Hari Kedua di Tahun Ini
Bahkan saat mau nulis jurnal harian pun, di mana enggak ada keharusan buat bagus, saya mempertimbangkan soal penting atau enggak penting isinya. Juga cara nulisnya. Ini yang jadi hambatan tersendiri bagi saya dalam hal nulis. Jadinya malah enggak nulis deh.
Apalagi pas mau nulis tesis. Melihat tesis yang bagus, dengan penguasaan istilah yang luas, alur berpikir yang oke, dan kemampuan membahasakan ulang sumber-sumber tulisannya, membikin saya malah macet nulis. Akhirnya tesis enggak beres-beres deh.
Orang tua udah memberi peringatan terus soal tesis. Kenapa enggak kunjung kelar. Saya pusing jadinya. Tapi, daripada saya, pasti lebih pusing orang tua yang memikirkan cara mencari uang untuk membiayai kuliah saya. Astagfirullah.
. . .
Beberapa hari lalu, saat rangkaian haul Gus Dur ke-11, saya melihat poster bahwa salah satu pengisinya Prof. Nasaruddin Umar. Saya sangat antusias dan berharap bisa mengikuti tausiah beliau soal Gus Dur. Hanya saja saya enggak punya kuota buat ngakses YouTube di malam itu.
Maklum di daerah rumah saya, sinyalnya cuma ada dari 1 provider saja, dan itu pun harga paket internetnya mahil. Baru deh tadi sore saya dapet akses wifi. Langsung saja saya lihat video dokumentasinya di YouTube. Alhamdulillah ada.
Saya simak setengah penjelasan Prof. Nasaruddin di tempat nge-wifi. Videonya sendiri saya unduh biar nanti sisanya bisa saya selesaikan nontonnya di rumah. Dan barusan banget saya selesai menyimak penjelasan beliau yang memang lumayan dekat dengan sosok Gus Dur.
Betapa penjelasan Prof. Nasaruddin makin membikin saya ngefans kepada sosok Gus Dur. Tak hanya itu, saya pun mengagumi keilmuan dan spiritualitas Imam Besar Masjid Istiqlal itu. Penjelasannya menarik dan menggugah saya.
Dalam video itu dijelaskan kalau Gus Dur suka berziarah ke makam para wali dan orang soleh lain. Pada suatu kesempatan, diceritakan kalau lewat jasa Gus Dur lah makam salah satu guru para Wali Songo dipugar oleh pemerintah setempat. Di mana sebelumnya warga sekitar termasuk pemerintah tidak tahu-menahu mengenai makam yang dimaksud.
Di akhir penjelasan, sang profesor memberikan penegasan bahwa kita harus lebih mengkaji dimensi spiritualitas sosok Gus Dur. Sebab di sisi itu lah justru kita akan menemui Gus Dur yang sesungguhnya. Katanya, buku yang banyak beredar di pasaran lebih banyak membahas Gus Dur dari sisi orang yang dekat dengan filsafat dan semacamnya. Tapi, kedekatan Gus Dur yang kental dengan sisi sufistik masih jarang diungkap.
Wah saya jadi makin penasaran sama sosok Gus Dur yang melampaui manusia Indonesia kebanyakan. Insya Allah saya dalam proses membaca lebih banyak literatur yang bahas Gus Dur. Yang sedang saya coba cari saat ini tuh 10 esai yang juara dan terbaik di lomba esai dalam rangka memperingati Haul Gus Dur ke-11 dengan tema “Kita Butuh Islam Ramah, Bukan Islam Marah”.
Saya baru baca 1 esai senior saya, kang Gelar dengan judul "Kita dan Persoalan Hidup Berdampingan". Ke-9 esai lain masih dalam proses mencari.
Terima kasih sekali lagi Prof. atas penjelasannya. Tak lupa, hadiah Al-Fatihah buat almarhum Gus Dur yang keberadaannya di dunia begitu banyak menginspirasi kita.
Cikondang, 2 Januari 2021, 19.27 WIB















