Berbagi Cerita Kopi dengan Satya Sandida
Sumber: http://news.acaraapa.com/berbagi-cerita-kopi-dengan-satya-sandida/
Acaraapa.com, Malang – Kopi merupakan salah satu minuman yang paling tua dan salah satu yang paling populer di dunia. Dengan budaya dan sejarah yang dibawanya kopi memiliki cerita panjang untuk sampai ke dalam mulut anda. Kopi pertama kali ditemukan sekitar 3000 tahun lalu oleh orang Ethiopia. Ada beberapa jenis kopi yang ada di dunia namun hanya dua jenis kopi yang paling populer yaitu arabica dan robusta. Setiap jenis kopi memiliki karakteristik aroma, rasa dan khasiat bagi kesehatan yang terbukti secara medis.
Indonesia merupakan negeri yang kaya akan tanaman, tanaman apapun bisa tumbuh dan hidup di tanah nusantara, begitu juga kopi. Indonesia memiliki beberapa jenis kopi yang cukup populer dan digemari di dunia kopi Internasional, hal ini dimanfaatkan dengan baik oleh para pebisnis lokal dengan tumbuh dan menjamurnya coffee shop di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Malang, Jogja, Solo, dan beberapa kota besar di luar pulau Jawa. Meski warung kopi pinggir jalan tetap menjadi pilihan yang bagi sebagian besar masyarakat kita, namun coffee shop yang menjual kopi dengan kelas premium tetap memiliki pasar sendiri dan mengalami progres yang signifikan terutama beberapa tahun belakangan seiring dengan pemahaman masyarakat tentang kopi.
Mungkin sudah lumrah kita jumpai warkop atau kedai kopi di pinggir jalan yang menjual kopi sachet, ada juga yang jualan kopi menggunakan sepeda, tapi kalau ada yang jual kopi menggunakan sepeda kayuh dengan menawarkan kopi premium serta menggunakan metode seduh manual brewing, masih jarang kita dengar kan? Di kota Malang ada seorang pemuda yang melakukanya, ialah Satya Sandida, seorang pemuda dengan optimisme tinggi dan kemauan yang keras, menerapkan pola bisnis kopi yang “belum biasa” ini di Malang, pada awal perjalananya ke dunia kopi. Selama hampir satu tahun Satya menjajakan dagangan kopinya secara nomaden atau berpindah pindah, sesuai dengan nama yang diusung untuk produk kopinya “Nomaden Coffee” awalnya mendapat tantangan besar dari warung-warung kopi sachet yang menjual kopi dengan harga secangkir dua ribu hingga lima ribu rupiah, sementara kopi yang dijual Satya adalah kopi dengan bahan baku premium yang harganya selisih beberapa ribu rupiah, namun masih jauh lebih murah jika dibandingkan dengan harga secangkir kopi di cafe cafe di Malang.
Sebagai penjual kopi yang paham betul tentang sejarah budaya dan pengolahan kopi, Satya bukanlah tipikal bisnisman yang hanya mementingkan keuntungan semata. Ada sisi edukatif yang diterapkan dalam menjalankan bisnisnya. Menurut satya yang kini sudah membuka sebuah coffe shop kecil di bilangan Jl. Basuki Rahmat Malang, “Banyak cara dan metode untuk menyeduh kopi, baik manual brewing, hingga menggunakan coffe machine. Untuk menciptakan secangkir kopi yang enak, seorang barista (peracik kopi) yang baik harus memahami kualitas biji dan proses kopi itu sendiri, mulai dari proses tanam, pasca panen, roasting atau pemanggangan biji, dan brewing atau penyeduhan kopi hingga sampai kedalam cangkir dan bisa dinikmati oleh customer” ujar Satya. Dengan pengetahuan dan wawasan yang luas tentang kopi Satya berusaha menjelaskan pada pengunjung coffee shop-nya agar pengetahuan yang benar tentang kopi menyebar luas. Coffee shop yang dibuka Satya dengan nama District Coffee bisa jadi referensi bagi pecinta kopi dengan metode seduh manual brewing terutama jika ingin belajar, berbagi ilmu serta cerita tentang kopi dengan suasana santai.