Merekam Jejak Mbok Nasilah di Museum Kretek Kudus
Kota yang terletak pada Kali Gelis ini, selain peningalannya yang berkaitan dengan agama Islam, adalah kota dagang. Di sini untuk pertama kali lahir pedagang-pedagang besar Pribumi, terutama sebagai fabrikan rokok kretek, yang semasa kolonial menguasai pasar rokok kretek di seluruh Jawa. (Pramoedya Ananta Toer, 2005:95)
Barang empatpuluhsatu kilometer ke arah tenggara dari kota Jepara, saya berhenti di loket tiket masuk Museum Kretek di Kudus. Limaribu rupiah, nominal yang tertera pada lembar kertas tipis layaknya karcis parkir. Nominal yang harus dibayarkan pengunjung untuk bisa masuk ke dalam museum.
Mengenai kretek, Kudus adalah satu-satunya kota yang dikenal sebagai produsen rokok kretek sejak jaman kolonial. Namun, perjalanan kretek tersebut dipercaya sudah tercatat dalam babad Jawa pada jaman Sultan Agung, jauh sebelum Kudus memulainya.
Dari loket tiket di depan tadi, saya berjalan menuju pintu masuk utama museum yang berada di dalam lahan sebesar duasetengah hektar ini. Di area pintu masuk, hanya ada dua orang yang menjaga. Sepi, hanya saya tamu museum kala itu.
Di dalam museum, aula besar dengan plafon tinggi dan empat tiang utama yang menjulang ke atas. Aula itu dikelilingi panel-panel kayu dengan tutup kaca, yang berfungsi sebagai etalase memajang barang-barang yang berhubungan dengan rokok kretek. Alat tradisional pembuatan rokok kretek, contoh rokok kretek dari jaman ke jaman, dan yang pasti adalah sejarah singkat mengenai perjalanan rokok kretek itu sendiri.
Saya akan bercerita sedikit.
Alkisah, pada akhir abad sembilanbelas, seorang bernama Haji Djamari membuat minyak cengkeh untuk mengobati sakit dada yang dideritanya. Diolesilah tubuhnya dengan minyak cengkeh buatannya itu. Manjur ternyata. Ia, tak puas dengan hanya minyak cengkeh buatnnya, kemudian bereksperimen mencampur cengkeh dengan tembakau yang dilintingnya dengan daun jagung sebagai bentuk lain dari obat untuk dadanya itu. Ia berhasil lagi. Nyeri dada yang diidapnya perlahan berkurang bahkan hilang karena sering menghisap rokok buatannya yang dikenal sebagai rokok klobot itu.
Rokok obatnya itu ternyata banyak peminat. Ia mulai berdagang rokok buatannya itu secara kecil-kecilan. Rokok yang kalau dibakar berbunyi “kretek-kretek”.
Cerita Haji Djamari bergeser menuju seorang dengan mana kecil Rusdi. Masih di sisi kiri aula besar museum.
Nitisemito, awalnya hanyalah seorang kusir dokar di Malang yang menyambi sebagai penjual tembakau. Ia sering mampir ke sebuah warung milik Mbok Nasilah. Warung Mbok Nasilah ini memang sering didatangi kusir-kusir dokar yang singgah untuk melepas lelah. Warungnya dipenuhi ludah-ludah berwarna oranye dari kusir yang sering nginang. Ia jengkel bukan kepalang. Kemudian, di kepalanya, terbesit ide untuk menjual rokok klobot sebagai usaha pengganti nginang yang sering dilakukan para kusir. Ia sajikan rokok yang dilinting dengan daun jagung itu di warungnya.
Singkat cerita, Nitisemito dan Mbok Nasilah menikah. Mereka melanjutkan usaha rokok kretek dan berhasil. Bisnis rokok kreteknya yang ber-cap Bal Tiga maju pesat, tersebar ke seluruh Indonesia, bahkan sampai ke Belanda.
***
Dalam buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, Pram menulis bahwa Kudus merupakan kota dagang karena di kota ini pertama kali lahir pedagang-pedagang besar Pribumi. Dalam hal ini rokok kretek. Pada era setelah kemerdekaan, rokok kretek Kudus banyak diekspor ke berbagai Negara. Jadilah Kudus sebagai kota kretek.
