UNEXPECTED (I'm Beside You)
for wwhs secret birthday event
warning: Implied sexual content, harsh words, mentions of kiss, horny, diskriminasi, relasi kuasa, menyelipkan beberapa non baku conversation
setting: Collage!AU 5333 Words
[UNEXPECTED] Siapa sangka jika Wonwoo seorang Alpha? Siapa sangka jika Wonwoo dan Soonyoung adalah Soulmate Hal-hal tidak terduga terjadi di antara keduanya. “Tapi Won..” Soonyoung kini mendongak, menatap Wonwoo dengan alis yang saling bertaut, “kenapa lo bau Wipol deh..”
“Dalam sejarah tercatat bahwa sejak 500 tahun yang lalu telah terjadi mutasi genetika pada manusia, seperti yang kita ketahui saat ini bahwa umat manusia kini dibagi menjadi tiga tingkatan.”
Pertama ; Alpha atau Pemimpin Kedua ; Beta atau Pekerja Ketiga ; Omega atau Ratu
Soonyoung menutup bukunya dengan cemberut, sebelah tangannya menopang pipinya, membuat Wonwoo bisa melihat lipatan pipi chubby Soonyoung, ada rasa gatal pada jarinya yang ingin menarik pipi sahabatnya itu, tapi melihat dari suasana hati Soonyoung sepertinya ia tidak dalam keadaan mood, alih-alih mencubit pipi sahabatnya, Wonwoo justru mendorong es krim strawberry miliknya pada Soonyoung.
“Apa?” Wonwoo kali ini tidak menatap Soonyoung, ia lebih memilih untuk melihat sendoknya yang menggali krim cokelat pada kue yang ia pesan.
“Coba aja dulu gak ada mutasi, mungkin aja gak bakal ada tuh yang namanya A/B/O,” Soonyoung menghela napasnya, “terus ya kita mungkin hidupnya bisa damai aja, gak ada yang namanya diskriminasi..”
Wonwoo meletakkan sendoknya, kini sepenuhnya menatap lawan bicaranya. “Kata siapa?” Tanyanya retoris, “adanya mutasi atau enggak, sebagian manusia juga pernah mengalami diskriminasi Soonyoung..”
“Cuma sekarang karena manusia punya tingkatan, kayak yang lo baca barusan, adanya Alpha, Beta dan Omega, lebih memperjelas status kita di masyarakat, itu yang buat diskriminasi dimana-mana.”
“Lagian itu udah lama, 500 tahun lalu..” Wonwoo melirik buku Soonyoung di atas meja, “dan sekarang diskriminasi udah gak separah dulu, apalagi sekarang ada sekolah khusus buat omega yang terlantar di bawah naungan Pemerintah.”
“Kalau yang lo maksud itu diskriminasi buat para omega ya..” lanjut Wonwoo.
“Wonwoo....” Soonyoung kembali memanggilnya, lebih seperti anak kecil yang merengek.
“Lo tuh gak bisa dikodein ya....” bibir Soonyoung mengerucut, ia mengaduk es krim Wonwoo yang mulai mencair, “maksud gue tuh—”
Soonyoung mengangguk mantap walau agak kesal karena ucapannya terpotong.
“Kan lo tahu, tes gue gak pernah keluar?”
Soonyoung mengigit bibirnya. “Gimana kalau lo tesnya di Saffron?”
Sebelah alis Wonwoo terangkat. “Saffron?”
“Kenapa di Saffron? Harus banget ke kota sebelah?”
Soonyoung menggigit sendok es krimnya cukup lama sebelum menjawab Wonwoo. “Gue denger-denger di sana hasil tesnya lebih akurat, lo tahu 'kan di sana termasuk kota modern, alat-alat tesnya juga lebih canggih di sana..”
Wonwoo menghela napasnya. “Lo tahu, gue tiga kali tes dan dokter juga gak bisa kasih hasil tes gue karena emang itu gak spesifik.”
Wonwoo melihat sekitar, kafetaria mulai sedikit lenggang karena beberapa mahasiswa telah memulai kelasnya, tidak seperti dirinya dan Soonyoung yang hanya memiliki satu kelas untuk hari ini.
“Lagian lo tahu, gue juga gak terlalu mikirin hasil tes gue—status gue apa, gue gak masalah juga kalau dianggap Beta.” Wonwoo mengambil buku paket Soonyoung dan memasukkannya ke dalam tas miliknya, “like most people who have beta status, mereka justru punya peluang besar di bidang karir.”
Soonyoung mengulurkan pena yang sempat ia keluarkan pada Wonwoo. “Penanya masukin juga.”
Wonwoo meraihnya, sudah tidak banyak mengeluh ketika Soonyoung terus-menerus menitipkan barang keperluan kuliah kepadanya, sahabatnya tidak pernah membawa tas sendiri, Wonwoo adalah tas berjalan yang ia punya, itu yang dikatakan Soonyoung ketika Wonwoo mengeluh tentangnya, apalagi mereka hampir selalu memiliki kelas yang sama.
“Tapi kalau kita tahu status dari tes itu juga baik, bisa buat jaga-jaga ke depannya” Soonyoung akhirnya memilih meminum es krimnya langsung dari cup karena telah mencair sepenuhnya, “misal kalau lo tiba-tiba rut atau heat 'kan bisa jadi masalah juga.”
Wonwoo memutar bola matanya jengah. “Kalau semisal hasilnya masih sama gimana?”
Soonyoung menghembuskan napasnya lewat mulut, menatap Wonwoo dengan sedikit rasa kesal. “Dicoba dulu, di sana 98% hasil tesnya selalu keluar, kalau pun ada yang kurang akurat, pasti bakal ada tes kedua, walau sebenernya gue juga gak masalah status lo apa..” Soonyoung menyingkirkan cup es krimnya, “tapi hasil tesnya juga 'kan penting buat kita ke depannya.”
“Lo 'kan juga butuh kerjaan—”
Wonwoo berdiri dari duduknya, sedikit membungkuk ketika ia mengusap kepala Soonyoung. “Lo gemes banget kalau lagi cerewet gini, tapi gue lagi gak mood buat dengerinnya..” Wonwoo menggeser kursinya dan meminta Soonyoung mengikutinya, “gue tahu lo khawatir, tapi besok-besok aja gue tesnya, lagian gue masih aman 'kan sampai sekarang?”
