Tambahan Item dalam Katalog Penyakit
Sebagai hamba, bersyukur sudah semestinya senantiasa dilakukan. Apa mau dikata, hamba sejatinya dapat melakukan ini dan itu semata-mata karena memperoleh izin dari tuannya. Jadi, bagaimana rupa dan wujud dari hamba, tiada lain karena kemurahan hati sang tuan.
Jika tuan menghendaki hambanya berjalan di atas bara, suka tidak suka harus dituruti. Seumpama tuan berkeinginan sang hamba merobek mulutnya sendiri dengan belati, maka tanpa perlu menolak, hamba sudah sepatutnya melakukan permintaan itu.
Kira-kira begitulah yang saya pahami tentang konsep hubungan antara tuan dan hamba. Jangan berpikir bahwa tuan dan hamba seperti hubungan kerja majikan dan asisten rumah tangga, sebab akan cukup berbeda.
Tuan memiliki seluruh diri hambanya setiap saat. Jiwa dan raga. Sementara majikan dan asisten rumah tangga “hanya” sebatas ikatan pekerjaan.
Hal ini saya ulas tak lain sebagai wujud refleksi setelah selama hampir sepekan penuh dirawat di rumah sakit. Ya, lagi-lagi saya dirawat di rumah sakit. Durasi rawat inap kali ini merupakan yang terlama dari seluruh riwayat rawat inap saya sejak 2019—2022, enam hari.
***
Senin, 23 Mei 2022 saya masuk UGD demi memperoleh bantuan inhalasi untuk mempermudah napas saya. Selain inhalasi, saya juga diambil darah untuk melakukan pemeriksaan lebih lengkap. Hasilnya, sel darah putih saya berjumlah sangat tinggi. Hal ini mengindikasikan adanya infeksi dalam tubuh.
Secara sederhana: infeksi memicu produksi sel darah putih besar-besaran demi memperkuat barisan pertahanan tubuh.
Berhubung istri saya adalah dokter imut yang jarang panik kecuali kalau lihat anak dan suaminya sakit, melihat hasil pemeriksaan laboratorium itu, ia pun segera mengontak dokter spesialis paru yang telah merawat saya sejak tahun 2019. Singkat kata, pada siang hari kami berjumpa di ruang praktik Bu Dokter Spesialis Paru.
Jujurly, saya merasa kasihan pada Bu Dokter. Wajah beliau menyiratkan rasa bingung yang tak habis-habis. Bagaimana tidak, terapi asma terbaik untuk menangani kondisi saya, telah beliau beri. Namun, dalam dua minggu terakhir, saya bahkan tiga kali menjumpainya karena kesulitan napas dan nyeri dada hebat.
Demi menghilangkan galau, Bu Dokter meminta saya CT-Scan paru dan rekam jantung. Tidak hanya itu, Bu Dokter pun akhirnya memutuskan satu hal.
“Jamal, kamu dirawat, ya!”
***
Jadilah hari-hari saya sebagai pasien rumah sakit kembali berlangsung. Disuntik, ditusuk untuk jalur masuk infus, suntik tes alergi, briefing cara cuci tangan, hingga diinhalasi setiap pagi, siang, dan malam. Semua berjalan biasa dengan ritme yang telah sedemikian terpola. Yah, biar bagaimana pun sejak 2019 saya sudah langganan dirawat akibat serangan sesak, bahkan pernah dalam setahun saya harus dirawat di rumah sakit sebanyak tiga kali. Jadi, ya sudah hafal.
Oleh karena seringnya saya dirawat, saya pun memperkirakan kalau pada hari Rabu atau hari ketiga, kondisi saya akan berangsur pulih. Napas lebih lapang, dada tidak lagi nyeri. Selanjutnya, hari Kamis saya bisa bersiap-siap check-out.
Akan tetapi, tidak demikian dengan kisah kali ini. Hingga Rabu siang, nyeri dada saya tak kunjung mereda. Napas tersengal pun seakan sudah hal yang lumrah.
“Pak Jamal, ada keluhan apa siang ini?” tanya dokter jaga saat berkunjung ke bed saya.
“Nyeri dada, Dok.”
“Masih sesak?”
“Masih.”
“Baik, Pak Jamal. Kita lakukan EKG, ya untuk rekam jantung Bapak. Bapak juga akan dipasangkan oksigen untuk membantu napas.”
“Dokter,” sela saya sebelum dokter itu pergi, “sebelum masuk ruang rawat, saya sudah di EKG.”
“Enggak apa-apa, Pak. Kita EKG ulang.” Singkat. Padat. Tak terbantahkan.
***
Menjelang sore, Bu Dokter Spesialis Paru visit ke tempat saya. Setelah tos dan bercanda sejenak, beliau pun berujar, ”Jamal, tadi kamu di-EKG lagi, ya? Dari hasil EKG-nya, kamu ada iskemik sedikit di jantung. Enggak apa-apa, nanti biar dokter jantungnya, ya, yang akan kasih terapi.”
