soonwoo as songs 🫶

#dc#dc comics#batman#bruce wayne#batfam#dick grayson#batfamily#tim drake#dc fanart


seen from Türkiye
seen from Australia

seen from Singapore
seen from China
seen from United States
seen from China
seen from Canada
seen from Brazil
seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States
seen from Singapore
seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from Saudi Arabia
seen from Sweden
seen from China
seen from Indonesia
seen from Sweden
soonwoo as songs 🫶
oh, you were a good dream
SoonWoo Fic
It’s been a long time since I’m back with a new work for SoonWoo. Here is my on-going fic for you guys. Updates will vary, by the way. I’m trying to get back on track and stabilize my self, nonetheless. Enjoy!
AO3 link: https://archiveofourown.org/works/25627651/chapters/62208751
wonwoo and soonie whispering to each other💕~161218 fansign~
head bumpies 🥺
i’m still crying, i can’t believe this is real
soonwoo @ fansign
┌────soonwoo au
by nojamsty
──── B L U E 1
June 15th 2013
Lembayung senja kali ini nampak begitu suram, sama dengan dirinya yang mulai kehilangan cahaya hidupnya. Berpegang teguh dengan rasa percaya dirinya pada dunia yang akan baik-baik saja di bawah kakinya kini telah redup, sama halnya dengan lembayung senja yang akan meninggalkan hitam bersama dirinya.
Soonyoung menatap jauh cakrawala dengan sendu, kini ia benar-benar sendirian dan tanpa tujuan. Kenapa semesta begitu kejam padanya, tanpa niat memberi simpati barang sedikit saja untuknya tersenyum. Tanya selalu memenuhi kepalanya dengan alasan apa Tuhan menciptakan dirinya, memberinya jiwa untuk hidup tapi tidak satupun manusia menginginkan kehadirannya.
Haruskah dirinya berjalan di atas lautan yang tak berujung untuk menemukan jawaban atas tanya yang selalu berputar di kepalanya, atau apa?
Soonyoung bahkan tidak bisa menitihkan air mata saat kabar kedua orangtuanya meninggal dunia karena kecelakaan tepat di hari ulang tahunnya. Ia hanya sempat berpikir bahwa itu adalah hadiah terbesar dalam hidupnya tapi bahkan ia tidak tersenyum.
Kedua orangtuanya adalah seorang pengusaha, tapi seolah-olah tak memiliki rumah untuk pulang, Soonyoung hanya memiliki kenakalan yang menemaninya, tempat persembunyian rasa sedihnya, itulah yang dikatakan bibi Minah—asisten rumah tangganya, yang kini merawatnya. Ia berpikir sampai kapan ia akan terus bergantung pada seseorang yang tak memiliki hubungan darah dengannya, apalagi bibi telah memasuki usia rentanya.
Soonyoung bersembunyi di Yogyakarta, jauh di dalam pedesaan meninggalkan hiruk-pikuk kota tempatnya dilahirkan. Tapi kini keadaan membuatnya harus kembali tapi rasanya sangat enggan untuk ia lakukan, matanya terpejam barang sejenak, menghirup napas perlahan menikmati angin pantai yang menyapa wajahnya.
Tujuh belas tahun usianya, dan Soonyoung berpikir sudah waktunya untuk mulai berani menghadapi dunia dan tidak terus bersembunyi dengan rasa takutnya. Bibirnya bergetar karena rasa dingin angin di bibir pantai, tapi apakah semesta akan memberikan kemudahan baginya untuk melangkah atau hanya ada jalan terjal yang berliku untuk dilewatinya.
"Coba sekali ajalah, lo jangan kaku-kaku banget.."
Hari sudah hampir petang, dan suara di belakangnya membuat ia menoleh. Seorang pemuda—mungkin saja seumuran dengannya sibuk dengan telepon seluler di telinganya.
"Hahaha.." orang itu tertawa mendengar balasan lawan bicaranya, "gue di Jogja ya jalan-jalan, emang gue lo yang tiap hari belajar bahkan di hari libur gini.."
Soonyoung penasaran kapan terakhir kalinya ia bisa tertawa lepas, bahkan saat pantai telah sepi akan pengunjung, ia masih tidak berani bersuara. Tidak seberani dahulu untuk berteriak lantang kepada siapapun yang berani melawan keinginannya. Sekarang Soonyoung hanya ditemani oleh sepi yang merangkul pundaknya.
"Lain kali lo harus kayak gue.." Soonyoung mendengar kekehan pelan, "bukan buat yang suka pura-pura, tapi nikmatin hidup, lo punya kendali atas diri lo bukan orang lain."
"Gak ada yang perlu di takutin elah, gue juga gak takut mati," Soonyoung menoleh lantaran penasaran dengan orang asing yang berbicara dengan sambungan telepon, "bukan gitu, intinya tunggu aja, gue bakal geret lo dari penjara berkedok rumah itu.."