Soonyoung meraih tangan Wonwoo yang terulur ke arahnya. “Tapi besoknya tuh kapan?”
Soonyoung menyamakan langkahnya dengan Wonwoo yang berjalan sedikit cepat. “Gue diajak 'kan tapi?”
Wonwoo terkekeh pelan. “Ya.”
Alpha but not Alpha itulah hasil tes keempat Wonwoo yang ia lakukan dua bulan yang lalu di Saffron tanpa sepengetahuan Soonyoung. Ia hanya belum memberi tahu Soonyoung tentang hal ini, karena kejadian ini merupakan salah satu kasus langka yang jarang terjadi.
Alpha but not Alpha, mereka adalah Alpha tapi sebelum mereka bangun, sifat, fisik dan kemampuan tidak terlihat, membuat mereka tampak seperti seorang Beta karena jiwa Alpha mereka masih tertidur. Jiwa Alpha mereka akan bangkit jika mendapatkan stimulasi dari feromon omega yang merupakan Soulmate mereka.
Dan ketika mereka, yang merupakan Alpha but not Alpha, bangkit mereka akan melampaui kemampuan Alpha dominan dan hal itulah yang membuat mereka ditakuti oleh banyak orang, termasuk Alpha dominan sejak mereka lahir yang lebih menghindari pertarungan. Karena jika jiwa mereka, Alpha but not Alpha, telah bangkit, sepenuhnya kemampuan dan fisik mereka akan berkembang pesat.
Tapi Wonwoo masih ragu jika hasil tes yang ia miliki itu akurat, ia tidak mempercayainya begitu saja, terlebih dia sudah melakukan tes lebih dari satu kali dan semua hasilnya tidak menunjukkan statusnya secara spesifik. Jadi ia memilih untuk tidak memberitahu Soonyoung.
Tapi orangtuanya telah mewanti-wanti dirinya untuk lebih hati-hati, terhadap apapun yang akan terjadi kedepannya, salah satunya mungkin rut atau bertemu Soulmatenya.
“Lo habis dari kamar mandi ya?”
Wonwoo berhenti menata bukunya yang berantakan di karpet kamarnya untuk menoleh pada Soonyoung yang masih fokus bermain Stardew Valley di PC-nya.
Soonyoung mengerutkan hidungnya. “Kok bau Wipol ya?”
Soonyoung mengangguk sebelum memutar kursi untuk menghadap Wonwoo. “Iya, tadi perasaan gak ada bau Wipol deh, pas lo masuk kok jadi bau Wipol ya?”
Wonwoo memandang Soonyoung sejenak sebelum mengangkat tangannya bergantian untuk mengendus ketiaknya. “Enggak tuh...” ucapnya menatap Soonyoung, “ya kali gue bau Wipol, ngaco lo.”
Soonyoung menggendikan bahunya dan kembali memutar tubuhnya menghadap PC Wonwoo, kembali fokus pada permainannya. Sepenuhnya mencoba mengabaikan aroma Wipol yang menggelitik hidungnya. Tapi itu hanya bertahan selama lima menit, karena setelahnya ia kembali memutar kursinya dan menghadap Wonwoo yang kini telah menyusun buku-bukunya di rak.
“Ih, beneran tahu bau Wipol.”
Wonwoo memutar bola matanya walaupun masih membelakangi Soonyoung. “Tapi gue gak tuh, hidung lo lagi korslet kali.”
Soonyoung menghembuskan napasnya. “Ish, ini mah beneran gak bohong bau Wipol...” Soonyoung menggosok hidungnya, “udah kayak Wipol tumpah.”
Wonwoo menghela napasnya dan menghadap Soonyoung sepenuhnya. “Tapi gue gak nyium bau Wipol Soonyoung...”
“Tapi beneran gue gak bohong, masa lo gak bisa cium baunya sih? Hidung lo bermasalah ya...”
“Lah malah ngatain,” Wonwoo melempar gumpalan kertas tak terpakai ke arah Soonyoung, “buat apa juga bohong.”
Soonyoung cemberut. “Masa gue doang yang nyium baunya sih...”
Wonwoo menggendikan bahunya. “Ya mana gue tahu,” ia kembali memutar tubuhnya ke arah rak, “lagian cuma bau Wipol 'kan, gak aneh-aneh amat itu...”
Soonyoung mengangguk di balik punggung Wonwoo. “Iya sih...” ia mengakuinya, “wanginya enak...”
Sekarang Wonwoo kembali menoleh. “Enak?”
Soonyoung menggendikan bahunya. “Ih gak tahulah, baunya seger gitu kek Wipol tapi kayaknya bukan Wipol sih, tapi mirip.”
Wonwoo memutar bola matanya, mendengar jawaban dari Soonyoung. “Aneh lo.”
Soonyoung cemberut, pipinya mengembung tapi Wonwoo tetap tidak mencium aroma Wipol, jadi ia hanya menggendikan bahunya dan lebih memilih melanjutkan merapikan buku-bukunya.
Libur semester baru saja dimulai hari ini, Wonwoo memutuskan untuk merapikan bukunya dan memilih yang sudah tidak lagi terpakai, tapi kegiatannya terinterupsi karena kedatangan Soonyoung ke kamarnya dan mengambil alih PC-nya untuk bermain game.
“Lo ngapain dateng kesini? Emang gak liburan ke rumah nenek lo?”
Soonyoung menggeleng, tangan kirinya sibuk menggali toples kripik singkong Wonwoo yang selalu ada di meja belajarnya. “Enggak, Papi sama Mami lagi sibuk jadi gak liburan dulu, lagian males juga kalau pergi sendiri.”
Soonyoung menoleh sejenak, untuk melihat Wonwoo yang kini memilih pena yang tidak bisa digunakan untuk dibuang. “Lo gak liburan?”
Wonwoo menggeleng. “Enggak, Ayah mau ngajarin gue sesuatu katanya,” Wonwoo menatap Soonyoung sejenak, “gue juga 'kan bukan lo yang doyan main.”