Ba’da magrib pun saya dan istri berjumpa dengan Ibu Dokter Spesialis Jantung. Dokternya pinter. Cekatan dan sat-set-sat-set. Beliau menjelaskan tentang ini-itu seputar urusan jantung yang menempel di dada saya.
Biar kamu kepo, enggak perlulah, ya saya beri tahu apa saja hasil obrolan kami saat itu. Gimana, enggak penasaran, ‘kan?
Satu hal yang dapat saya sampaikan adalah, selepas pemeriksaan dengan Ibu Dokter Jantung malam itu, saya mulai minum obat-obatan jantung yang telah lebih dahulu diminum oleh bapak saya. Jadi kalau bapak saya minum obat jantung di usia 60 tahun ke atas, saya sudah mencicipinya pada pertengahan 30 tahun.
Ada hal lain yang saya yakini telah selangkah lebih maju dibanding bapak saya yang telah berumur itu. Keesokan hari setelah pemeriksaan bersama Ibu Dokter Spesialis Jantung, saya menerima treatment pengenceran darah melalui suntikan. Disuntik di perut begitu saja tanpa perlawanan!
Seperti di film action, yang kalau habis disuntik serum, jagoannya berubah jadi monster monyet!
“Rileks, ya, Pak. Perutnya jangan dikencengin!” Perawatnya ngomelin waktu mau nyuntik perut saya pertama kali. Sementara saya? Saya cuma bisa diam sambil nahan sakit dan geli.
Dua hari dari pemeriksaan jantung alias hari Jumat, saya menjalani CT-Scan jantung. Pake contrast! Tahu enggak kamu apa itu contrast dalam CT-Scan? Enggak tahu? Makanya, sakit jantung, dong!
Jadi, jika manusia normal umumnya jarak dari satu CT-Scan ke CT-Scan lain sekitar satu tahun sekali atau paling dekat tiga bulan sekali—tentunya karena pertimbangan tingginya radiasi yang diterima oleh pasien saat menjalani CT-Scan—jarak pelaksanaan CT-Scan saya tidak sampai seminggu!
Hari Senin saya CT-Scan paru, lalu hari Jumatnya sudah CT-Scan jantung! Ngeri, ya? Maklumlah, manusia anomali.
Kesimpulan akhir dari rangkaian kegiatan sejak 23—28 Mei 2022 di rumah sakit adalah: adanya tambahan koleksi dalam katalog penyakit saya. Paru, jantung, lambung. Goks!
Itu pun belum ditambah dengan fakta bahwa sepulang dari rumah sakit saya harus menelan pil sebanyak 13 butir dalam sehari. Yah, beda tipislah dengan bapak saya yang mesti minum obat 15 butir dalam sehari.
Emangnya kamu, yang cuma bisa nelen ludah dan gigit jari lantaran ditinggal nikah si dia …
***
Kembali pada konsep hubungan hamba dengan tuan, rasanya sudah semestinya saya banyak bersyukur. Mungkin kamu harus bersyukur juga. Bersyukur bukan sebatas berucap “Alhamdulillah”, melainkan syukur dalam manifestasi mendayagunakan pemberian dari Tuan saya, yakni Allah Swt. dengan sebenar-benarnya.
Tahukah kamu bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Menciptakan?
Mungkin bagi sebagian orang, konsep Maha Mencipta tidak sedemikian dekat dan lekat. Akan tetapi, selama di rumah sakit kemarin, saya begitu merasakannya.
Hidung yang telah Dia ciptakan adalah salah satu bentuk ke-Maha Sempurna-an-Nya. Hidung dengan bentuknya yang sudah template—tetapi bervariasi—menyimpan begitu banyak nikmat yang tak terbendung.
Saya bernapas menggunakan selang oksigen hanya selama tiga hari. Itu pun saya lepas-lepas kalau lagi kebelet pipis. Akan tetapi, rasanya tidak seberapa nyaman. Mengganjal dan kadang membuat mual.
Tahukah kamu apa efek dari pemakaian selang oksigen selama tiga hari tanpa henti?
Efek jangka pendeknya adalah hingga hari ini—hari ketiga setelah pulang dari rawat inap—pada ujung hidung, saya masih merasa ada selang yang menempel dan menggantung. Ganjel-ganjel gimana, gitu.
Bersyukur memang sudah semestinya dilakukan. Bahkan untuk sebatas bisa ngobrol dengan orang lain dengan santai pun harus disyukuri.
Kok begitu?
Yah, sebab saya sudah lupa rasanya bernapas dengan lega dan bisa bicara tanpa tersengal serta merasa kelelahan.









