Love, Money, Fame
Daanu & Chitraa
by nojamsty
Daanu segera beranjak dari sofa ketika mendengar suara pintu apartemen terbuka, waktu telah menunjukkan pukul 16.15 ketika Chitraa masuk, pemuda itu pulang terlambat dari waktu yang dijanjikan. Ketika ia akan mengomel tentang ketepatan waktu dan lain halnya langsung urung ketika melihat wajah Chitraa dengan benar. Wajahnya tampak murung dengan pipi merah dan mata yang terlihat sembab seperti usai menangis.
"Chitraa?" Daanu mendekat, guna menarik pundak Chitraa dengan kedua tangannya, tapi Chitraa membuang pandangannya.
"Lo kenapa? Kenapa baru pulang?"
"Maaf.."
Dahi Daanu berkerut tidak suka. "Oke, kenapa baru pulang?"
Chitraa tampak menggeleng lembah, melepaskan kedua tangan Daanu yang memegang pundaknya. Teringat kembali pertemuannya dengan Gustaf beberapa waktu yang lalu.
"Daanu bisa minta waktu buat ngobrol sebentar?" Setelah memastikan Daanu mengangguk dirinya kembali lanjutkan perkataannya.
"Daanu, gue mau keluar dari apartemen.." ucapnya lirih.
"Keluar? Lo barusan aja balik dan mau keluar lagi?"
Chitraa menunduk, kedua tangannya saling meremas. "Bukan itu maksudnya, keluar yang berarti gue gak tinggal lagi disini, karena apa gunanya gue disini? Gue bakal jadi beban lo aja, terus kalau semisal penggemar lo tahu, mereka pasti bakalan benci sama gue.." Chitraa menghela napasnya, "mereka bakal marah sama lo, terus kalau itu terjadi gimana? Gue gak mau karir lo hancur karena rasa bersalah lo yang mau bertanggung jawab karena kecelakaan waktu itu."
Daanu mengusap rambutnya, tampak bingung. "Maksud lo apa sih? Kenapa tiba-tiba gini? Bukannya kita udah sepakat ya tentang ini? Kenapa berubah pikiran lagi?"
"Bilang sama gue, apa yang buat lo berpikiran kayak gitu? Atau Hanif ngelarang lo lagi tinggal sama gue? Makanya lo cari alasan lain?"
"Kenapa lo mikir kayak gitu? Itu bukan Kak Hanif. Karena gue tahu, berita lo yang naik dalam semalem itu bukan berita baik 'kan? Kalau berita buruk terus-terusan muncul, gimana nasib karir lo? Karir lo bakalan hancur, penggemar lo pasti bakalan marah kalau alasan lo pindah dari apartemen Gustaf karena ngerawat gue."
Daanu menghela napasnya. "Siapa bilang karir gue bakalan hancur? Siapa bilang fans gue marah?"
"Jangan bohong, mereka marah 'kan?"
"Jangan hancurin karir lo demi gue karena rasa bersalah lo, karir yang lo mulai dari nol, gue tahu karir lo baru aja membaik.." Chitraa dengan air mata yang mulai menggenang menatap Daanu dengan rasa bersalah, "katanya lo sampai harus live buat klarifikasi dan fans lo marah, mereka minta konferensi pers 'kan? Gue udah baik-baik aja sekarang, mungkin gue bisa cari kerja yang gak banyak gerakin kaki."
Daanu terperangah, terkejut dengan pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut Chitraa yang bergetar. "Siapa yang ngomong kayak gitu sama lo? Kasih tahu gue sekarang, itu bohong Chitraa."
"Gak mungkin Gustaf bohong tentang karir lo."
Mendengar nama Gustaf disebut, Daanu memijat pelipisnya karena rasa pening yang kini menyerang kepalanya. "Jangan bilang lo habis ketemuan sama Gustaf dibelakang gue."
Chitraa kembali menunduk, enggan menatap Daanu, membuat Daanu menghela napasnya melihat reaksi Chitraa.