Pemuda itu memiliki postur tubuh kurus, memiliki poni yang hampir menutupi matanya, bibir tipis dengan seringai yang tampak nakal di wajahnya. Soonyoung terpaku tampak tak asing dengan wajah itu, tapi ia sudah lama tidak bertemu dengan orang-orang baru, mungkin seseorang yang pernah di lihatnya saat sekolah menengah pertama atau di suatu tempat yang Soonyoung lupakan.
Lamunannya buyar ketika netra keduanya bertemu, kurva tipis itu tertarik di sudutnya saat melihatnya duduk sendiri di batang pohon kelapa yang telah tumbang. Pemuda itu tampak mengakhiri panggilan teleponnya dan berjalan ke arah Soonyoung yang kini mulai memutar tubuhnya, kembali berusaha terlihat tidak peduli.
"Hei.." Sapaan formalitas yang biasa Soonyoung dengar saat seseorang meminta tempat singgah di sampingnya, "gue duduk sini ya.."
Soonyoung hanya mengangguk samar, tidak juga menoleh lantaran pemuda itu akan tetap duduk di sampingnya bahkan saat ia hanya diam.
"Nama lo siapa kalau boleh tahu?"
Soonyoung hanya meliriknya tanpa menjawab, melihat pemuda itu telah menghadap Soonyoung sepenuhnya menunggu jawaban atas namanya. Tapi, tidak ada jawaban karena Soonyoung tidak berniat untuk sekedar basa-basi, di kenal untuk di lupakan atau apapun itu ia tidak berniat memberi tahukan namanya.
"Oke.." pemuda itu mengangguk, paham sepenuhnya telah tak di acuhkan, "kan kalau boleh, kalau gak di jawab gak pa-pa sih.." pemuda itu nampak bermonolog, "panggil gue 'Won' aja.."
Pemuda yang memperkenalkan diri padanya itu tampak menggigit pipi dalamnya seolah berpikir keras. "Gue Wonwoo.." pemuda itu tertawa kaku, "tapi panggil Won aja ya?"
Wonwoo tampak melirik pemuda yang duduk sendiri di sampingnya, postur tubuhnya kurus, tapi tidak menyangkal bahwa pipi pemuda itu terlihat chubby, poninya terlihat berayun-ayun diterpa angin senja memperlihatkan wajah sendunya. Wonwoo awalnya tidak berniat untuk singgah dan berbasa-basi dengan orang asing, karena ia hanya ingin menikmati pasir putih di bawah kakinya di temani lembayung senja, tapi pemuda ini tampak mencuri perhatiannya, seperti pernah melihatnya di suatu tempat, jadi ia memutuskan untuk menghampirinya terlebih pemuda itu hanya duduk sendirian di pantai yang sepi.
"Lagi galau ya?" Wonwoo menebak, "ya 'kan?"
Pemuda asing itu tampak memundarkan tubuhnya karena Wonwoo yang bergerak mendekat secara tiba-tiba. "Udah mau petang juga, gak takut di gondol apa?"
Pemuda itu tampak memutar matanya. "Lo sendiri ngapain jalan-jalan di jam segini.."
Wonwoo terkekeh pelan. "Nyari angin lah, mumpung lagi liburan, jadi ya di nikmatin dong, sia-sia main jauh kesini tapi gak ngelihat senjanya 'kan? Mana cakep.."
Pemuda itu hanya meliriknya dengan malas. "Tuh 'kan!" Wonwoo tampak menatap jauh di langit, "lo bisa liat bintang kejora itu gak?"
Pemuda itu ikut mendongak, menatap cakrawala sesuai telunjuk Wonwoo mengarah. "Cantik ya?"
Wonwoo bisa melihat anggukan samar di sampingnya. "Hoshi.."
Wonwoo menoleh dengan cepat. "Apa?"
Pemuda itu balas menatapnya. "Panggil gue Hoshi.."
Soonyoung tidak berbohong akan identitas dirinya, Hoshi adalah nickname yang sering ia pakai saat sekolah menengah pertama dulu, nickname yang di ketahui teman tongkrongannya.
Wonwoo tampak mengangguk mantap. "Oke Hoshi panggil gue Won."
Soonyoung hanya tersenyum tipis. "Oke.."
Wonwoo hanya menatapnya tanpa kata, membuat dirinya meneleng penasaran. "Kenapa?"
Wonwoo hanya menggeleng samar. "Lo kayak bintang kejora tahu gak?"
Kedua alis Soonyoung terangkat. "Kok bisa?"
"Lo kalau senyum cantik.."
Soonyoung menatap Wonwoo datar, kemudian membuang pandangannya. "Lo ngaco."
"Sorry.." Wonwoo membalas cepat, "bukan maksud gue ngegombal atau gimana cuma, pas lo senyum tadi udah kek bintang kejora yang punya sinar sendiri di cakrawala yang menghitam.."
Soonyoung menoleh, tatapannya jauh lebih tajam dari sebelumnya, membuat Wonwoo mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. "Oke-oke lupain apa kata gue.."
"Lo lagi ada masalah?" Wonwoo menebak, tapi juga tidak mengharapkan jawaban, "lo gak perlu jawab juga kalau gak mau.." Wonwoo bermajn pasir di bawah kakinya, "kata kenalan gue sih.. tiap orang punya masalah sendiri-sendiri, tapi juga punya cara penyelesaian masing-masing.."
