Kemajemukan penduduk Batavia telah ada sejak abad ke-17 dan ke-18 menyusul kebijakan VOC yang menerima usulan J.P Coen menjadikan Batavia sebagai kota koloni yang didominasi vrij burgher. Selain itu, perbudakan di sekitar Ommeladen juga mengakibatkan penduduk multi etnis banyak menyebar di kantong-kantong wilayah yang sengaja dibagi dalam hierarki sosial untuk kepentingan ekonomi dan politik Belanda. Hal tersebut juga menyebabkan daerah pendukung Batavia sangat ramai. Dalam sejarah perkembangannya, tak banyak yang tahu bahwa Batavia sempat memiliki "adik" yang dibentuk secara anorganik oleh seorang pemimpin doa protestan asal Banda Neira. Kota kecil yang semula kawasan hutan belukar kemudian disulapnya menjadi satelit Batavia yang menyimpan sejarah panjang dan begitu penting. Meester, demikian dulu ia disapa, adalah rumah bagi kyai muslim, pendoa protestan dan anglikan, revolusioner katolik, pendharma Buddha, juga bagi penganut Konfusius. Ia juga menjadi tuan rumah sejumlah kegiatan ekonomi dan infrastruktur penting dari masa ke masa; pasar batu, pasar burung, stasiun kereta, halte trem, hingga viaduct kokoh yang bertahan hingga kini. Meester Cornelis Dulu, Jatinegara Kini. #NgoJak Vol.9, Minggu, 10 September 2017 (di Jakarta, Indonesia)