Mengalihkan Emosi
Saat melaksanakan video conference tadi siang, Leo (kucingku) sedang berjemur di sekitar balkon. Tiba-tiba terdengar Leo bertengkar dengan kucing liar yang mencoba memasuki teritorinya.
Aku kabur sebentar dari meeting dan langsung menggendong Leo masuk ke dalam rumah. Seketika Leo diam dan tidak lagi mengembangkan bulu-bulunya. Emosinya sudah mereda. Tidak ada lagi teriakan darinya untuk mengusir kucing liar tadi.
------------------------------------------ Kira-kira, apa hikmah yang bisa diambil?
Aku belajar bahwa semarah apapun kita pada suatu hal, kita sebaiknya tidak menyalurkan kemarahan tersebut sembarangan, apalagi kepada pihak-pihak yang bukan merupakan sumber kemarahan. Ketika kita sudah memutuskan untuk mengalihkan perhatian, itulah waktunya kita menenangkan diri. Bukan malah melampiaskan kemarahan pada orang lain.
Misal, kita sedang kesal kepada salah seorang rekan kerja kita di kantor, kemudian kita memutuskan untuk menarik diri dan duduk di kursi. Ketika ada teman lain yang menghampiri, sebaiknya kita bersikap dewasa untuk memperlakukannya seperti biasa, bukan dengan perlakuan masih terbawa emosi yang tadi, misalnya dengan bernada ketus atau bersikap dingin.
Rasanya, ngga pantas aja orang lain yang ngga tahu apa-apa jadi sasaran rusaknya mood kita. Hal ini akan menimbulkan kecanggungan hubungan kita dengan rekan-rekan kita yang lain. Wallahu a’lam.
Upaya untuk meredam kemarahan yang telah diajarkan Nabi Muhammad misalnya dengan mengucap isti’adzah, berwudhu, ataupun merubah posisi menjadi duduk atau berbaring.
Semoga, kita bisa menjadi pengendali atas diri kita sendiri dan dijauhkan dari sifat hati yang pemarah. Aamiin.