“Lo aja yang kutu buku,” Soonyoung menjulurkan lidahnya mendengar ucapan Wonwoo, “beruntung lo punya temen kayak gue, tahan sama lo.”
Wonwoo memutar bola matanya jengah. “Seharusnya gue gak sih yang bilang gitu ke elo, lo beruntung soalnya gue mau temenan sama lo.”
Soonyoung terkikik pelan, melihat wajah kesal Wonwoo, tapi ia tak lagi membalas ucapannya, fokusnya kembali pada permainan komputer.
“Soonyoung, lo ngerasa gerah gak sih?”
Soonyoung menoleh, dahinya berkerut dengan bibir mengerucut, mencoba merasakan suhu tubuhnya sendiri dan suhu kamar Wonwoo terasa dingin karena AC yang menyala. “Enggak tuh, AC lo 'kan nyala.”
Wonwoo tahu akan hal itu, hanya saja ia merasakan bahwa ia sedikit lebih gerah dari biasanya. “Gue tahu, makanya tanya,” Wonwoo melirik jendela kamarnya, “apa mau hujan ya?”
Soonyoung mengangkat bahunya. “Ya gak tahu lo kira gue pawang hujan apa gimana deh...”
Wonwoo mendesah pelan. “Keluar aja yuk? Jalan, cari minum gitu yang seger-seger.”
Wonwoo memutar bola matanya. “Biasanya emang gitu 'kan?”
Soonyoung terkikik lagi, tetapi segera menghentikan permainannya dan mendekati Wonwoo. “Lo mau ganti dulu apa enggak? Gue tunggu di bawah ya?”
Dan Wonwoo hanya mengangguk sebagai balasan, ia hanya akan mengganti kausnya karena gerah.
Wonwoo dan Soonyoung lebih memilih duduk di sudut ruangan dengan AC yang langsung mengarah pada mereka. Setelah berkeliling dengan mobil Wonwoo tanpa tujuan akhirnya keduanya memutuskan pergi ke salah satu coffee shop langganan Wonwoo.
Cuaca hari ini sedikit mendung, terlihat dari awan di langit yang tampak berarak membawa beban, tapi Wonwoo masih merasa gerah, terlihat bulir keringat yang mulai menetes di dahinya.
“Wonwoo lo kepanasan banget ya?”
“Hah?” Wonwoo menoleh, menatap Soonyoung yang terlihat khawatir.
Soonyoung sedikit mengangkat bucket hat yang Wonwoo kenakan untuk mengusap keringat sahabatnya. “Sampai keringetan gini...”
Wonwoo meneguk liurnya, menyadari kedekatannya dengan Soonyoung. “Lo gak lagi sakit 'kan?” Wonwoo menggeleng pelan, sadar bahwa tenggorokannya sekarang benar-benar terasa kering.
Soonyoung masih menatap Wonwoo dari dekat, mencoba mencari sesuatu di wajahnya dan Wonwoo berharap ia tidak terlihat idiot di depan Soonyoung untuk sekarang ini, tiba-tiba ia sangat mempedulikan penampilannya dari biasanya.
Alis Soonyoung terangkat mendengar betapa seraknya suara Wonwoo dan sahabatnya terlihat berdeham setelahnya.
“Lo...” Wonwoo masih bingung mencari kata-kata dalam pikirannya yang terasa kosong.
Wonwoo menatap Soonyoung sejenak, menatap bibir sahabatnya yang tampak lebih merah dari biasanya. “Heat lo gak dalam waktu dekat 'kan?” Ia berbisik pelan, tapi telah memastikan bahwa Soonyoung dapat mendengar ucapannya.
Mata Soonyoung membulat. “Lo...” Soonyoung kehilangan kata-katanya, “lo tahu gue Omega?”
Kali ini dahi Wonwoo berkerut. “Ya iya?”
Yang Soonyoung tahu adalah bahwa Wonwoo belum mengetahui statusnya walau ia sudah melakukan tes DNA, keduanya berjanji untuk saling memberitahu jika keduanya telah mendapatkan hasil tes masing-masing, maka dari itu Soonyoung beberapa kali telah meminta Wonwoo untuk segera melakukan tes agar bisa saling mengungkap status mereka bersamaan. Itulah yang membuatnya terkejut bahwa Wonwoo telah mengetahui statusnya sebagai Omega ketika ia mengonsumsi rumput penghambat, untuk memblokir feromonnya, bahkan seorang Alpha tidak dapat merasakannya. Jadi ia berpikir bahwa Wonwoo hanya mengetahui bahwa ia seorang Beta.
“Se-serius?” Soonyoung tergagap karena terkejut.
Wonwoo mengangguk lagi. “Gue tahu walau aroma lo samar, tapi gue yakin lo Omega.”
Soonyoung menggeleng tanpa sadar. “Seharusnya lo gak bisa cium aroma gue, bahkan orangtua gue gak bisa.”
Dahi Wonwoo berkerut bingung. “Kenapa gitu?”
Soonyoung melirik sekitarnya, coffee shop tampak sepi, mungkin karena cuacanya yang mendung membuat sebagian orang malas untuk keluar rumah dan memilih tinggal di dalam. “Gue pakai rumput penghambat, itu gak memungkinkan buat orang lain bisa cium aroma feromon gue.”
“Tapi gue bisa dan dari lama...” Wonwoo tampak berpikir sejenak, mencoba mengingat, “sebelum lo tes, aroma lo lebih jelas, cuma setelah tes aroma lo emang lebih samar.”
Soonyoung meneguk ludahnya bingung. “Gue emang mulai berhenti konsumsi rumput penghambat karena katanya itu kurang baik juga buat tubuh, tapi bukan berarti gue langsung lepas pakai juga, gue masih konsumsi setiap beberapa hari gitu..” Soonyoung menatap Wonwoo, mencari sesuatu di mata sahabatnya yang tampak kurang fokus, “tapi kenapa lo bisa cium aroma gue bahkan di saat gue sendiri ngeblokir aromanya?”
“Soonyoung..” Wonwoo berbisik serak, “strawberry... lo wangi banget..”
Soonyoung melotot. “Wonwoo lo kenapa deh!” Soonyoung panik ketika sahabatnya menjatuhkan kepalanya di lehernya.
