Catatan Pribadi: Teman
Semoga kita bisa jadi temen baik bagi orang di sekitar kita ya. Tapi jangan naif dengerin curhatan semua orang. Kapasitas kita untuk berempati terbatas. Belum lagi kita kadang sotoy juga dalam menanggapi.
Selama bertukar cerita dengan teman, kita perlu belajar dengerin orang lain dengan tenang dan tidak judgemental. Setiap orang tuh punya sisi emosional. Jangan sampe kita menilai orang hanya dari sisi emosionalnya saja. By: mbak @hellopersimmonpie
Aku ga sedang mau nulis ttg seharusnya menjadi teman, tapi justru sebaliknya; sangat bersyukur sekali punya dua temen di atas, alhamdulilah. Dua orang yang mungkin bisa dibilang paling paling dekat denganku, yang paling paham luar dan dalamku, bahkan yang paling sering jadi penerjemahku buat orang lain; sebab aku yg seringnya terlalu abstrak -dlm banyak hal-. Mereka, kawanku selama 17 tahun, juga kawanku selama 13 tahun.
Dua orang yang paling sabar, yang rela diajak pergi ke luar kota, meski mayoritas isinya hanya menyimak aku yg menangis dan bercerita. Dua orang yang pualing sabar membaca 'aku', yang sering kali aku sendiri tak bisa membacanya. Dua orang yang paling paham rollercoaster emosiku dengan segala sikap terbaik, yang aku banyak belajar dari mereka. Mereka adalah bagian dari orang-orang; yg paling berjasa hingga aku bisa menjadi 'aku' hari ini.
Sekarang, doa memang hanyalah hadiah terbaik yg bisa kuberikan untuk mereka, sebab jarak dan waktu yg semakin kesini semakin hendak memisahkan. Kalaupun toh memang harus berpisah di dunia, semoga bisa berjumpa lagi nanti di jannah-Nya.
Dari aku: yang selalu berjalan di belakang kalian :)
(19/06/22)















