Menghabiskan Makanan
Dari kecil, aku selalu mikir, kalau makan tu harus habis, sampai butir nasi terakhir.
Imajinasi masa kecil aku tu lucu, aku ngebayangin kalau makan itu sebuah misi penyelamatan. Setiap butir nasi adalah entitas yang sama yang harus diselamatkan. Ngga ada satu butir nasi yang boleh diremehkan untuk tidak dimakan. Semua berhak untuk dimakan.
Aku ngebayangin juga, ketika aku sadar ada nasi tertinggal di piringku, nasi itu akan sedih. Seolah dia bilang,
“Kamu kan yang ngambil aku. Temen-temenku diselamatkan, koq aku dibiarin gitu aja?”
Setiap kepikiran gitu aku suka sedih. Gimana kalau nanti ada misi penyelamatan manusia di bumi, mau dibawa ke planet lain. Semua orang udah naik ke pesawat luar angkasa. Sedangkan aku dan segelintir orang lain belum masuk pesawat. Tapi waktu aku teriak-teriak minta tolong, kaptennya cuma bilang,
“Maaf ya pesawatnya udah penuh (kenyang). Kalian gabisa diajak”
Terus kami dibuang gitu aja di bumi (kalau nasi dibuang ke tempat sampah). Padahal kami sama-sama orang yang perlu diselamatkan.
Akhirnya aku selalu ngabisin makanan yang ada di piringku. Sebisa mungkin hanya menyisakan hal-hal yang berbahaya kalau dimakan, misal duri ikan. Bahkan kalau aku bekel ayam bertulang, tulangnya aku bawa ke rumah buat kukasih ke kucing. Sesedih itu kalau inget imajinasiku waktu kecil. wkwkwk.
Aku tu ngga tega banget lihat makanan dibuang. Sampe temen-temen perempuan di sebuah acara pelatihan, menjuluki aku sebagai “vacuum cleaner”, kalau ada makanan ngga dimakan, padahal masih layak makan, mereka kasih ke aku. wkwkwk.
Dengan aku kayak gitu, semakin sedikit makanan yang mubadzir. Aku takut kualat, waktu ada makanan dibuang-buang, nanti ada saatnya di rumahku ngga ada makanan apa-apa. Astaghfirullah..
Semoga Allah menjaga kita, dan kita bukan termasuk saudara-saudara setan. Aamiin.











