Dari saat masa SD akhir dan SMP awal Ibu pernah menjelaskan aku tentang Ghazwul Fikri, perang pemikiran, dan ini akan terus Ibu jelaskan di masa akil baligh setiap anak-anaknya. Saat itu yang aku rasa tantangannya hanyalah perihal benar dan salah, namun tahun berganti, perubahan semakin banyak terjadi. Ternyata ada yang namanya abu-abu, banyak yang gak jelasnya meski benar-salah itu tentu kita pegang dalam Quran dan Sunnah. This is how ghazwul fikri works tho?
Rasa ingin saling melindungi kian besar, bukan hanya orang-orang di sekitar, tapi bahkan mereka yang masih dalam pencarian (begitupun aku). Seperti yang pernah aku tulis, cita-citaku menggenggam. Banyak sekali orang baik yang aku temui dan aku ingin orang-orang juga merasakan kenikmatan iman yang aku rasa, meski tentu bukan dengan pemaksaan. Aku juga kagum sama orang-orang yang hijrah, turning point meraih cahayaNya. What a big step, what a great decision. Karena mungkin bagi mereka yang lingkungan dan Ayah Ibu nya mendidik dengan cara Islami sudah mendapat privilege itu dan berjuang dengan ke-istiqomahan.
Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran : 110)
Dakwah. Tidak mudah ya perjalanannya? Ada tangis, rasa takut, bahkan pernah sampai mau kabur. Namun tentu itu belum seberapa dibanding yang akan di hadapi ke depannya.
Kemarin alhamdulillah berkesempatan video call sama seorang sahabat, adik kelasku yang sangat aktif di kampus Depok. Dia mengajakku untuk deep talk karena ternyata kerisauan kami sama.
“Makanya ya kak di surat Al ‘Asr salah satunya kita diminta untuk menasehati untuk kebenaran, haq bukan khair, kebenaran bukan kebaikan. Karena siapapun pasti senang dengan kebaikan, tapi kebenaran, jarang bangetkan? Tidak semua orang suka dengan kebenaran.”
Demi masa, sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (QS. Al ‘Asr : 1-3)
dan saling menasihati untuk kesabaran.....
MaashaAllah, kita diminta untuk tetap bersabar terhadap apapun yang kita peroleh dan hadapi. Apa lagi saat menegakkan kebenaran.
“Ada yang namanya ukhuwah. Kita gak sendiri kan kak? Ada banyak teman-teman yang punya tujuan sama seperti kita.”
Langsung diingatkan kembali bagaimana kuatnya ukhuwah islamiyah. Bagaimana indahnya.
Namun tentu ada juga pengalaman merasakan di mana situasi sendiri, berhadapan langsung. Eh tapi sadar tidak sih kita masih punya kekuatan terbaik? Ada Allah. Di saat badan gemetar, pikiran berkata “aku harus apa? aku harus bagaimana?” Dzikrullah adalah suntikan terbaik. Let Allah do the rest...
Perjalanan ini panjang, bahkan berliku-liku. Tapi kita tidak sendiri. Allah takdirkan kita lahir di zaman seperti ini tentu bukan tanpa alasan, ada amanah yang Allah titipkan dan harus kita jaga. Semoga ghirah islami kita tidak pernah padam.