“Wangi banget..” Wonwoo sedikit merancau, “enak..”
Soonyoung menepuk pundak Wonwoo agar sahabatnya segera melepaskan dekapannya. “Anjir..” Soonyoung mengumpat menyadari ia merasakan aroma pewangi khas menyapa hidungnya, “Wonwoo lo beneran bau Wipol..”
Soonyoung yang panik melirik keadaan coffee shop yang masih tampak lengang, tapi sangat menyadari bahwa sebentar lagi tempat ini akan penuh oleh aroma tubuh Wonwoo. “Duh.. kita harus pulang sekarang deh..”
Walau postur tubuh Soonyoung tidak dibangun oleh otot karena dia seorang omega, Soonyoung berusaha berdiri bersama Wonwoo yang masih melekat padanya. Karena sebenarnya walau postur tubuh Wonwoo sedikit lebih besar darinya, bukan berarti Soonyoung tidak bisa menyeret sahabatnya untuk keluar.
“Anjir.. anjir..” Soonyoung mengumpat pelan, “tahu gitu kita gak usah keluar..”
Setelah membanting tubuh Wonwoo ke dalam mobil, Soonyoung menarik napasnya. “Astaga..” ia masih mengeluh, tapi sedikit lega karena berhasil membawa Wonwoo ke parkiran, “ternyata lo bisa juga nyusahin..”
Soonyoung berkacak pinggang setelah menutup pintu penumpang, sebelum berlari menuju kursi pengemudi. Walau sebenarnya ia sangat penasaran sekarang ada apa dengan Wonwoo, ia berpikir bahwa Wonwoo adalah seorang Beta karena ia tidak bisa mencium aroma feromon sahabatnya itu. Tetapi hari ini Wonwoo mengeluarkan aroma seperti Wipol dan sangat tajam menusuk hidungnya.
Hal yang membingungkan Soonyoung selanjutnya adalah bahwa Wonwoo bisa mencium aroma tubuhnya.
Soonyoung mengusap peluhnya yang menetes dari dahinya, ia menarik napasnya perlahan, merasa sedikit berkeringat setelah berhasil membawa Wonwoo ke dalam mobil, ia melirik sahabatnya dari center mirror, tampak meringkuk di sana. Dan Soonyoung kini merasakan tubuhnya panas, seperti gerah mulai merambat di kulitnya, Soonyoung mengusap lututnya gugup, tidak tahu kenapa merasa bagian bawahnya lembab.
Satu hal yang Soonyoung tahu, ia harus segera membawa Wonwoo pulang.
Dua minggu kemudian Soonyoung akhirnya bisa menemui Wonwoo yang telah kembali dari Saffron, dalam seminggu ia bisa melihat perbedaan yang signifikan dari postur tubuhnya yang tampak lebih tegap dari sebelumnya. Kedua netra sahabatnya jika dilihat dari dekat lebih legam dari biasanya dan deep voice Wonwoo benar-benar membuatnya tercengang ketika mendengarnya.
“Won, lo habis tes DNA atau operasi sih?” Tanyanya terlihat cemberut.
“Kenapa emangnya?” Wonwoo menahan sudut bibirnya agar tidak tersenyum melihat Soonyoung merajuk.
Dua minggu terakhir yang Wonwoo takuti adalah bagaimana sikap yang akan ia tunjukkan pada Soonyoung, ia merasa canggung mengingat kejadian terakhir kali, tapi tampaknya sahabatnya hanya peduli dengan keadaanya, terbukti saat Soonyoung segera datang ke rumahnya ketika ia mengirim pesan bahwa ia telah kembali dari Saffron, Soonyoung datang langsung menghambur untuk memeluknya, menanyakan apa dia baik-baik saja.
“Kenapa lo kelihatan beda banget? Mata lo? Suara lo..” Dahi Soonyoung berkerut, “seminggu bisa berubah drastis banget..”
Wonwoo terkekeh pelan, mengusap kepala Soonyoung dengan sayang. “Mungkin karena hasil tes gue udah keluar?”
Mata Soonyoung membulat, rasa terkejut dan senang menjadi satu, senyumnya mengembang. “Beneran? Hasilnya apa?”
“Terus penyebab tes lo selama ini gak keluar itu apa? Ada penjelasan dari dokter spesialisnya gak?”
Wonwoo hanya mengangguk. “Ya.”
“Tapi kita bisa duduk dulu gak sih?”
Soonyoung sadar ketika ia masih berdiri di ambang pintu kamar Wonwoo, ia segera masuk dan duduk bersila di atas ranjang Wonwoo dengan nyaman, menepuk tempat di sampingnya dengan tangannya. “Sini, gue mau denger!”
Wonwoo menggeleng pelan, tidak berpikir bahwa Soonyoung akan terlihat sangat excited terhadap hasil tesnya.
Ketika akhirnya ia duduk di samping Soonyoung, rasa gugup itu perlahan menggerogoti tubuhnya. Berpikir darimana ia harus memulainya, degup jantungnya berpacu seolah menggedor dadanya, mengancam untuk keluar. Wonwoo hanya tidak ingin terlihat aneh dan takut Soonyoung menjauh setelah ia mengatakan kemungkinan yang ada adalah kebenaran yang sebenarnya membuat hasil tesnya tidak pernah keluar.
“Jadi apa?” Soonyoung memulai, kepalanya meneleng menatap Wonwoo di sampingnya.
Bahkan dengan binar di mata itu, tidak mampu meredakan degup jantung Wonwoo yang semakin menggila tentang ritmenya.
“Tapi sebelumnya lo harus janji sama gue dulu..” Wonwoo bisa melihat raut penuh semangat Soonyoung perlahan berganti dengan kebingungan, “lo bisa gak?”
Soonyoung menarik garis tipis di bibirnya, sebelum menepuk paha Wonwoo perlahan. “Oke..” jawabnya, “apapun itu, gue coba asal lo nyaman buat cerita ke gue..”
Wonwoo diam-diam menarik napas lega, sebelum mengusap punggung tangan Soonyoung yang masih berada di atas pahanya. “Gue mau lo dengerin sampai selesai, setelahnya pun gue mau lo gak ngejauh dari gue terlepas lo percaya atau enggak tentang apa yang gue omongin ini..”
