Sensasi Teh Telang di Keheningan ‘Dapuraja’
Dengan menemukan keunikan produk, kita dapat meningkatkan loyalitas pelanggan. Ingatlah, bahwa biaya untuk mengakuisisi pelanggan jauh lebih mahal daripada mengolah pelanggan yang sudah ada.
Natali Ardianto, founder Tiket.com dalam buku “In the Mind of Natali Ardianto” hal 63
Tiap kafe, biasanya berusaha menyajikan hidangan khas. Entah itu untuk memikat pelanggan, bentuk edukasi produk (memiliki nilai lebih dari segi kesehatan misalnya), atau bisa jadi pemanfaatan bahan baku yang unik.
Nah, ketiga alasan ini nih yang bisa kita temui di ‘Dapuraja’, bertempat di bangunan guest house Roemah28 Jalan Sei Selayang No. 28 Medan. Coba, mates, siapa yang tahu teh telang? Adakah pecinta teh yang udah pernah nyobain? Atau mungkin baru dengar namanya?
Foto/dewanty ajeng wiradita
Teh Kelang sesudah diseduh
Sini…, sini… Dita kasih tahu minuman racikan sang Operation Director, Ibu Dira. Minuman ini termasuk "kuliner langka" di Kota Medan. Kamu yang bermaksud ngubek-ngubek kuliner unik, bisa nih mampir ke sini. Kafe buka setiap hari dari jam 11.00-23.00 WIB.
Teh telang sebagai minuman signature kafe ini adalah minuman hasil seduhan kelopak bunga telang dengan tambahan racikan perasa (karena rasa bawaannya tawar). Uniknya, warna teh ini secara alami adalah biru, dan gak menutup kemungkinan warnanya berubah. Seperti siang itu, waktu Dita maen ke sana, disuguhi segelas yang warnanya berubah jadi…UNGU!
Bu Dira saat teh telang siap dihidangkan
Sensasi ramuan ini langsung terasa dan melekat. Aroma rempahnya langsung tertangkap indera penciuman. Demikian dengan lidah saya yang langsung mengecap rasa asam dan manisnya. Agak sedikit kelat, mungkin karena disajikan dingin. Semakin kita seruput, aroma semacam rempahnya semakin kuat. Sampai habis deh…rasanya mix gitu.
Bunga/kembang telang (Clitoria ternatea) merupakan salah satu jenis tanaman suku polong-polongan yang merambat. Bunga ini ditanam dan tumbuh di pekarangan kafe seluas 300 m2 ini. Awalnya sengaja dibudidayakan pemilik hanya untuk menghiasi tembok di sisi timur bangunan sebagai penyeimbang sekat-sekat agar tidak kaku. “Tapi sekalian saja cari tanaman bermanfaat,” kata pria penggemar teh Jawa ini.
Menurut situs ini, ada 13 manfaat kembang telang untuk kesehatan. Di antaranya, untuk mengobati gangguan penglihatan, sakit telinga, batuk, bisul (abses), bronkitis, detoksifikasi, mengurangi stres --antidepresan yang terkandung dalam akar kembang telang dapat membantu mengurangi tingkat stres seseorang.
Bisa juga menambah kekuatan otak. Akar kembang telang memiliki kemampuan meningkatkan memori serta dapat membuat seseorang bisa menjadi lebih intelek, sehingga kembang ini sering digunakan dalam pengobatan berbagai macam penyakit yang berhubungan dengan otak.
Foto/dewanty ajeng wiradita
Bunga telang, tanaman rambat di samping bangunan. Kelopaknya berwarna biru.
Managing Director kafe ini, Jeffri Iskandar bilang, menu teh ini tidak disediakan tiap saat. Tergantung ‘musim panen’-nya. Bisa 3 kali seminggu dan sebaiknya dipetik segar langsung diseduh. Untuk menikmati teh ini, kita cukup merogoh kocek Rp 18.000. Pengunjung juga bisa menikmatinya dengan cemilan seperti kue dan gorengan. Dengan tidak luput dari makanan ‘berat’ dengan rate harga antara Rp15.000-Rp28.000, seperti nasi goreng andaliman dan mi instan yang bukan mi instan (Hayo, gimana tuh?). Makanan ini juga disajikan bagi tamu yang menginap dan peserta meeting di ruangan yang mereka sewakan.
Gimana? Unik ‘kan sajiannya?
Tidak hanya itu, mates, konsep eksklusivitas dengan aksen sederhana kafe ini tak jauh-jauh dari filosofi nama ‘Dapuraja’. Nama ini sendiri, diakui Jeffri, multitafsir. Antara ‘Dapur Raja’ dan ‘Dapur Aja’.
