Jantung terasa berdebar-debar,
Sulit mengutarakan apa yang ingin ku sampaikan
Aku seperti batita yang baru belajar bicara
Menatap senyummu dan kedua bola matamu yang indah dengan takut-takut
Meredamnya adalah pilihan
Sebuah pilihan yang tidak mudah
Sama seperti setiap detik, menit, jam, hari, pekan dan bulan yang aku tunggu
Hanya untuk sekedar melihat senyummu lagi
Hanya untuk sekedar melihat sosokmu lagi
Meskipun hanya dalam waktu yang singkat
Meredam perasaaan tidak sama seperti memenjarakan perasaaan
Meredamnya adalah pilihan terbaik
Meredam perasaan yang menggebu-gebu
Meredam perasaan yang tak kunjung berbalas
Meredam perasaan yang bertepuk sebelah tangan
Meredam perasaaan sebagai bentuk rasa tau diri
Menatap jalan yang sudah buntu
Tapi lebih sakit lagi bila tidak bisa menerima kenyataan
Aku membaca tulisan tangan Yuki di selembar kertas kecil, di atas ketiga lembar partiturnya. Yuki sedang ke toilet. Yuki membuat karya lagi. Sebuah instrument yang sedang dia garap. Aku membuka lembar-lembar berikutnya. Nampaknya sudah selesai.
"Bagaimana?" Yuki sudah kembali dari toilet, berdiri di sampingku.
Aku mengacungkan kedua jempolku. Yuki nyengir. Matanya kemudian membelalak, melihatku memegang selembar ketas berisi tulisan tangan Yuki.
"Waduh, tidak, yang ini out of record," ujar Yuki kaget, mengambil kertas itu dari tanganku. Melipatnya menjadi dua bagian. Dia tertawa heboh, "Ini privasi, karyaku yang mau aku tunjukkan adalah yang ini," Yuki menunjuk kertas partitur miliknya yang tergeletak di atas meja.
Aku tertawa. "Kau sendiri tadi yang sembarangan menaruh kertas-kertas ini di mejaku," jawabku tak acuh. Aku mengamati seisi kelas. Ramai, istirahat jam pertama. Sebagian pergi ke kantin, nongkrong di luar, sebagian memilih tetap di kelas, mengerjakan PR.
Yuki kembali tertawa dan duduk di sampingku, di kursi milik Taufik. Aku masih bersikap tak acuh, kembali fokus membaca buku yang Ibu berikan tadi malam. Aku sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Yuki. Aku memilih meredamnya sama persis seperti puisi yang Yuki buat.
"Tulisan tadi kau yang buat?" tanyaku usil, cengengesan, tanpa menoleh sambil membalik satu halaman dari buku yang sedang kubaca. "Apa itu adalah cerita di balik karyamu?"
Yuki mengangguk dan menghela napas, "Ya, memang. Tapi orang lain tidak perlu tau. Kau atau Chyntia tak apalah bila kalian tau."
Aku menoleh, dan nyengir. Yuki tertawa lagi, "Aku tidak pandai membuat puisi, sajak atau semacamnya," Yuki mengangkat bahu, melipat kertas tadi menjadi kecil-kecil memasukkan kertas itu ke rok panjang seragamnya. Dia mengangkat wajah dan tersenyum padaku. Aku mengamatinya, kedua bola mata Yuki sudah kembali bersinar. Syukurlah, dia sudah pulih.
Aku kembali membaca buku, dan Yuki mengambil kertas partitur miliknya, mengamati setiap notasinya, bisa jadi ada yang terlewatkan dia tulis. Membalik halamannya, mengamati apa yang terlewat, termasuk judul yang belum dia cantumkan untuk karyanya kali ini. Tidak ada percakapan lagi. Hingga kemudian bel jam pelajaran berikutnya berbunyi. Yuki kembali ke kursinya, di samping Siti. Taufik masuk kelas dan duduk disampingku.
Setelah itu, Yuki tidak masuk sekolah selama dua hari. Aku mengingatkan Siti untuk mengabari Yuki, tugas-tugas dan PR mana saja yang diberikan guru.
Drama musikal di TV akhirnya di tayangkan secara live di suatu malam. Drama musikal yang sempat membuat Yuki cukup tertekan, karena latihannya yang amat ketat dan cukup menyita banyak waktunya.
