi tempat yang bisa mendengar dengan bebas. Becerita tanpa batas. Menjadi orang lain ketika benci akan diri sendiri. Melepaskan sisi yang selama ini selalu terpendam dalam-dalam. Setelah bertahun-tahun bersama, ternyata ditinggal tanpa pesan itu rasanya rindu setengah mati.
Perasaan itu masih sama. Masih tetap.
Hingga kemudian datang berita bahagia. Dia kembali datang dengan restu yang pada akhirnya sudah ada di tangan. Awal untuk memulai lagi, rasanya begitu canggung. Seperti sudah kenal lama, tapi terasa baru. Sesekali mulai menelusuri yang dulu-dulu, di mana kenangan pahit dan bahagia pernah ada di situ. Memaksa brangkas kenangan terhempas mengisi seluruh relung udara. Ada cerita di mana aku masih dengan seseorang, ada cerita di mana aku begitu kehilangan, ada foto-foto lucu, ada foto-foto sudut rumah yang aku reblog karena siapa tau suatu saat aku bisa mempunyai rumah seperti itu.
Ada beberapa foto yang aku kirim dan caption di bawahnya membuatku tertawa sedikit meski ada perasaan terluka. Kenangan-kenangan ketika aku masih bahagia dengan seseorang, yang kini aku baca dengan terluka karena sudah tak lagi bersama. Juga macam-macam bincang dengan teman-teman yang entah siapa namun terasa begitu akrab di kepala. Lebih jauh lagi, aku melihat begitu banyak perkembangan dari aku yang dulu. Ternyata aku tak menyadari, ditinggalkanmu dulu, aku sudah seperti ini. Beberapa ada yang jadi jauh lebih dewasa, ada yang sudah menemukan bahagia, atau ada juga yang malah makin terluka. Berharap bisa kembali ke masa-masa awal ketika masih bisa berjumpa dengan biasa.
Namun pada akhirnya, di sinilah kita sekarang. Mau tidak mau. Dengan keadaan yang kita harapkan maupun yang tidak.
Jadi…
Selamat datang lagi, Tumblr.
Tolong jangan pergi lagi.
Kita;
Kita adalah masing-masing yang saling memahami yang meski mendapat perih, hanya satu yang terucap lirih; sudahlah. Sudahi, bukankah tak pernah ada kisah selain tentang perasaan yang diabaikan? yang ketika ada masa seharusnya kita saling berpegangan Kau malah berkata; jangan mencintai lagi. Aku patah, hatiku melebur, hilang bersama hujan yang berjatuhan Meski aku mencintaimu dengan tabah, aku juga bisa menyerah. Apakah kamu tidak bisa melihat apa yang mesti kuhadapi saat-saat aku begitu mencintaimu? Tidak, bukan aku ingin kau akui keberadaannya. Aku hanya berharap kamu mengingat, bahwa pernah ada seorang perempuan yang mencintaimu dengan begitu. yang dalam rapalan do'anya selalu menyebut namamu yang entah berada dimanapun selalu berharap kamu baik-baik saja. Ingat, kelak jika ada seseorang yang mencintaimu, genggam ia dengan hati dan do'a-do'amu. Pasti ada yang datang dengan perasaan lebih baik dariku. Sebab kamu baik. Kau tahu apa yang salah dari keadaan kita kala itu? Salahku, aku tidak pernah jujur dalam menyikapi rasaku padamu Salahmu, kamu tahu itu. Tapi benarnya, aku pernah merindukanmu dengan selalu. Entah denganmu. -Layl @akarpohon_
revisian tugas vs tesis.
saya skripsian aja belum, malah diajak diskusi soal tesis itu orang. Kan jadi ikutan mikir. Kalau sekalinya bisa nanggepin saya jadi pamer “weh gue pinter juga yak” atau “weh kok gue jadi berasa dospem lu dah” dan itu orang dengan ngeledeknya jawab “iye lu pinter dah”. yaudah. ketawa aja. padahal garing. nulis apasih ini.
lah tugas saya malah diabaikan.-_- padahal saya yang mau minta bantuan
sudahi saja, ini tidak baik. Aku tidak pernah memulai atau mengakhiri. Tapi mengapa ada yang selalu kembali? Meski tidak diingini?
Rindu misalnya. -Layl