Wonwoo menatap Soonyoung yang mengangguk, menarik napasnya perlahan untuk menstabilkan degup jantungnya dan berharap Soonyoung tidak menyadari kegugupannya. “Kenapa hasil tes gue gak pernah keluar karena ini termasuk masalah langka..” Wonwoo memperhatikan Soonyoung yang masih menunggu ucapannya dengan sabar, “gue Alpha but not Alpha ini alasan dokter di sini gak berani ngeluarin hasil tes gue yang uncertain status,” Wonwoo menggigit bibirnya gugup.
Soonyoung berkedip sekali, dua kali. “Hah?“
“Lo Alpha tapi bukan Alpha?” Wonwoo mengangguk sekali lagi, dahi Soonyoung semakin berkerut, “itu maksudnya gimana?”
“Emang itu beneran ada? Yang di buku, yang dijelasin sama guru waktu jaman high school itu beneran ada? Lo?” Soonyoung memborbardir Wonwoo dengan pertanyaan yang sebenarnya sulit ia percaya bahkan sampai detik ini dan Wonwoo hanya mengangguk sebagai jawabannya.
Soonyoung mencubit paha Wonwoo gemas. “Jelasin! Gue udah agak lupa jangan buat gue mikir ya!” Wonwoo mengaduh sebagai respon alami karena rasa sakit yang menyengat pada pahanya.
“Sebentar..” Wonwoo mengusap pahanya sejenak, mengintip reaksi Soonyoung dari balik bulu matanya yang masih menunggu dengan kerutan di dahi, “lo tahu 'kan Alpha but not Alpha ini..” Wonwoo menggigit pipi dalamnya, “Alpha yang belum bangkit, mereka butuh stimulasi buat mereka bangun dan stimulasi itu dari feromon Omega..”
Tanpa sadar Soonyoung menahan napasnya, menebak kalimat yang akan terucap dari belah bibir Wonwoo selanjutnya, sesuatu yang mungkin tidak pernah terlintas dalam benaknya.
“Dan itu berlaku cuma dari Soulmate-nya..”
Netra Soonyoung melebar karena rasa terkejut yang menerpanya, ia mengerjapan matanya, pikirannya seolah kosong, menjadi lapuk dan tak berguna untuk sementara waktu. Keheningan menjadi latar keduanya untuk sesaat, membuat Wonwoo gugup menunggu reaksi Soonyoung.
“Jadi maksud lo itu..” Wonwoo menahan napas, menunggu kelanjutan dari kalimat Soonyoung yang akan keluar berikutnya, “kita Soulmate?”
Hening mengudara. Wonwoo seolah-olah bisa mendengar suara jangkrik sebagai latar belakang keduanya. Walaupun itu hanya sekedar dalam imajinasinya, tetapi suasana cukup canggung baginya. Cukup membuatnya meneguk liurnya susah payah, seolah batu mengganjal dalam tenggorokannya dan jantungnya jatuh ke perut.
Wonwoo mengangguk ragu, setelah mengais nyawanya yang terbang ke udara yang canggung. “Kayaknya sih gitu..” suara Wonwoo terdengar lirih, seolah takut merobek udara di sekitarnya, “unexpected..”
“Woah..” Soonyoung kehilangan kata-katanya, terlihat dari ekspresi wajahnya sekarang ini, “jadi alasan hasil tes lo gak pernah keluar gara-gara..” Soonyoung berhenti setengah jalan.
Jantungnya berdetak tak karuan menyadari kemungkinan yang terjadi, ia mengusap telapak tangannya yang berkeringat pada lututnya sembari mencari kata yang mulai hilang dalam kepalanya.
Wonwoo menghela napasnya melihat reaksi Soonyoung yang kini terlihat bingung dan sama gugupnya dengan Wonwoo, jadi ia mengusap tangan Soonyoung perlahan, mencoba menyalurkan ketenangan pada sahabatnya, walau ia sendiri tengah dilanda perasaan kalut yang sama.
“Soonyoung rileks..” Wonwoo berucap pelan, mencoba meminta perhatian Soonyoung kepadanya, “look at me..” Wonwoo menangkup wajah Soonyoung dengan kedua tangannya, “ini masih kemungkinan aja, lo gak perlu panik atau khawatir..”
Soonyoung menggeleng pelan, terlihat jelas di wajahnya semua kekhawatiran yang ada. “Gak..” Soonyoung berucap, menelan gumpalan di tenggorokannya yang kering, “ini bukan sekedar kemungkinan Wonwoo..”
“Semuanya udah jelas sekarang, gue paham dan ngerti..” Soonyoung menatap wajah Wonwoo yang menampilkan raut khawatir, tapi selalu mencoba menenangkannya, ia merasa tersentuh.
Wonwoo selalu seperti itu dan tidak pernah berubah, di tengah rasa gundah dan kekhawatiran yang Soonyoung alami, Wonwoo selalu mencoba menjadi orang pertama yang membuatnya tenang, walau keadaan keduanya tidak jauh berbeda, tapi Wonwoo selalu berusaha untuk menjadi sumber penenang baginya. Tanpa sadar Wonwoo selalu limpahkan rasa sayang padanya.
“Kenapa hasil tes DNA lo gak pernah keluar, karena lo gak dapet stimulasi dari feromon Omega lo Wonwoo..” Soonyoung terdiam sejenak, “mungkin lo pikir karena kalian belum pernah ketemu, tapi nyatanya gue Omega lo yang mengonsumsi rumput penghambat,” Soonyoung mengigit bibir bawahnya, “gue ngeblokir feromon gue karena alasannya..”
Wonwoo masih menunggu, tapi Soonyoung masih diam dengan jeda yang membuat jantung Wonwoo kembali berdetak karena antisipasi. “Karena apa Soonyoung?” Dan ia mempertahankan wajah Soonyoung untuk terus menatapnya.
“Gue mau kita ungkapin hasil tes kita bersamaan..”
Jika memungkinkan lagi jantung Wonwoo berdetak lebih kencang, mungkin saja ia akan terkena serangan jantung dalam hitungan detik.
