Moment To Recharge 01 : Bekal Perjalanan
ADAB DALAM MENCARI ILMU DAN BERIBADAH
Kenapa dalam mencari ilmu dan beribadah harus memiliki adab?
Rasulullah SAW bersabda, “Aktsaru ahlil jannah al bulhu.” yang artinya, “Sebagian besar penduduk surga adalah orang yang berpikir sederhana dalam segala urusan.”
Sulit memaafkan kesalahan orang lain dan tidak sabar atas suatu musibah adalah contoh akibat berpikir terlalu rumit. Padahal dengan berpikir sederhana (Al-Bulhu), segala urusan akan cepat selesai dan menjadi kebaikan.
Seperti apa Al-Bulhu itu?
Apapun urusan hidup pasti akan tunduk pada ungkapan yang penting. Lalu, apa “yang penting” dalam semua urusan hidup kita? Pilihannya, yaitu:
· yang penting saya suka
ditawari A, saya tidak suka. ditawari B, saya tidak suka. urusan jadi tidak sederhana karena meletakkan nilai penting pada “saya”.
· yang penting disukai orang
yang penting disukai orang, padahal orangnya banyak dan masing-masing memiliki kesukaan yang berbeda. urusan semakin rumit.
· yang penting Allah suka
inilah pilihan orang-orang Al-Bulhu.
Jadi, berpikir sederhana itu adalah semuanya yang penting Allah suka.
Bagaimana cara menjadi golongan Al-Bulhu?
Lakukan apa saja dalam hidupmu, yang penting engkau yakin Allah suka. Dan jangan lakukan apapun dalam hidupmu, saat engkau tahu Allah tidak suka.
Bagaimana cara tahu mana yang Allah suka dan tidak suka?
Kita harus memiliki ilmu. Sebab ilmu adalah pengetahuan yang dengannya kita mengetahui segala yang Allah suka dan tidak suka dalam hidup kita. Jadi, ilmu tidak boleh ngarang.
Dalam kehidupan ini, antara yang Allah suka dan tidak suka akan selalu ada dalam tindakan kita. Dengan kata lain, tidak ada satupun yang dilakukan oleh manusia kecuali di dalamnya ada yang Allah suka dan tidak suka. Contoh, ada yang Allah tidak suka di dalam amalan yang Allah suka seperti pikiran dan hati yang tidak khusyuk saat shalat.
Tanpa ilmu, manusia akan berbuat sesukanya. Tanpa ilmu, kehidupan menjadi kacau.
KEUTAMAAN MENCARI ILMU
a) Meninggikan derajat
Dalam QS al-Mujadilah [58] : 11
b) Memudahkan jalan ke surga
“Barangsiapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu padaNya, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” HR Muslim
c) Amal fi sabilillah
“Siapa saja yang dirinya keluar (dari rumahnya) untuk mencari, maka ia termasuk golongan orang yang berjuang di jalan Allah sampai orang itu kembali.” HR Tirmizi
d) Mengalirkan pahala sampai ke kubur
“Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputus semua amalnya kecuali 3, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak soleh.” HR Muslim
e) Pemulia kehidupan
Imam Syafi’i berkata, “Barangsiapa yang belum merasakan pahitnya belajar, niscaya ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidup.”
f) Dinaungi malaikat
“Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” HR Abu Daud & Ibnu Majah
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” QS al-Isra [17] : 36
Apapun kalau kita belum tahu ilmunya, maka jangan lakukan. Cari tahu dulu ilmunya, lalu amalkan.
Berbuat dan berharap atas dasar Allah suka adalah konsep hidup yang akan membawa kita ke surga. Itulah ikhlas.
Mengapa banyak orang masih menyukai sesuatu yang jelas-jelas mereka tahu bahwa Allah tidak menyukainya? Bukankah aneh ada orang yang tertarik masuk neraka?
Karena ilmu yang kita miliki belum memancarkan cahaya khasy-yah. Ilmu adalah matahari dan khasy-yah adalah cahaya yang memancar darinya.
“..Di antara hamba-hamba Allah yang takut (khasy-yah) kepadaNya, hanyalah para ulama (orang yang berilmu)..” QS Fathir [35] : 28
Orang yang berilmu saja belum tentu khasy-yah, apalagi orang yang tidak berilmu. Tugas kita adalah mencari ilmu, kemudian menjadikan ilmu itu memancarkan cahaya khasy-yah.
Khasy-yah itu rasa takut di dalam hati terhadap segala sesuatu yang Allah tidak suka, dan khasy-yah hanya menyukai yang Allah suka.
ADAB DALAM MENCARI ILMU
Apakah ilmu menjadi sesuatu yang mudah diamalkan atau sebaliknya ternyata dipengaruhi oleh adab dalam mencari ilmu. Kokohnya Khasy-yah sangat bergantung pada kuatnya adab di tengah semangat mencari ilmu. Proses khasy-yah terbentuk dengan baik saat sikap adab dilakukan dalam proses mencari ilmu.
Imam Malik berkata, “Pelajari adab sebelum ilmu.” Ibnul Mubarok berkata, “Kami belajar adab selama 30 tahun dan belajar ilmu selama 20 tahun.”
Bagaimana cara agar mudah memahami dan mengamalkan ilmu?
Menghadirkan adab dalam majelis ilmu. Adab dilakukan bersamaan dengan proses kita mencari ilmu.
· Meniatkan hadir semata untuk akhirat
Nabi SAW mengingatkan, “Barangsiapa mencari ilmu yang semestinya diniatkan untuk akhirat tapi ia melakukannya untuk mendapatkan dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga.” Padahal dalam riwayat lain, Nabi SAW mengatakan bahwa bau surga dapat tercium dalam jarak 500 tahun perjalanan.
· Menjaga hati dari segala yang buruk
Hindari su’uzan kepada guru dan sesama pencari ilmu. Kalau kita bisa menjaga adab, ketika mendengarkan ilmu dari orang yang tidak/belum mengamalkannya, Allah akan hujamkan ilmu itu kepada kita lebih kuat daripada jika kita mendapatkan ilmu itu dari orang yang sudah mengamalkannya.
· Menunjukkan sikap ihtiram terhadap ilmu
Hormat kepada guru bukan karena orangnya melainkan karena ilmu yang ada padanya. Hormat kepada kitab bukan karena fisik kitabnya melainkan karena isinya.
Bagaimana cara melawan rasa malas dalam mencari ilmu?
Jangan dipersoalkan. Malas itu gak apa-apa, yang penting tetap cari ilmu. Di sisi Allah, kalau kita merasa malas tapi tetap mencari ilmu, nilainya jauh lebih besar. Malas itu anugerah dari Allah sepanjang kita tetap beramal. Malas tapi tetap datang ke majelis ilmu, memperhatikan penyampaian guru, dan mencatatnya.
ADAB DALAM BERIBADAH
Beribadah semata karena panggilan iman.
· Beribadah semata karena Allah suka
· Dengan cara yang paling Allah suka
· Dengan hati yang sangat suka
· Hanya berharap yang Allah suka
Materi di atas disampaikan oleh Ustaz Syatori Abdul Rauf. Beliau lahir di Cirebon pada 16 September 1966, namun saat ini bersama keluarganya tinggal di Yogyakarta. Alumni Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga ini tengah dipercaya sebagai Ketua Ikatan Dai Indonesia Kab. Sleman juga sibuk menjadi pengasuh Pesantren Mahasiswi Darush Shalihat. Motto hidupnya adalah “Hidup harus selesai sebelum berakhir”.