"Tumben, Nak. Kau nonton acara seperti ini?" Ibu duduk di sampingku, melihatku memegang remote tv.
Aku nyengir, tidak menjawab. Kemungkinannya kecil sekali Yuki dan kawan-kawannya tertangkap kamera. Tapi setelah ibu bertanya seperti itu, kamera tiba-tiba mengarah ke composer dan tim orkestranya.
"Gadis mungil itu temanmu, Andi? Yang waktu itu lewat depan rumah berjualan Yogurt?"
Wajahku memerah, aku pun menatap kearah yang sama seperti Ibu. Yuki memang terlihat mencolok diantara para pemain biola lainnya karena paling mungil, mengenakan gaun hitam berlengan. Aku belum sempat menemukan Chyntia di bagian pemain cello, kamera sudah berpindah ke arah para aktor dan aktris drama di atas panggung.
Aku mengangguk. Berharap ibu tidak menyadari ekspresi wajahku.
Ibu berdecak pelan, dan mengacak-acak rambutku. Kemudian pergi ke dapur, menghangatkan makanan untuk Ayah yang pulang tengah malam.
Aku mematikan TV. Sudah cukup, waktunya mengerjakan PR.
Drama musikal tadi malam telah selesai. Aku mendapati Yuki tersenyum riang pagi itu di sekolah. Saat istirahat jam pertama, dia menghmpiriku.
"Tinggal satu lagi, Andi." Ucap Yuki kegirangan, wajanhnya memang terlihat lelah, namun penuh semangat.
Aku sedang membaca buku kemarin, lalu menoleh pada Yuki.
"Pentas Seni. Berduet dengan dia," Yuki menarik napas, matanya berkilau kegirangan. "Kalau boleh memilih, aku lebih baik tampil di depan ratusan atau bahkan ribuan orang daripada tampil di depan dia lagi. Aku grogi, Andi."
Aku tertawa, berusaha menghibur Yuki, bahwa apa yang dia rasakan adalah hal yang wajar. Aku menutup bukuku dan memasukkannya ke dalam tas. Sepertinya Yuki ingin melanjutkan cerita.
"Sepertinya kawan-kawan akan kabur di depan panggung saat kami tampil," Yuki tertawa kecil. Mengingat kejadian Pentas Seni tahun lalu. Dulu ada kawan seangkatan kami tampil solo menampilkan musik klasik dengan biolanya. Seketika depan panggung menjadi sepi, hanya ada Guru Seni Musik kami dan kedua temannya yang masih setia duduk sebagai juri. Padahal sebelumnya ramai saat beberapa grup band menampilkan genre musik rock, pop, lagu-lagu Jepang, dan sebagai macamnya. Malah ada pula tampil duo hip-hop. Yuki menonton dari lantai dua, melihat dari teras kelas. Aku melihat dia menepuk dahinya dari lantai bawah di depan kelasku. Bahkan Siti yang tadi menemani disampingnya pun ternyata sudah berpindah entah kemana.
"Masih ingat?" Yuki bertanya padaku.
Aku mengangguk, berusaha menahan tawa.
"Kau jangan begitu, memangnya latihan seperti itu mudah," Yuki protes, mendengus kesal. "Sebentar lagi, paling tidak janji dan tanggung jawabaku pada Guru kita selesai." Yuki tersenyum riang, menyelesaikan kalimatnya.
Sore itu Yuki latihan dengan Orang itu dibimbing guru seni kami, di salah satu ruangan kelas. Suara alat musik mereka beradu. Terdengar sampai pinggir lapangan. Sayup-sayup terdengar, Guru kami memarahi Yuki. Beliau melihat Yuki kacau dari awal hingga akhir lagu. Masih terdengar lagi beliau kecewa karena semalam baru saja melihat Yuki menjadi anggota grup orchestra di drama musikal yang ditayangkan di TV, kenapa untuk latihan pentas seni malah kacau. Terdengar, Yuki meminta maaf, mengaku dia grogi.
Aku menatap mereka bertiga dari kejauhan.
