Renungan Kecil bagi Sang Pendidik
Sekolah itu bukan warung. Sekolah itu institusi sumber daya manusia tingkat tinggi. Butuh orang-orang yang punya komitmen dan kompetensi untuk membangunnya. Ketika hakikat belajar dikembalikan pada hakikat manusia, tidak semua orang dapat menerimanya, banyak orang yang mengaggap mustahil.
Namun,kami punya keyakinan, bahwa belajar itu harus manusiawi. Belajar itu harus menyelam dalam kondisi siswanya, seperti sepak terjang para nabi mengajar umatnya, penuh tantangan untuk berhasil.
Ketika seorang guru meragukan, tidak ada anak yang bodoh di Sekolahnya Manusia, bersamaan dengan itu, ... ribuan guru mampu memberikan kepercayaan diri: aku bisa, ... aku ada, ... aku punya manfaat, kepada banyak anak yang punya hambatan.
Ketika seorang guru mengeluh, Sekolahnya Manusia gagal menghadirkan nilai kognitif yang tinggi, bersamaan dengan itu, ... ribuan guru bersyukur, nilai kognitif para siswanya sangat mengagumkan.
Ketika seorang guru menanggalkan fitrah kemanusiaannya, menuhankan kognitif dengan halalkan ketidakjujuran, bersamaan dengan itu, ... ribuan guru bahagia, nilai kognitif siswanya berhasil, dengan kejujuran tingkat tinggi.
Ketika seorang guru menggerutu, Sekolahnya Manusia menghasilkan siswa yang nakal tidak bisa diatur, bersamaan dengan itu, ... ribuan guru menjadi sahabat siswanya seumur hidup, menjadi pantikan inspirasi meraih cita-cita!
-Munif Chatib, Januari 2011-
*dikutip dari sebuah buku penuh nilai inspirasi "Gurunya Manusia" yang ditulis oleh seorang konsultan pendidikan, Munif Chatib.
Semoga renungan kecil ini dapat menginspirasi kita semua,khususnya para pendidik/guru di seluruh pelosok Indonesia. Menjadikan kita lebih semangat dalam memajukan negeri dengan pendidikan (salah satunya) bagi seluruh generasi bangsa, tanpa terkecuali.