Daanu kini menarik tangan kanan Chitraa dan membawanya untuk duduk di sofa. Keduanya harus berbicara serius kali ini, jika memang benar ini menyangkut tentang Gustaf. Setelah memastikan Chitraa duduk dengan nyaman dan tidak lagi terlihat tegang, ia mengusap pundak yang tampak lesu itu perlahan.
"Dari reaksi lo, kayaknya bener kalau lo barusan ketemu sama Gustaf. Sekarang gue mau lo cerita apa aja yang dibilang Gustaf tadi tanpa kebohongan, biar gue bisa ambil keputusan. Kalau gue sampai tahu lo bohong, gue bakal marah."
Mendengar ucapan Daanu ia meragu, haruskah ia mengatakan segala hal yang mereka bicarakan tadi? Gustaf memang tidak melarangnya mengatakan hal ini, hanya saja perkataan Gustaf berhasil membuatnya ragu tapi jika ia tidak mengatakannya pada Daanu, ia juga tidak akan tahu sudut pandang dari orang yang kini tinggal bersamanya.
"Maaf, pulang telat dan gak ngomong kalau tadi ketemu Gustaf." Pertama-tama ia harus menjelaskan kenapa ia pulang terlambat.
"Tadi mau langsung pulang ke apart, tapi habis ketemu Gustaf gue jadi mikir, kalau seharusnya gue gak pulang kesini. Tapi buat sekarang gue belum punya tempat tujuan lain, jadi karena itu gue butuh waktu cukup lama buat berani pulang lagi kesini."
"Gustaf bilang, kalian udah pacaran semenjak tahun kedua berkarir, tapi setelah ganti manager lo minta pembaharuan kontrak pelan-pelan, termasuk harus tinggal bareng dan katanya hubungan kalian juga jadi renggang karena kontrak buat pura-pura pacaran juga udah enggak ada. Dan dua bulan lalu, lo mutusin buat pindah apartemen tanpa sepengatahuan Gustaf dan tiba-tiba alasan lo itu karena harus ngerawat gue yang jadi korban kecelakaan."
"Gustaf bilang dia gak percaya, dia pikir lo bohong. Karena dari awal lo nolak Gustaf buat lihat keadaan gue dan dia pikir itu cuma alasan aja."
"Dia bilang banyak dm masuk dan komentar-komentar yang kurang mengenakkan karena kalian udah kelihatan jarang dapet job bareng. Dan lo sering nolak job kalau itu barengan sama dia. Terus pas kemarin ada berita kalian udah gak tinggal bareng lagi, banyak spekulasi dari fans. Katanya itu bakalan berpengaruh buruk sama karir kalian. Gustaf bilang dia gak mau karir kalian berdua hancur gara-gara ini."
"Dan disini gue cuma berusaha buat sadar diri dan tahu situasi aja, jadi biarin gue pergi dari sini ya Nu?"
Setelah mendengar penuturan Chitraa, Daanu hanya bisa memijat pelipisnya karena migrain yang tiba-tiba menyerangnya.
"Chi, sebenernya apa yang dibilang Gustaf itu gak sepenuhnya bener." Daanu menghela napasnya.
"Oke, waktu itu gue pernah bilang sama lo bakal cerita semuanya, tapi sebenernya belum. Gue cuma mikir cukup alasan sederhana aja buat lo tinggal disini. Tapi ternyata rasa ingin tahu lo besar juga, sepaket sama rasa gak enak'an lo itu."
"Awal gue debut itu emang gak sebaik itu, MW gak langsung naik, kita cuma bertiga. Gue, Gustaf sama manager dan itu kakak gue. Kita bener-bener berjuang dari nol, promosi sana-sini bahkan gak masalah kalau cuma manggung di cafe. Asal musik kita bisa sampai ke telinga pendengar, dengan tujuan kita bakalan diinget."
"Terus-terusan buat lagu sampai satu tahun penuh tanpa ada banyak peminat, itu cukup buat kita bertiga frustasi. Sampai di titik dimana kita hampir nyerah sama semua itu, terakhir kita rilis lagu Bittersweet, dan kalau itu sama gagalnya kita bakal berhenti dan pilih jalan lain buat berkarir Chi, itu titik terendah kami."