“Tapi ternyata aroma gue tetap bisa kecium sama lo walau samar, jadi lo sebenernya udah tahu kalau gue Omega tanpa gue kasih tahu dan lo tetap pilih diam sampai gue sendiri yang ngomong 'kan?” netra Soonyoung bergetar, Wonwoo mengangguk dalam diam, “dan bodohnya gue gak sadar sama hal itu...” Soonyoung menghirup napasnya susah payah, karena rasa sesak yang kini menyapa dadanya.
“Dan waktu gue akhirnya mutusin buat berhenti konsumsi rumput penghambat, lo akhirnya..” Soonyoung hampir menangis tanpa alasan.
Wonwoo yang tidak pernah bisa melihat sahabatnya menangis kini mengusap kepala Soonyoung perlahan dengan tangan kanannya, mencoba menyalurkan ketenangan, sebelah tangannya mengusap pipi Soonyoung dengan ibu jarinya.
“Kenapa lo malah mau nangis deh..” Wonwoo berucap, walau sebenarnya ia sedikit tahu alasan kenapa di sudut netra sahabatnya telah menggenang air mata yang siap tumpah.
Tapi Wonwoo tidak ingin hal itu terjadi, tidak ingin menjadi salah satu alasan Soonyoung menangis, jadi ia menghirup napasnya perlahan sebelum menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. “Lo terharu banget ya?” Ia berucap, memastikan bahwa nada bicaranya bisa kembali menghidupkan suasana diantara keduanya.
“Lo terlalu excited punya Soulmate kayak gue 'kan?”
Mendengar ucapan Wonwoo, membuat Soonyoung terkejut, ia mengerjap pelan sebelum kesadarannya kembali dan menjauh dari Wonwoo, menampik tangan sahabatnya untuk menjauh.
“Idih apaan, najis pede banget lo!”
Wonwoo terkekeh pelan, akhirnya bisa kembali melihat Soonyoung yang ekspresif dan bukan raut wajah sedih yang membuat hatinya sakit tanpa alasan.
“Habisnya lo mau nangis segala..”
Soonyoung cemberut. “Gue tuh ngerasa gak enak tahu, bikin lo telat tahu status lo, padahal gue juga yang selalu minta lo ikut tes DNA”
Wonwoo memutar bola matanya. “Itu juga bukan kesalahan lo, lagian juga kita gak tahu hal ini.”
Soonyoung menunduk, meremat kedua jemari tangannya, melirik Wonwoo dari balik bulu matanya. “Won..”
“Jadi kita beneran Soulmate? Kita?”
Wonwoo menggendikan bahunya dan menopang tubuhnya dengan kedua tangannya yang menjadi tumpuan di belakang punggungnya. “Mungkin?”
“Tapi Won..” Soonyoung kini mendongak, menatap Wonwoo dengan alis yang saling bertaut, “kenapa lo bau Wipol deh...“
Wonwoo mendengus mendengar ucapan Soonyoung, ia bergerak mendekat pada sahabatnya, menyentil dahi Soonyoung dengan jarinya. “Enak aja gue bau Wipol..”
Soonyoung mengaduh pelan. “Terus kalau bukan Wipol apaan dong?”
Wonwoo memutar bola matanya. “Lemon-pappermint, bukan Wipol...”
Soonyoung membuat suara 'Oh' panjang dan mengangguk paham. “Pantesan baunya familiar ternyata kayak Stella Jeruk.”
Wonwoo batuk, terkejut dengan ucapan Soonyoung. “Kok Stella Jeruk sih?” Ia bertanya heran.
Soonyoung mengangguk polos. “Iya, bau lo tuh kayak pewangi ruangan gitu, makanya familiar banget..”
Wonwoo mendorong dahi Soonyoung dengan jari telunjuknya sebanyak dua kali berturut-turut. “Sembarangan banget ngatain feromon gue kayak pewangi ruangan, lo tuh kayak permen karet.”
Soonyoung menampik tangan Wonwoo menjauh, ia memutar bola matanya dan mencibir pelan. “Kata orang yang bilang wangi gue enak!” Soonyoung menjulurkan lidahnya.
Wonwoo membuang pandangannya, ia menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak terasa gatal. “Namanya juga lagi setengah sadar..” ucapnya pelan menekan rasa canggung.
Soonyoung mendekati Wonwoo, mengincar atensi sahabatnya, menyerang ruang pribadi Wonwoo. “Jadi secara gak langsung gue bisa bikin lo horny ya?”
Wonwoo bergeser, menghindari kontak dengan Soonyoung. “Itu..” Wonwoo tergagap, “naluri Soonyoung, gue juga gak sadar sepenuhnya..”
Soonyoung tersenyum lebar saat Wonwoo terus-menerus menghindari tatapan matanya. “Tapi lo tegang 'kan?”
Wonwoo memutar matanya, kemudian bergerak untuk mendorong bahu Soonyoung menjauh, memberi jarak keduanya. “Lo diem deh, gak usah mancing-mancing.”
Soonyoung terkekeh geli, sepenuhnya melupakan perasaannya beberapa waktu lalu yang merasa canggung dengan Wonwoo. “Kenapa?” Ia bertanya, kembali mengambil ruang Wonwoo, “tegang?”
Wonwoo menghela napasnya, yakin bahwa sahabatnya akan terus seperti ini untuk waktu yang lama. Alih-alih menghindar seperti sebelumnya kini ia menarik pinggang Soonyoung ke arahnya, membuat sahabatnya itu memekik kaget. “Kalau iya, lo mau bantuin gue?”
Wonwoo mencoba memberikan senyum paling menawan yang ia bisa, tangannya perlahan mengusap garis tali celana Soonyoung, mencoba memprovokasi.
“Yang di bawah butuh banget perhatian.”
Wonwoo memiringkan kepalanya, mengabaikan netra Soonyoung yang terlihat akan keluar dari tempatnya, diam-diam ia menahan diri untuk tidak tertawa. “Atau kita mulai dulu dari ciuman? Sapaan buat Soulmate mungkin?”
Bibir keduanya hanya beberapa inchi untuk saling bertemu, tapi Wonwoo tetap mempertahankan diri untuk terus menggoda sahabatnya yang kini tegak seperti patung.