Saya membayangkan Kudus dalam sebuah rentan waktu ketika pabrik kretek menjamur di Kudus. Ketika industri kretek punya andil besar dalam sistem ekonomi Kudus. Kala itu, menjelang akhir abad duapuluh, setengah penduduk Kudus bekerja sebagai buruh pabrik. Tujuhpuluh persennya adalah perempuan. Tujuhpuluh persennya adalah Mbok Nasilah dengan beragam fisik yang berbeda.
Mbok Nasilah, dengan tangannya yang terampil memilih cengkeh dan tembakau. Diletakkannya campuran tembakau dan cengkeh tersebut di atas sebuah kertas yang tergulung pada alat gulung yang terbuat dari kayu. Lalu ada Mbok Nasilah lain yang menggunting ujung rokok yang sudah jadi tersebut, dan memasukkannya ke dalam kotak kayu.
Di sisi lain pabrik, kereta-kereta angkut beserta banyak kusir Rusdi, menunggu kotak-kota kayu yang berisi rokok yang sudah selesai untuk dibawa ke pasar.
Kadang kala, Mbok Nasilah lain itu memungut sedikit tembakau dan cengkeh dari pabrik. Lalu dibawapulanglah hasil curiannya itu. Dilinting sendiri dengan daun jagung kering. Dikumpulkannya linting demi linting rokok klobot buatannya, diikat per sepuluh dengan seutas tali. Jadilah rokok tanpa kemasan.
Ketika hari libur pabrik, Mbok Nasilah lain itu berjalan ke sebuah sudut kota Kudus. Ia bersaing dengan perempuan berkebaya lainnya, dengan banyak lelaki bertelanjang dada, menjajakan rokok klobot dagangannya, di sebuah pasar dengan latar belakang Gunung Muria yang membumbung ke angkasa. Saya melihat itu di dalam sebuah diorama di sisi kiri bagian tengah aula besar museum.
Selesai dengan diorama Mbok Nasilah, saya beranjak menuju sudut kiri belakang aula besar museum. Panel-panel kayu dengan tutup kaca diisi dengan beragam jenis tembakau, cengkeh dari segala penjuru Tanah Air, saus tembakau, aneka pembungkus beserta alatnya, dan lagi, foto-foto Mbok Nasilah lain berkebaya serta berbalut jarik.
Kaki saya melangkah ke sisi kanan belakang. Masih di dalam aula besar museum. Setelah meninggalkan bagian dari proses pembuatan sebuah rokok, pada bagian ini, museum yang didirikan oleh Persatuan Pengusaha Rokok Kudus ini juga ingin memperlihatkan sejarah rokok dari masa ke masa, yang dilihat dari bungkusnya.
Beragam bungkus rokok klobot, rokok kretek, sampai rokok filter yang dikenal jaman modern ini disimpan rapi dalam tiga meja kayu besar dengan penutup kaca. Rokok-rokok tersebut bisa saja sebagai tolak ukur sebuah geliat laju jaman. Beberapa bungkus rokok yang dirasa special dipajang secara khusus dalam pigura kayu dan digantung di dinding.
Di area tengah aula besar museum, patung-patung Mbok Nasilah yang berkebaya, yang berjarik, yang kepalanya berbalut kain juga, dengan keranjang bambu di depannya, keranjang bambu yang berisi rokok-rokok kretek, memenuhi area yang lantainya lebih tinggi dari lainnya.
Akhir cerita di Museum Kretek ini, sambil mengambil beberapa foto dengan gawai, saya bertegun dalam hati, bahkan dalam dunia yang sangat patriarki sekali pun, dalam kepulan asap rokok kretek yang dikeluarkan dari mulut lelaki, ada tangan-tangan terampil perempuan, ada hati baja seorang ibu, ada keringat banyak Mbok Nasilah lain. Ketika sampai pada tulisan ini, saya teringat tulisan Kartini soal gamelan. Saya berpedapat, perempuan layaknya gamelan menurut cara pandang Kartini.
Gamelan tidak perlu sorak sorai, sekalipun di dalam pesta yang paling gila pun, dia terdengar sayu dalam nyanyian, mungkin begitulah seharusnya. Kesayuan itulah hidup, bukan nyanyi sorak sorai! (Pramoedya Ananta Toer, 2003:102)











