Kebermanfaatan
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling banyak (memberikan) manfaat untuk orang lain.” Hadits ini sungguh pemicu terbaik untuk berefleksi, sudah seberapa besar manfaat yang diberikan untuk orang-orang di dalam kehidupan kita? Jangan-jangan selama ini kita hanya hidup untuk diri kita saja. Mulai dari membuka mata sampai terpejam hanya berkutat dengan aktivitas pribadi saja. Na’udzubillah.
Emang salah ya kalau kita cuman hidup untuk diri kita sendiri? Menurutku sih nggak salah seutuhnya. Sah-sah aja berpandangan demikian. Cuman sayang banget. Dulu guruku, Bang Arief Munandar, pernah jelasin kalau jika kita sibuk mengurusi urusan kita aja maka kita akan jadi orang kerdil. Tapi, kalau kita sibuk dengan urusan yang berkaitan dengan hajat hidup orang lain maka kita akan jadi orang besar!
Gimana nggak, hidup untuk diri sendiri aja udah susah. Mikirin hidup yang gini-gini aja sedangkan temen kita udh sukses, tuntutan kerjaan, mimpi yang nggak kunjung terwujud, tekanan hidup, dan semacamnya eh kita diminta untuk ngurusin orang lain pula! Pastinya orang-orang yang itu bukan orang biasa.
Kalau refleksi ke kisah kehidupan para sahabat jadi mikir sendiri, jangan-jangan level pemahaman mereka terhadap hadits ini begitu dalam sehingga mereka begitu mudah nolong orang lain, begitu mudah sedekah, begitu mudah menghadirkan semangat dalam hidup mereka karena yang dikejar adalah output memberikan kebermanfaatan yang paling besar. Yang nilai ukurnya nggak ada patokannya jadi maunya berbuat baik terus.
Meski di sini aku pakai kata ‘mudah’ tapi percayalah implementasi hal-hal itu nggak mudah sama sekali. Misalnya, mana bisa kita nolong orang kalau kita nggak punya capability untuk itu, mana bisa kita sedekah kalau kita nggak punya uang, mana bisa kita semangat dalam jalanin hidup kalau kita nggak punya tujuan. Jadi inget kata bijak dalam bahasa Arab yang terjemahan bebasnya, kita nggak akan bisa memberikan kalau kita nggak punya. Dan pastinya para sahabat memiliki hal-hal tersebut!
Miris banget sih kalau mau di-break down selama hampir 25 tahun aku hidup di dunia manfaat apa aja yang udah dihasilkan. Terlebih tahun ini mau menginjak tahun ketiga kelulusanku sebagai sarjana humaniora. Sedih banget. Semoga tulisan ini bisa nampol Mutia agar nggak terjebak dalam kehidupannya aja. Semoga Mutia inget terus bahwa masih ada orang yang perlu dibantu. Bahwa harus ada banyak manfaat yang ditebarkan.
Tulisan ini dibuat di detik-detik menuju 25 tahun. Semoga ada perubahan yang nyata. Semoga perubahan itu mengarah pada jalan kebaikan, kedekatan pada Allah, kesemangatan dalam amal, dan kebesaran semangat juang dalam mewujudkan mimpi yang tertunda.









