Mudik
Lebaran kali ini menjadi kali pertamaku mudik setelah bertahun-tahun lamanya. Ingatan mudik terakhirku adalah ketika masih usia SD, berpekan-pekan lamanya menghabiskan waktu bersama saudara-saudara di kampung. Setelahnya, aku ingat berkunjung ke kampung di luar waktu lebaran dan hanya sebatas silaturrahmi ke rumah saudara yang tak terlalu terasa pula feel "Silaturrahmi"-nya. Sebatas menemani ibu saja sembari ikut mengangguk-angguk.
Tahun ini, aku akhirnya benar-benar merasakan "mudik" lagi, ke kampung suami yang memang biasa mudik setiap tahunnya. Awalnya sempat punya kekhawatiran, orang-orang menggambarkan mudik ke kampung suami bukan hal yang menyenangkan, tapi menjelang kepergian justru merasa excited. Terutama karena kami berangkat menggunakan kereta, berdua saja dengan suami. Terbayang 8 jam bersama membunuh waktu dengan menciptakan momen.
Sedatangnya di kampung, kami dijemput oleh keluarga suami, lanjut menikmati makanan khas solo, nasi liwet, yang kelezatannya masih aku idam-idamkan sampai sekarang. Tempatnya sebenarnya sederhana, hanya bakul di pinggir jalan, tapi lezatnya tiada tara. Entah karena lapar atau memang sebegitu lezatnya. Hingga hari terakhir, lidahku masih terus dimanjakan dengan segala kelezatan makanan di Solo. Alhamdulillah 'ala kulli haal
Pertemuan dengan saudara-saudara suami yang sempat ku khawatirkan ternyata juga tidak kejadian. Awalnya berpikir bahwa akan mendapat sindiran dan pertanyaan-pertanyaan intimidatif, terlebih karena saat ini masih belum hamil/punya anak. Ternyata aku malah merasakan kehangatan. Rasanya bisa berbaur begitu saja dengan saudara-saudara yang baru kutemui ini. Sama keluarga sendiri selama ini rasanya tidak pernah sedekat itu. Maha Baik Allah yaa.