Dimaksudkan awalnya ‘Dapur Raja’ karena hidangan di sini memang disajikan sebagai konsumsi bagi para raja. Tahu siapa raja itu? Ya, pelanggan dong. Ini penerapan pepatah bijak bisnis: pembeli adalah raja. Sajian diperhatikan dari segi kualitas, komposisi, kebersihan, tak lupa cita rasa. Pak Jeffri mengaku memang agak bawel soal pengerjaan dan penyajian hidangan.
“Saya gak mau kualat,” kata beliau menyambung cerita seringnya ia mengomentari makanan yang ia temui saat travelling. Bisa berkomentar, harusnya bisa buat yang bagus juga, pikirnya. Sedangkan ‘Dapur Aja’ merujuk pada simplicity.
Foto/dewanty ajeng wiradita
Rak buku, bebas baca di tempat nih
Tempat inipun cukup asik buat diskusi, didukung fasilitas free wi-fi. Atau sekedar duduk santai membaca koleksi buku yang dipajang. Buku-buku, majalah nasional maupun internasional tersebut boleh dibaca gratis di tempat. Tak lupa, telinga kita ikut dimanjakan dengan alunan musik gamelan Jawa dan klasik lainnya. Ditambah pemandangan taman di sekitar dan sesekali suara kokok ayam ‘ketawa’ piaraan mereka sembari dilayani dengan hati oleh mereka yang memegang slogan “Karena tamu adalah saudara yang tidak datang setiap hari, Kami melayani dengan sepenuh hati”
Ah, sungguh tempat yang nyaman untuk melepas penat di hiruk-pikuk ibu kota yang kian metropolis, bising, dan rentan memicu stres. Terlebih, lokasinya tidak jauh dari pusat kota (Lapangan Merdeka), hanya sekitar 5 km. Bisa ditempuh dengan kendaraan umum sekitar 15 menit dengan ongkos yang terjangkau (ojek online +/- Rp 10.000).
Foto/dewanty ajeng wiradita
Ruangannya yang sederhana namun eye catching dengan nuansa tradisional ini menambah suasana rileks. Pemilik yang lahir 46 tahun lalu ini sengaja menggunakan konsep vintage dan recycle, utamanya kayu. Model bangunan menggunakan gaya Arsitektur Jengki yang populer tahun 1950-an, yakni perpaduan arsitektur tropis Indonesia dan Amerika.
Pria yang berlatar belakang pendidikan ekonomi ini mengaku suka bangunan heritage dan segala hal tentang desain interior sejak lama. Maka dari itu, setuju untuk mengaplikasikan model ini. Tentunya tetap menyesuaikan dengan bangunan sekitar. “Kita mau jadi landmark, tapi tetap menyatu dengan lingkungan. Di sekitar sini bangunannya sudah model begitu jadi ya kita ikuti saja,” imbuhnya. Ini juga sebagai bentuk prihatinnya karena banyak konsep bangunan hotel&resto keren di Indonesia dimotori warga negara asing. Kalo bisa memberdayakan kita, kenapa enggak ya?
Foto/dewanty ajeng wiradita
Meja kafe di teras merupakan olahan ulang dari bekas pintu kayu, engselnya bahkan masih terlihat jelas. Dua kursi goyang tua di pintu masuk, kepunyaan mertuanya, direstorasi oleh tukang kayu menjadi lebih apik dan boleh digunakan pengunjung. Terakhir, meja makan. Di bagian lorong, ada meja makan dengan kaki mesin jahit ditambah dengan kayu di atasnya. Sedangkan properti pajangan, didapat dari hasil hunting barang antik di berbagai daerah, seperti Solo, Semarang dan Yogyakarta.
Bangunan ini secara umum berorientasi ramah lingkungan. Untuk material tembok, digunakan semen dengan campuran kapur hancuran kulit kerang supaya kuat dan lebih sejuk (karena berpori). Ini diadopsi dari kebijakan tukang bangunan zaman dulu. Sisi dinding depan dari batu-bata, dibiarkan berlubang di beberapa titik agar sirkulasi udara lancar.
Foto/dewanty ajeng wiradita
Dari tangga menuju guest house
Untuk mengabadikan momen-momen di dalamnya, disedikan photo booth di sisi belakang pantry. Bagi pengunjung yang mau foto prewedding, dipersilakan memilih tempat ini.
Foto/dewanty ajeng wiradita
Photo booth di dekat tangga
Wih…kreatif kan? Seru deh pokoknya "tamasya" di dalam kafe ini. Dita percaya, keunikan produk dan keramah-tamahan yang ditawarkan "Dapuraja" bisa jadi selling point yang kuat di dunia resto dan penginapan.