Soonyoung mengerjap, berteriak detik berikutnya, membuat Wonwoo berjengit kaget dan menjauh. “Kenapa teriak sih?”
Soonyoung meninju bahu Wonwoo, cukup keras hingga membuat sahabatnya mengaduh. “Lo tuh apa-apaan sih?!” Seru Soonyoung kesal.
Sadar dengan wajah Soonyoung yang mulai memerah hingga telinga dan leher, membuat Wonwoo terkekeh. “Lo duluan yang mancing, giliran diambil umpannya panik.”
Soonyoung mendengus kesal. “Ya tapi lo keterlaluan banget..” Soonyoung mengeluh, bibirnya mengerucut.
Alis Wonwoo terangkat. “Emang lo enggak?” Ia bertanya, “lo tahu gak sih kalau semisal gue tegang beneran gimana?”
Soonyoung mendongak melihat Wonwoo yang juga tengah menatapnya. “Kalau gue lepas kontrol gimana? Lo tahu sekarang kita cuma berdua dan ini di kamar gue?”
Soonyoung menggeleng dengan polos, membuat Wonwoo menghela napasnya.
“Emang perkara begituan bisa beneran tegang?”
Pertanyaan polos Soonyoung membuat Wonwoo memutar matanya, ia menghela napasnya untuk sekian kalinya sebelum kembali berbicara. “Perkara cuma nyium feromon lo aja gue kemarin bisa lepas Soonyoung, apalagi sekarang feromon lo sama gue udah berbaur jadi satu di kamar gue dan lo malah mancing gue kayak gitu. Lo pikir itu bukan hal yang gak mungkin?”
Soonyoung mengigit pipi bagian dalamnya, merasa bersalah kembali. “Sorry..“
“Udah gak usah minta maaf..” Wonwoo mengusak rambut Soonyoung gemas, “kesannya lo udah jatuh cinta sama gue..”
“Idih...” Soonyoung refleks menjauh, “GeEr* banget, dih..” Soonyoung mendorong wajah Wonwoo dengan tangannya yang kecil, “lo tuh udah gue anggap BF tahu..” ia mencibir pelan, “rasanya masih agak aneh tahu kalau lo itu Soulmate gue..”
Alis Wonwoo terangkat. “BF?”
Soonyoung mengangguk mantap. “Iya, BF gue.”
Soonyoung melotot, mencubit lengan Wonwoo dengan ganas. “Best Friend!“
Wonwoo tertawa dan terus menghindar dari cubitan Soonyoung yang bertubi-tubi, mencubit kulitnya yang bisa tersentuh oleh jari-jari gemuk Soonyoung.
Masih ada sisa tawa di wajah Wonwoo, membuat Soonyoung mendidih. “Habisnya lo rese banget sih! Ngeledek banget jadi orang! Bikin bete!”
Wonwoo mencoba berhenti tertawa setelah berhasil menahan kedua pergelangan tangan Soonyoung. “Oke-oke, sorry..” ucapnya di sisa tawanya, Wonwoo bisa merasakan sudut matanya berair karena tawa.
Ia melepaskan tangan Soonyoung setelah meminta sahabatnya berjanji tidak akan mencubitnya lagi. Dan Soonyoung segera mengambil jarak dari Wonwoo, tatapannya masih terlihat kesal dan juga malu.
Wonwoo dengan sabar masih mengikuti Soonyoung yang berjalan di depannya, kini keduanya tengah berada di taman hiburan, ide Soonyoung untuk menghabiskan waktu liburan. “Mau kemana lagi?”
Soonyoung berhenti, memutar tubuhnya ke arah Wonwoo. “Naik roller coaster yuk!”
Wonwoo bersedekap, memandang Soonyoung penuh pertimbangan. “Emangnya berani?”
Soonyoung mendengus. “Berani dong!” Soonyoung menepuk dadanya, “gak ada tuh yang bikin nyali gue ciut.”
Wonwoo melirik arena roller coaster yang tidak jauh dari tempat mereka sekarang. “Tapi antriannya panjang banget..”
Soonyoung memutar bola matanya. “Katanya Soulmate, kok berjuang dikit aja gak mau?”
Sebelah alis Wonwoo terangkat mendengar ucapan Soonyoung, ia menarik sudut bibirnya. “Katanya Soulmate, kok belum pernah ciuman?”
Soonyoung melotot mendengar ucapannya dibalik oleh Wonwoo, terlebih pertanyaan yang mengikutinya. “Wonwoo kok lo gitu sih?”
Wonwoo berjalan perlahan mendekat ke arah Soonyoung, ia menunduk sedikit, mensejajarkan pandangan keduanya. “Enggak boleh?” Wonwoo menatap bibir Soonyoung, “kan gue cuma tanya?”
Soonyoung menjauh, menyadari kedekatan keduanya. “Ya gak gitu juga dong!”
“Gak gimana-gimana, kita naik roller coaster.”
Wonwoo mendesah pelan. “Tapi gue minta syarat boleh?”
“Apa syaratnya?” Soonyoung bertanya kesal, memandang Wonwoo yang menatapnya remeh.
“Ih apaan! Masa begitu?” Ia berseru kesal.
Wonwoo terkekeh melihat reaksi Soonyoung yang sudah seperti kepiting rebus. “Gak berani 'kan?”
Soonyoung berdecak telah kehabisan argumen. Bukan perkara berani atau tidaknya, ia hanya tidak sanggup menanggung malu setelahnya. Ia tidak pernah membayangkan dirinya dan Wonwoo adalah Soulmate. Saat keduanya diposisikan sebagai pasangan hidup, membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih, terutama ketika Wonwoo tidak sengaja fokus pada bibirnya ketika ia berbicara, atau ketika Wonwoo yang sering mengusap lengannya ketika Soonyoung merasa cemas akan sesuatu, jantungnya akan berdetak sangat kencang, membuatnya khawatir jantungnya akan keluar dari rongga dadanya jika itu memungkinkan. Membayangkan sesuatu yang romantis dengan Wonwoo hanya membuatnya malu di sekujur tubuh, tetapi Wonwoo tidak pernah berhenti untuk terus menggodanya dan Soonyoung hampir frustasi.