Dimas meneriakiku dari tengah lapangan. Sudah waktunya latihan dan aku belum mengganti bajuku dengan baju karate. Pelatih kami belum datang. Sudah menjadi kebiasaan Dimas membimbing kawan-kawannya melakukan pemanasan sambil menunggu pelatih kami datang.
Aku nyengir dan berjalan pelan ke kamar mandi sebelum Dimas mulai melempariku dengan benda apa saja yang ada di sekitarnya.
Matahari sudah mulai hampir terlihat di ufuk senja, ketika aku dan Dimas sudah selesai latihan dan kawan-kawan kami sudah pulang.
"Sstt... sssttt..." Dimas memberi isyarat padaku dari desis dan delikan matanya. Yuki sudah keluar dari kelas, terlihat dia sedang berbicara dengan orang itu dengan ekspresi malu-malu.
Aku menepuk dahi, sungguh terlihat sekali, Yuki. Laki-laki mana pun pasti menyadarinya. Apalagi makhluk itu.
Dimas berpindah dari sampingku, duduk di pinggir lapangan. Meminum air putih dari botol miliknya. Bersendawa keras.
Aku masih tak bergeming menatap mereka berdua.
"Yuki, apa boleh aku mengantarmu pulang?"
Yuki terbelalak kaget, kegirangan. Mengigit bibirnya, kedua tangannnya menggenggam erat tali tas biolanya.
"Tenang, aku sudah punya SIM."
Yuki terlihat berpikir sebentar, seperti ada pergolakan batin di wajahnya. "Aku tak terbiasa pulang diantar laki-laki," jawab Yuki canggung.
"Owh, oke. Aku mengerti," dia tersenyum pada Yuki.
Dimas sudah ada di sampingku, mulai membuka mulut. Aku cepat-cepat membekap mulutnya, sebelum dia sempat berkomentar atau mencela dengan suara keras hingga pasti terdengar mereka berdua.
"Se...per...ti....nya...Kau...di...anggap...Yu...yuk..ki se...bwa...gai te...man...pe...rem...pu...ab." Dimas masih berusaha mengeluarkan suara di antara jemariku.
"Aku akan pulang dengan mereka, naik angkutan umum" Yuki melanjutkan kalimatnya untuk menutupi canggungnya. Walaupun masih tetap terlihat canggung karena suaranya tiba-tiba nyaring.
Orang itu menoleh pada kami berdua. Kemudian menoleh kembali pada Yuki, menatap Yuki sesaat kemudian tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu sampai bertemu besok sore, Yuki." Makhluk itu pun tersenyum dan kemudian berlalu. Yuki menatap punggungnya sampai punggung itu menghilang di ujung lorong.
Yuki menghampiri kami. Aku melepaskan tanganku dari mulut Dimas. Lalu melap tanganku pada punggung bajunya.
"Sialan kau," Dimas mendorong kepalaku pelan.
"Kalian seperti anak kecil saja," Yuki berkomentar, tertawa riang. "Persahabatan cowo itu seru ya," Yuki tersenyum santai, amat berbeda sikapnya dengan makhluk tadi.
Dimas nyengir, wajahku tetap datar. Mungkin kalimat Dimas ada benarnya.
Kami bertiga berjalan ke depan gerbang sekolah. Dimas mulai membercandai Yuki, menceritakan kejadian tahun lalu tentang kawan kami yang tampil solo, menampilkan musik klasik. Seisi depan panggung bubar semua, kecuali juri.
"Aku tidak tampil sendiri, tapi berdua," Yuki protes.
Aku diam saja memperhatikan mereka berdua, tidak berminat mengeluarkan suara.
"Kau kenapa, Andi?" Yuki menoleh, bertanya penuh keheranan.
Aku menggeleng dan tersenyum, kami sudah di luar gerbang dan berjalan menuju depan gang sekolah kami tepat di samping museum.
Dimas menatapku, menangkap sesuatu yang ada di pikiranku. Tapi mencoba mengalihkan perhatian Yuki, berbicara seperti pada anak kecil.
"Dia ingin cepat-cepat pulang. Dia lapar, supaya hemat, dia ingin makan di rumah. Makanya, mari kita segera pulang ke rumah masing-masing sebelum Andi melahap kita berdua. Sepertinya malam ini bulan purnama. Kau belum pernah melihat Andi marah kan?" ucap Dimas asal.