"Tapi ternyata itu booming, dan kita langsung viral kurang dari sebulan dari video musiknya rilis di YouTube. Dan banyak banget komentar yang masuk, dan anehnya yang di lihat kakak gue adalah penggemar suka interaksi gue sama Gustaf yang kelihatan pacaran, dapet respon positif begitu, buat kakak gue berpikir ini bakalan bisa buat MW naik dengan mudah di industri musik. Dan yah, bener aja kita langsung terkenal dengan jual beberapa sensasi."
"Tapi jujur gue muak banget sama itu, gue bertahan karena emang secinta itu sama musik. Dan lo tahu saat kakak gue akhirnya nikah dan milih buat berhenti? Gue bahagia banget karena ganti manager, dan Kak Jo sesayang itu sama MW."
Daanu tersenyum tipis. "Dia selalu dengerin pendapat kami, hal-hal yang selalu mengganggu pikiran kami, dan waktu gue bilang gue mau pembaharuan kontrak dan lain halnya dia setuju. Karena dia pikir MW itu tentang musik, bukan yang lainnnya makanya dia mau jadi manager setelah disaranin kakak gue."
"Fans mungkin banyak yang kecewa sama keputusan gue, tapi ternyata mereka coba ngerti sama keputusan yang gue ambil karena sekarang gue sama Gustaf banyak ambil job individu. Lo jangan terlalu mikirin apa kata Gustaf."
Daanu mencoba menarik senyum tipis di bibirnya, walau ia yakin mungkin akan terlihat seperti joker alih-alih menenangkan. "Gustaf udah ditahap obsessi dan udah sulit terima pendapat orang lain, gue tahu mungkin karena dia takut karir yang selama ini dia bangun hancur gitu aja. Apalagi perjuangan kami gak gampang. Dan disisi lain juga gue udah muak, dan gue juga ingin bebas berkarir tanpa harus melekatkan sesuatu yang bikin gak nyaman, hubungan pura-pura itu bikin gue gak nyaman Chi."
"Setiap kali gue syuting di tempat yang beda, pasti ada aja pertanyaan tentang Mingyu, bukan gue. Gue gak masalah kalau sekali atau dua kali, tapi ini berkelanjutan terus-terusan bahkan dihubungan yang gak pernah ada. Gue sama Gustaf cuma partner kerja dan teman, jujur gue risih kalau dianggap pacaran sama dia yang bukan orang gue cinta."
"Gue gak bisa bilang kami pacaran karena kontrak, jadi gue cuma bisa senyum aja, tapi gue sendiri yakin gak pernah mengiyakan hal itu tapi fans udah punya opini masing-masing, apalagi Gustaf sama kakak gue seolah membenarkan hal itu."
"Gue cuma takut waktu fans tahu kalau ada kontrak tertulis begini bakalan jadi boomerang, makanya gue gak mau hal kayak gini terus berlanjut."
"And I still have some fears, but I can't tell you about them yet. Tapi gue bakal ngomong sama Gustaf buat gak ngeganggu lo lagi, karena ini udah melebihi batas yang gue kasih sama dia. He has crossed the line, he should not interfere in what I choose now and cause problems."
Chitraa menatap Daanu dengan rasa bersalah. "Tapi gue gak papa, gue tahu dia khawatir sama lo, jangan marah atau berantem sama dia ya Nu, please?"
Daanu mencoba menarik kurvanya untuk sebuah senyum tipis. "Gue tahu, but he must be warned, so as not to interfere later."
Daanu menepuk punggung tangan Chitraa yang senantiasa meremas lututnya sendiri, mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Nah, sekarang lo istirahat ya? Gue mau cek beberapa email masuk tentang schedule gue. Makan malam nanti gue yang pesen, jadi lo gak usah masak."
Dan setelah mengatakan hal itu, Daanu beranjak pergi meninggalkan Chitraa yang masih termangu menatap punggung lebar milik Daanu.
Apakah semuanya akan baik-baik saja?