Soonyoung menarik tangan Wonwoo, membawa mereka menjauh dari keramaian. Tidak ingin percakapan keduanya didengar oleh orang-orang, lalu menjadi pusat perhatian.
Wonwoo bertanya ketika mereka berhenti, ia masih bisa melihat wajah Soonyoung yang memerah, entah karena malu atau karena matahari pagi yang mulai terasa menyengat kulit.
“Wonwoo..” Soonyoung berucap pelan, ia menatap kedua sepatutnya seolah-olah itu adalah salah satu alasannya masih bisa bernapas sampai sekarang ini.
“Soonyoung gue di depan lo, kalau ngomong lihat gue, di depan lo bukan di bawah..”
Soonyoung mendesah pelan sebelum akhirnya mendongak, ia menggigit bibirnya, merasa ragu sejenak dan jantungnya bertalu-talu di dadanya. “Wonwoo..”
“Iya, kenapa Soonyoung?” Wonwoo masih sabar ketika Soonyoung hanya terus memanggil namanya.
Bibir Soonyoung terlipat, terasa kering karena gugup. “Do you really want to kiss me?” Ucapnya lirih, kakinya tanpa sadar membuat pola abstrak di paving block karena gugup.
Wonwoo jelas terkejut, tidak menyangka pertanyaan itu keluar dari Soonyoung.
“Do soulmates have to kiss each other?” Soonyoung melanjutkan, kali ini kembali menunduk karena tidak sanggup menatap mata Wonwoo.
Melihat itu membuat Wonwoo terenyuh, ia dengan sadar mengusap kepala Soonyoung dengan sayang. Menyadari bahwa Soonyoung sangat memikirkan perasaannya, tapi sebenarnya Wonwoo tidak akan pernah memaksakan hal itu, dia hanya suka melihat Soonyoung frustasi dan wajahnya memerah karena malu, itu terlihat lucu dan Wonwoo merasa sangat sayang. Mungkin tanpa disadari oleh Wonwoo ia telah jatuh hati lebih dulu pada sahabatnya yang manis.
“I might want to kiss you, but I won't force it.” Wonwoo tersenyum lembut, mencoba meredakan kegelisahan Soonyoung yang terpancar dari sorot matanya.
“Not before I make you fall in love with me..” Wonwoo tersenyum melihat Soonyoung yang sangat diam dan kembali menunduk. 'maybe because i have been whipped..' lanjut Wonwoo di dalam hatinya, tidak akan mengucapkannya dengan lantang di hadapan Soonyoung.
Soonyoung tidak akan pernah membayangkan bahwa Wonwoo akan berbicara seperti itu, sesuatu di luar dugaannya, dan itu membuat jantungnya terus berdetak kencang, ia khawatir bahwa Wonwoo bisa mendengarnya.
“Jadi masih mau naik roller coaster gak?” Wonwoo bertanya, mencoba mengalihkan topik, mencoba membuang suasana canggung di antara mereka, “mau antri dulu?”
Soonyoung menggeleng pelan. “Kita pulang aja ya?”
Wonwoo bingung. “Loh, kenapa? Soonyoung gak usah terlalu dipikirin...” ia sekarang mulai panik, tidak ingin membuat Soonyoung tidak nyaman karenanya, “beneran itu bukan apa-apa, gak masalah kok kalau lo emang belum siap, kita masih punya banyak waktu..”
Wonwoo mencari kata-katanya. “Take it slow, I will make you fall in love with me, if you can't, I will only make you feel comfortable by my side..”
Soonyoung menggeleng pelan dan Wonwoo hampir terkena serangan jantung jika ini berarti penolakan dari belahan jiwanya.
“Bukan..” Soonyoung mendongak dan Wonwoo melihatnya hampir menangis, “gue takut kalau kita di sini terlalu lama jantung gue bakalan copot..”
Soonyoung menggoyangkan tangan Wonwoo, meminta untuk direspon. “Pulang aja ya?”
Wonwoo berkedip beberapa kali sebelum sadar akan satu fakta bahwa ia sangat ingin memeluk Soonyoung saat ini, karena sahabatnya, ralat belahan jiwanya, sangat menggemaskan.
“Soonyoung can I hug you, just a few seconds, please..”
Mungkin keduanya terlalu acak dan sangat tidak bisa ditebak, tapi mereka sepenuhnya menyadari bahwa mereka cocok satu sama lain.
Dan Soonyoung lemah terhadap Wonwoo yang berbicara lembut seperti ini, terutama ketika ia memohon meminta sesuatu darinya, jadi ia mengangguk dan secepat itu ia merasakan dekapan Wonwoo yang hangat dan nyaman.
Menyadari bahwa ia sangat beruntung memiliki Wonwoo di sisinya. Dan mungkin saja tidak butuh waktu lama baginya untuk menyerahkan segalanya pada Wonwoo termasuk hatinya.
Tapi Soonyoung hanya ingin menikmati ini secara perlahan, seperti kata Wonwoo mereka masih memiliki banyak waktu. Tidak perlu terburu-buru dan membuat keduanya canggung, mereka hanya perlu mengikuti arus dan menikmati setiap detiknya sebagai pasangan, sebelum mereka benar-benar menginjak dewasa.
Dan dekapan beberapa detik ini adalah awal bagi keduanya, sesuatu yang tidak terduga tidak selamanya berarti hal buruk.
A/N : Untuk prompter : Saya tidak tahu ini termasuk ke dalam komedi atau tidak, karena saya tidak benar-benar menguasai bidang ini, hanya saja telah mencoba fokus pada ABO dan fluff dan beberapa point yang tertulis di dalam prompt. Saya berusaha semaksimal yang bisa saya lakukan, jika masih banyak kekurangan di dalamnya mohon untuk dimaklumi. Terima kasih.
Untuk sumber referensi: December (Tentang rumput Penghambat) ABO (secara acak mendapatkan informasi seiring pengalaman membaca, terlalu banyak sumber sehingga tidak dapat mengingatnya secara spesifik)
Sekilas info : Rumput Penghambat memiliki fungsi seperti Suppressant untuk menekan feromon tapi efeknya hampir sama dengan Scent Blocker yang lebih efektif. Rumput Penghambat sulit didapatkan, sehingga perlu pesanan khusus.