Wonwoo mendongak, menatap cakrawala yang benar-benar akan menghitam, menghilangkan jingga di belakangnya. "Tapi kata dia gue lebih sering menghindar atau pura-pura jadi orang lain yang bukan gue.." ia menghela napas, "tapi gue lebih gak suka ngelakuin hal-hal yang gak gue mau.."
Wonwoo menoleh dan menatap Hoshi sejenak. "Gue pikir lo lagi ada masalah, soalnya gue juga gitu.. suka menyendiri pas lagi kalut-kalutnya.."
"Sok tahu.." Soonyoung membalas dengan lirih tapi masih mampu di tangkap indra pendengaran Wonwoo, terbukti pemuda itu justru terkekeh.
"Iya iya? Gue emang suka sok tahu sih.."
"Tapi yah mumpung begini mending lo cerita aja gak sih? Walau mungkin aja gue gak bakal banyak ngebantu seenggaknya gue bisa jadi pendengar lo ngeluarin uneg-uneg, gue juga gak bisa cepu kemana-mana lagian kita lebih ke stranger 'kan?"
Soonyoung diam, tidak langsung menjawab. Ia juga sebenarnya lelah memendam semuanya sendiri, tapi menceritakannya pada orang lain juga tidak akan mengubah apapun dalam hidupnya. Tapi rasanya dadanya sudah penuh dan sesak dengan rasa sakit dan amarah yang selalu di pendantnya sendiri sejak kecil.
Soonyoung bukanlah anak yang terlahir dengan penuh kasih sayang, ia biasa di tinggalkan. Tidak ada tempatnya berbagi, tempatnya menangis ataupun tertawa. Ia sering berkelahi, sok menjadi kuat di hadapan orang banyak, hanya tidak ingin di pandang lemah. Soonyoung yang menangis tiap malam hanyalah rahasia yang tidak diketahui orang-orang. Hanya Hoshi si biang kerok di sekolah dengan kenakalannya, di skors, bahkan di keluarkan dari sekolah tidak membuat orangtuanya datang untuk bertanya alasan apa yang dilakukannya untuk semua itu, mereka hanya sibuk dengan pekerjaan mereka. Mencintai pekerjaan mereka seperti anak sendiri, mengabaikan Soonyoung yang lebih membutuhkan cinta dan kasih sayang. Tapi Soonyoung pun tidak ingin mengakuinya, ia hanya perlu berlari untuk meninggalkan rasa sakit itu jauh di belakangnya.
Dan Soonyoung memilih ikut bibi Minah yang telah mengasuhnya ke Yogyakarta, meninggalkan gemerlap Jakarta di belakangnya. Tak pernah sekalipun orangtuanya bertanya tentang alasannya, mereka tidak menolak ataupun mengiyakan, membuat tusukan baru di hati kecil Soonyoung yang rapuh. Soonyoung di bebaskan, seperti anak itik yang bebas tapi tersesat.
Ia bersyukur bibi Minah masih merawatnya dengan baik, tapi ia hanya berpikir sampai kapan ia akan terus menjadi beban orang lain. Dan kabar kecelakaan orangtuanya mungkin sebagai jawaban bahwa Soonyoung harus kembali.
"I'm feeling blue.."
Jawabnya lirih itu mampu di dengar Wonwoo, dan ia juga bisa melihat kata-kata itu juga tersampaikan dari raut wajah Hoshi yang benar-benar redup, bintang kejora tertelan pekatnya malam.
Wonwoo menatap laki-laki di sampingnya, tatapan sendu mata cantik itu yang memancarkan sedikit seberkas sinar cakrawala yang mulai menghitam. Tidak ada senyum, tiada tangis hanya redup, cahayanya hampir sirna. Wonwoo bisa merasakan sedikit sesak di dadanya, mencoba membayangkan hal apa saja yang telah di lalui Hoshi selama ini.
"Gue pikir gak ada alasan lagi buat gue hidup.." kini laki-laki di sampingnya telah mengangkat pandangannya, seolah mencoba mencari ujung cakrawala yang telah menghitam, "atau emang gak ada alasan buat gue hidup selama ini.."
Wonwoo terdiam, bibirnya membentuk garis tipis, dia bukanlah orang yang pandai dalam berkata-kata tapi mungkin ia mengenal seseorang yang bisa membantah setiap kalimat yang terdengar pilu dari bibir laki-laki di sampingnya.
Wonwoo kemudian mengangguk. "Apapun yang ada di kepala lo saat ini itu cuma rasa takut yang gak berujung.."
Wonwoo kini ikut mengalihkan pandangannya ke cakrawala yang meninggalkan gelap bersama mereka. "Pasti ada alasan kenapa Tuhan nyiptain lo dan untuk sekarang jawabannya belum ada," Wonwoo menoleh, menatap Hoshi yang kini tengah menunduk, "dan lo harus cari jawabannya sendiri sampai ketemu.."
•blue part 1 fin•